sejarah dan peran iai

24Sep08

Kearifan-ketrampilan lokal dan kehadiran master-builders tradisional macam undagi di Bali makin hari makin menghilang. Ini gejala umum yang terjadi dimana-mana. Tentu ada perhatian khusus bisa diberikan untuk masalah ini, tetapi tidak bisa dihindari bahwa arus utamanya adalah gerak para arsitek dengan latar belakang pendidikan formal, dengan berbagai sistem nilai dan perangkat kerjanya. Kemudian, organisasi pendidikan dan asosiasi profesi menjadi bagian yang saling melengkapi dalam memunculkan calon-calon arsitek baru secara terus menerus.

Praktik arsitek lokal

Munculnya para arsitek baru itu sudah dimulai sejak jaman Belanda, dimana para perancang bangunan adalah insinyur-insinyur militer. Hal yang mudah dimengerti karena saat itu banyak dibangun bangunan untuk kepentingan militer dan pertahanan. Kemudian pada akhir abad 19 mulai muncul arsitek-arsitek dari kalangan sipil yang berasal dari Kantor Pekerjaan Umum (Burgelijke Openbare Werken – BOW); mereka dikenal sebagai kelompok arsitek BOW. Sekitar tahun 1921 BOW berubah menjadi Landsgebouwdienst, sebuah lembaga pemerintah yang kemudian sangat berpengaruh dalam membentuk wajah kota-kota di Indonesia.

Sementara itu mulai muncul juga kiprah para arsitek privat, salah satunya adalah PAJ Moojen di Bandung. Pada awal tahun 1900-an, berdatangan arsitek dari Belanda antara lain Wolff-Schoemacher, MacLaine Pont dan Karsten, sampai puncaknya arsitek Hendrik Petrus Berlage pada tahun 1923. Hal ini mencerminkan banyaknya pembangunan di masa itu, yang dinyatakan juga dengan banyaknya tenaga lokal yang dicari untuk memenuhi kebutuhan tenaga trampil membantu para insinyur. Tenaga lokal ini kemudian bisa naik pangkat menjadi pengawas pembangunan (opzichter). Menurut catatan yang ada, Aboekasan Atmodirono (1860-1920), lulusan Sekolah Teknik Menengah Jurusan Bangunan, berhasil mencapai jenjang itu dan kemudian dikenal sebagai arsitek pribumi pertama. Setelah itu muncul R.Abikoesno Tjokrosoejoso, seorang insinyur bangunan otodidak lokal pertama yang berhasil lulus mendapat ijin praktik sebagai arsitek melalui ujian BOW.

Periode tahun 1930-an dipengaruhi oleh depresi dunia internasional, disusul dengan pecahnya Perang Dunia 2 pada tahun 1939. Jepang mendarat di Indonesia tahun 1942, dan sejak saat itu, sampai perang kemerdekaan, situasi pembangunan dan arsitektur di Indonesia berantakan.

Pada sekitar tahun 1949, perancang kota Ir.Jac.Thijsse bersama arsitek Mohammad Soesilo dan F.Silaban merintis pendidikan arsitektur. Tanggal 24 Oktober 1950 secara resmi berdiri pendidikan tinggi arsitektur (bouwkunde afdeeling) di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung –sekarang ITB.

Pada tahun 1958 lulus generasi pertama arsitek Indonesia. Semuanya berjumlah 17 orang. Para sarjana baru ini mengalami masa pendidikan yang sulit sejalan dengan gejolak pasca revolusi, dan hal ini dianggap memberi pengaruh cukup besar bagi pembentukan sikap para arsitek Indonesia pertama ini. Pembicaraan yang ramai adalah mengenai pilihan sikap dalam berpraktik. Dikatakan bahwa saat itu mereka sudah membicarakan tentang pilihan-pilihan yaitu, pertama, mereka dapat menjadi profesional sebagai arsitek praktisi, kedua, pilihan menjadi pengajar atau birokrat, dan yang ketiga adalah bekerja sebagai kontraktor atau developer. Pada masa itu, kegiatan rancang-bangun lazim dilakukan oleh aannemer (pemborong), yaitu kegiatan merencana dan membangun menjadi satu kesatuan dan dilakukan oleh satu pihak. Pada masa kini lazim disebut design & build.

Pengaturan profesi konstruksi sempat dikendalikan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Pada tahun 1959 departemen ini menyelenggarakan sebuah konperensi nasional dan mendeklarasikan berdirinya GAPERNAS (Gabungan Perusahaan Nasional) sebagai asosiasi nasional untuk firma design dan konstruksi. Konperensi ini juga dihadiri oleh sejumlah arsitek yang berkarir diberbagai bidang pekerjaan.

Para praktisi arsitek merasa sangat kecewa dengan pembentukan asosiasi tersebut. Apalagi, para arsitek ini yakin bahwa profesionalisme dunia kerjanya dilandasi oleh tanggung jawab moral dan harga diri yang tinggi, tidak sekedar berorientasi pada keuntungan. Asosiasi baru ini juga dianggap hanya mengatur perusahaan dan tidak pada individunya, sehingga tidak cocok untuk para arsitek.

Soehartono Soesilo dan F.Silaban yang hadir pada acara itu tidak dapat berbuat banyak. Tetapi kemudian keduanya mengundang para sejawat arsitek untuk mengadakan konperensi khusus bagi arsitek. F.Silaban mengundang para arsitek senior dan Soehartono Soesilo mengajak para arsitek muda lulusan pertama ITB.

Lahirnya Ikatan Arsitek Indonesia

Dapat dikatakan bahwa lahirnya Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dipicu oleh rasa kecewa dan ketidakpuasan arsitek terhadap cara kerja a la aannemer pada masa itu, serta keinginan bahwa visi dan misi ideal arsitek sebagai profesional harus ada wadahnya.

Konperensi arsitek pertama akhirnya terwujud di Bandung pada tanggal 16 dan 17 September 1959. Ada 21 orang arsitek berpartisipasi, yaitu 3 senior F.Silaban, Mohammad Soesilo dan Liem Bwan Tjie, serta 18 arsitek muda ITB dari angkatan 1958 dan 1959. Konperensi hari pertama dilakukan di rumah keluarga Liem Bwan Tjie di Jalan Wastukencana, Bandung. Pertemuan hari kedua kemudian dipindahkan ke sebuah restoran di sebelah utara Bandung bernama Dago Teahouse.

Pada akhir konperensi diresmikan berdirinya IAI dan sebuah draft anggaran dasar organisasi yang juga merumuskan tujuan ideal pembentukannya, diwujudkan dalam dokumen pendirian bertajuk Menuju Profesi Arsitektur Indonesia yang Sehat. Intinya adalah tujuan untuk memperbaiki nilai-nilai arsitektur, kerjasama dengan berbagai pihak temasuk masyarakat pengguna arsitek, serta meningkatkan hak dan tanggungjawab arsitek.

Suhartono Soesilo terpilih menjadi ketua pertama Board of Governors dan F.Silaban menjadi ketua Board of Architects (mungkin saat ini setara dengan Pengurus Nasional dan Dewan Keprofesian). Pembentukan IAI ini menjadi langkah pertama dalam mengatur profesi arsitek di Indonesia.

Banyak kendala dijumpai pada awal perjalanan IAI. Industri konstruksi dan praktik profesional tidak dapat berkembang secara optimal. Belum ada peraturan tentang profesi arsitek. Yang sudah ada barulah sebatas sistem perhitungan honorarium yang diterbitkan oleh Dewan Arbitrase Teknik Indonesia (DATI). Sistem ini merupakan translasi dan revisi atas peraturan serupa oleh IRTA (Indonesische Raad voor Technische Arbitrage / Dewan Indonesia untuk Arbitrase Teknik) yang diterbitkan lebih dahulu pada 8 Juni 1951.

Secara umum dapat dikatakan bahwa tahun-tahun awal itu bukanlah masa yang baik untuk perkembangan sebuah organisasi profesi.
Rapat Anggota IAI pada tanggal 12-13 September 1970 memilih kembali Suhartono Soesilo sebagai ketua IAI yang baru. Pada tahun itu juga IAI mengirim beliau sebagai wakilnya ke ARCASIA Council Conference di Singapura, dan sejak saat itu IAI menjadi anggota ARCASIA dan mulai berkiprah dipergaulan internasional. Pada tahun 1974, IAI memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta karena dianggap lebih strategis dan dapat mempercepat tercapainya tujuan IAI. Hal ini kemudian diikuti dengan penggantian logo IAI yang disayembarakan untuk anggota dan dimenangkan oleh Yuswadi Saliya.

Membangun kepranataan profesi arsitek

Pada tanggal 30 November 1974, Gubernur Jakarta Ali Sadikin menerbitkan peraturan tentang Surat Ijin Bekerja Perencana (SIBP). Ini merupakan peraturan lokal pertama yang mengatur bagaimana arsitek berpraktik di Jakarta, dan sampai sekarang peraturan yang sama masih tetap berlaku.

Tahun 1999, 40 tahun setelah berdirinya IAI, terbit sebuah peraturan nasional yang berkait erat dengan pekerjaan arsitektur yaitu Undang-Undang No.18/1999 tentang Jasa Konstruksi. Peraturan baru ini adalah yang pertama dan mengatur tatacara kerja sama pihak-pihak dalam suatu pekerjaan konstruksi, termasuk arsitek sebagai salah satu pihak. Walaupun belum dapat dikatakan bahwa Undang-Undang ini membawa perbaikan bagi profesi arsitek, tetapi cukup berpengaruh dalam hal pengakuan kompetensi yang diwujudkan dalam kewajiban para arsitek memiliki sertifikat keahlian.

Peraturan tersebut disusul kemudian dengan Undang-Undang No.28/2002 tentang Bangunan Gedung, dan Menteri Pekerjaan Umum menerbitkan Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara pada tahun 2002 (diperbaiki pada tahun 2007). Sementara itu sejak tahun 2000, melalui Keppres No.18, berlaku peraturan tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah (diperbaiki kemudian menjadi Keppres No.80 tahun 2003).

Dari sekian banyak peraturan yang sudah terbit, pada pokoknya baru mengatur persyaratan dan tatacara kerja pihak-pihak (Undang-Undang Jasa Konstruksi) serta mengatur obyek pekerjaannya sendiri (Undang-Undang Bangunan Gedung). Belum ada peraturan setara Undang-Undang yang mengatur pelaku jasa konstruksinya. IAI mewakili para arsitek dan masyarakat arsitektur pada umumnya menganggap sudah saatnya Indonesia memiliki sebuah Undang-Undang Arsitek seperti kelaziman yang terjadi di dunia. Maka sejak awal tahun 2000-an IAI secara berkesinambungan terus mengusahakan terbitnya Undang-Undang Arsitek.

Selain itu juga muncul kesepakatan-kesepakatan Internasional. Union Internationale des Architectes/International Union of Architects (UIA) berhasil mensepakati pedoman pengaturan dan praktik profesi arsitek. Pedoman ini digunakan oleh seluruh negara, termasuk Indonesia, sebagai dasar untuk menyetarakan pendidikan arsitektur dan standar profesionalisme arsitek. Tahun 2007 kemarin juga sudah ditandatangani ASEAN Mutual Recognition Arrangement (ASEAN MRA), sebuah kesepakatan tentang pengaturan kerja lintas batas di lingkungan negara-negara ASEAN.

Dalam organisasi IAI sendiri juga membangun berbagai pranata baik bagi anggotanya sendiri maupun yang diharapkan dapat berlaku secara umum. Beberapa diantaranya adalah Kode Etik dan Kaidah Tata Laku, Pedoman Hubungan Kerja antara Arsitek dengan Pemberi Tugas, termasuk didalamnya perhitungan honorarium, Pedoman Penyelenggaraan Sayembara, Program Sertifikasi, Penataran Keprofesian berstrata, dan penghargaan IAI Award.

Terbitnya peraturan-peraturan tentang profesi arsitek bisa dilihat sebagai sinyal positif dan pengakuan terhadap peran dan posisi arsitek. Hal ini juga sejalan dengan cita-cita pendirian IAI dulu yaitu menuju tercapainya profesi arsitektur yang sehat. Organisasi modern memerlukan peraturan, dan berjalannya sistem sosial lain saling berjalin saling mendukung. Kalau kecenderungan umum ini berlaku maka tidak lama lagi dunia arsitektur di Indonesia akan membutuhkan lebih dari IAI dan Undang-Undang Arsitek, tetapi juga organisasi kolateralnya, antara lain lembaga (independen) akreditasi pendidikan arsitektur, asosiasi perguruan tinggi arsitektur, dewan arsitek, dan mungkin sampai ikatan mahasiswa arsitektur Indonesia.

Seandainya tajuk pendirian IAI dulu diinterpretasikan untuk saat ini mungkin bunyinya menjadi Towards Good Governance in Architecture Practice. Sebuah mimpi indah tentang keadaan dimana para arsitek Indonesia berlomba membuat karya yang baik dan indah, berlaku etis, tidak saling menjatuhkan, dihargai oleh masyarakatnya dan memperoleh honorarium yang layak. Masih sebuah kerja keras yang panjang untuk mewujudkannya.

Sumber bacaan utama:
- Buku sejarah IAI, Perkembangan arsitek sebagai profesi dan lahirnya Ikatan Arsitek Indonesia, IAI Jawa Barat, 1995
- Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan Arsitek di Indonesia, Parmono Atmadi et al, Gadjah Mada University Press, 1997
- Bunga Rampai Pemikiran, Aswito Asmaningprodjo et al, Departemen Arsitektur ITB, 2003



4 Responses to “sejarah dan peran iai”

  1. mau nebeng kasih comment : semoga IAI bisa gencar juga di kampus2 ya, pengenalan terhadap organisasi sejak dini, dan ikut bantu mengadakan kerja2 praktek untuk mahasiswa arsitektur jaman sekarang yang lulus cuman 4-5 thn…prematur sekaali.

    Pak Endy bikin blog?
    bagus pak blog nya, dan secara langsung memberi ilmu banyak pada orang lain, aku juga ada blog pak “http://imascorgan.blogspot.com/” tp gak ngarsitektur pak, blognya daily activities gitu, itu pun jarang2 aku isi hehehe, awalnya rajin, lama2 jadi malas.

    nanti aku sebarin yah ke temen2ku biar blog bapak banyak dibaca orang, oya pak aku dukung lho bapak di pemilihan ketua IAI sukses deh b pak Endy….caio Pak Endy!!!

  2. 2 e

    @ imas: terima kasih sudah mampir dan kasih dukungan. terima kasih juga dah mau bantu nyebarin info ke temen2 lain .. yg penting bukan hanya pengenalan organisasi iai-nya, tetapi apa yang bisa dikasih iai untuk membantu anggotanya berpraktik .. hehehe .. bentar lagi mungkin saya tulis disini program kampanye saya untuk iai kedepan ..
    salam, e.

  3. 3 Thomas W.W

    terimakasih sudah dapat pelajaran berdirinya IAI, soalnya di kampus dulu tidak di ajarin tentang sejarah ini.
    sekalian mau tanya. kalau sudah ada IAI kenapa sekarang ada juga AMI.mohon infonya untuk sekedar menambah wawasan.
    salam dan terimakasih

  4. 4 e

    @ thomas: yang satu asosiasi profesi, yang satu lagi bukan.

    terima kasih sudah mampir. salam, e.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: