liem bwan tjie | arsitek modern

03Dec09

saya mendapat kiriman copy artikel tentang arsitek lim bwan tjie yang ditulis oleh handinoto, dosen universitas petra surabaya, yang dimuat dalam jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 32, No. 2, Desember 2004. menurut saya artikel ini menarik dan cukup lengkap dengan sumber-sumber tulisannya. format tulisan saya edit dan jumlah gambar dikurangi agar sesuai untuk blog. terima kasih pak handinoto sudah mengijinkan saya meletakkan artikelnya disini ..

LIEM BWAN TJIE
ARSITEK MODERN GENERASI PERTAMA DI INDONESIA (1891-1966)

Handinoto
Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra
E-mail: handinot@peter.petra.ac.id
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 32, No. 2, Desember 2004: 119 – 130

PENDAHULUAN

Seperti juga halnya dengan banyak bekas koloni negara Eropa di Asia pada umumnya, perkembangan arsitektur modern1 di Nusantara baru dimulai pada awal abad ke 20. Perkembangan arsitektur modern di Nusantara pada mulanya diperkenalkan oleh arsitek swasta Belanda seperti: P.A.J. Moojen, Henri Macline Pont, Thomas Karsten dsb.nya serta arsitek yang bekerja pada Kementerian Pekerjaan Umum (B.O.W.- Burgelijke Openbare Werken) di Batavia, seperti: F.L. Wiemans, Snuyf, Gerber, Von Essen dkk.nya. Mereka ini pada umumnya mendapat pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik Delft2 di Belanda.

liem bwan tjie Diantara dominasi arsitek Belanda tersebut terselip sebuah nama arsitek kelahiran Semarang, yaitu Liem Bwan Tjie. Pada th. 1910-1924, di Belanda ia belajar pada Sekolah Teknik Menengah (MTS – Middelbaare Technischeschool) sampai Sekolah Tinggi Teknik Delft di Belanda. Sejak th. 1916 ia sudah bekerja pada kantor-kantor arsitek terkenal seperti: B.J. Ouendag, Michael de Klerk, Gulden en Geldmaker dan Ed. Cuypers di Amsterdam (Dikken, 2002:9). Pada akhir tahun 1929, Liem kembali ke Hindia Belanda dan bekerja sebagai arsitek di kota kelahirannya Semarang. Pada th. 1938, akibat dari tuntutan pekerjaan Liem pindah ke Batavia3. Dari th. 1929 sampai akhir hidupnya (th. 1966), ia terus berkarya sebagai seorang arsitek.

Puluhan bangunan karyanya tersebar diseluruh Indonesia. Bahkan ia tercatat sebagai salah seorang penggagas Ikatan Arsitek Indonesia (I.A.I.)4.Tapi namanya jarang terdengar dalam perkembangan arsitektur di Indonesia. Semua berkas arsip karyanya sekarang disimpan pada Nederlands Architectuurinstituut (NAi), di Belanda. Mungkin karena sedikitnya publikasi tentang arsitektur pada th. 1945 sampai 1970 an, namanya menjadi kurang dikenal5.

Penulisan tentang arsitek dan karyanya, selalu menjadi topik yang menarik sepanjang jaman. Hal ini terbukti dengan banyaknya penerbitan buku dengan topik serupa dari waktu ke waktu. Tujuan dari penulisan ini selain ingin mengetengahkan Liem Bwan Tjie sebagai arsitek modern Indonesia generasi pertama yang belum banyak dikenal, juga ingin menggambarkan bagaimana situasi perkembangan arsitektur modern sebelum dan awal kemerdekaan di Indonesia pada umumnya.

PERUBAHAN JAMAN DAN SEMANGAT UNTUK MENDAPATKAN PENDIDIKAN TINGGI PADA KELUARGA TIONGHOA PERANAKAN 6

Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai pada malu tersipu. Tak perlu lagi orang berapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang di seberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi. Seluruh dunia kini dapat mengawasi tingkah laku seseorang. Dan orang dapat mengawasi tingkah laku seluruh dunia (Pramudya Anata Toer, 2000:360)

Akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, merupakan jaman yang penuh perubahan dalam peradaban dunia. Demikian halnya dengan Hindia Belanda waktu itu, yang mendapat imbas dari perubahan modernisasi dari belahan Barat. Bagi masyarakat Tionghoa yang hidup di P.Jawa, peralihan dari abad 19 ke abad 20, juga merupakan suatu jaman yang penuh dengan gejolak 7 (jaman bergerak!)

Setelah diberlakukannya politik Etis (Etische Politiek) pada th.19008, maka lebih banyak sekolah dasar dan menengah (terutama pendidikan kejuruan untuk kepentingan tenaga administrasi kolonial Belanda) didirikan di Nusantara, terutama di Jawa. Semarang merupakan kota besar ketiga di Jawa setelah Batavia dan Soerabaia. Banyak sekolah dasar maupun menengah dan kejuruan didirikan disana.

Suasana ‘jaman baru’ seperti itu bergema juga pada masyarakat di Semarang, sebagai salah satu kota yang punya penduduk Tionghoa terbesar di Jawa. Liem Bwan Tjie dilahirkan di Semarang pada tgl 6 September 1891, dari keluarga Tionghoa generasi keempat yang tinggal di Hindia Belanda waktu itu (Dikken, 2002:5). Dari data yang diperoleh jelaslah bahwa Liem Bwan Tjie bisa digolongkan sebagai seorang Tionghoa peranakan9. Tidak semua orang pada jaman itu bisa meneruskan pendidikannya ke Belanda. Jadi Liem tergolong orang yang beruntung, baik dalam bidang finansial atau kesempatan yang ada waktu itu

Dalam situasi jaman yang terus berubah pada akhir abad ke 19, orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dalam hal ini tidak terkecuali bagi keluarga Liem yang waktu itu tinggal di Semarang. Liem Bwan Tjie menamatkan pendidikan dasarnya di Semarang. Semangat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi membawanya pada th. 1910 berangkat untuk melanjutkan pendidikan menengah dan tingginya di Belanda 10.

Tidak ada data yang jelas apakah Liem sudah mempunyai minat yang besar terhadap bangunan sewaktu ia tinggal di Semarang atau setelah ada di Belanda. Tapi pilihannya untuk memasuki Sekolah Teknik Menengah (Middelbaare Technischeschool) jurusan bangunan, yang kemudian dilanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik jurusan arsitektur di Delft, akan membawa kariernya kelak sebagai salah satu pelopor arsitektur modern di Indonesia.

MASA MUDANYA DI BELANDA (1910-1924), PERANCIS (1924-1926) DAN CHINA (1926-1929)

Pada usia muda (19 th), tahun 1910, Liem dikirim oleh orang tuanya untuk belajar ke Belanda. Pendidikan menengah Liem11 sudah menjurus pada minat utamanya yaitu Bangunan, yang nantinya mengantarnya menjadi seorang arsitek, suatu profesi yang jarang disukai oleh golongan Tionghoa di Hindia Belanda waktu itu12.

Selama Perang Dunia I (1914-1918) digunakan oleh Liem untuk menambah pengalamannya dengan bekerja pada biro arsitek yang terkenal di Amsterdam. Liem, terlibat langsung dalam pergolakan awal arsitektur modern di Eropa. Pada th. 1916, secara bergantian ia bekerja pada kantor arsitek terkenal di Amsterdam, seperti: B.J. Quendag13, Michael de Klerk14, Gulden en Geldmaker dan Ed. Cuypers15 (Dikken, 2002:9). Ia bekerja selama 4 tahun pada kantor-kantor arsitek di Amsterdam tersebut. Kurun waktu 1890-1930, merupakan puncak dan sekaligus titik awal dari ‘arsitektur modern’.

Mulai th. 1890 an sampai th. 1930 an, terjadi sejumlah pertentangan dunia arsitektur, hal ini ditunjukkan dengan munculnya berbagai eksperimen yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Eksperimen tersebut, kalau diungkapkan merupakan sebuah pertentangan tentang ide-ide dasar seperti:
- Arsitektur sebagai ‘art’ vs. arsitektur sebagai ‘science’.
- Arsitektur sebagai ‘form’ vs. arsitektur sebagai ‘space’.
- Arsitektur sebagai ‘craft’ vs. arsitektur sebagai ‘assembly’
- Arsitektur sebagai karya ‘manual’ vs. arsitektur sebagai karya ‘masinal’

Dalam kurun waktu 40 tahun (1890-1930), itulah di Eropa muncul berbagai macam pergerakan dalam arsitektur modern seperti: Art And Craft, Art Nouveau, Art Deco, Bauhaus, Amsterdam School, De Stijl dan lain-lainnya. Disamping Jerman, negeri Belanda terlibat langsung dalam gerakan pembaharuan pemikiran arsitektur modern tersebut. Tokoh-tokoh arsitektur Belanda seperti H.P. Berlage, Micahel de Klerk, Dudok, Theo van Doesberg dsb. nya, merupakan bagian dari gerakan arsitektur modern di Eropa. Liem muda rupanya terlibat langsung dalam kancah percaturan ini.

Disamping itu pada tahun 1920-30 an terdapat pengaruh karya-karya Frank Lloyd Wright di Eropa, yang tentunya juga melanda Belanda. Gaya arsitektur modern yang dipopulerkan oleh Wright sebagai bapak arsitektur modern Amerika itu terkenal dengan sebutan ‘Wrightian’16. Gaya Wrightian ini nantinya juga berpengaruh pada karya-karya Liem, terutama pada perencanaan rumah tinggal pada awal kariernya di Semarang. Liem masuk TU. Delft pada tahun 1920.

Selama tinggal di Delft ia banyak mempelajari kebudayaan Barat, mulai dari literatur sampai kepada musiknya. Tapi disamping itu kesadarannya sebagai seorang keturunan Tionghoa membawanya memasuki perkumpulan mahasiswa Chung Hua Hui (perkumpulan mahasiswa peranakan Tionghoa asal Nusantara di Belanda). Bahkan ia pernah menjadi pengurus pada perkumpulan mahasiswa ini. Keanggotaanya sebagai pengurus Chung Hua Hui, membawanya untuk pergi ke Paris pada th 1924. Disana bersama dengan beberapa temannya ia pergi meninggalkan Belanda menuju kekota ‘dunia’ yaitu Paris. Suasana artistik sebagai pengaruh dari ‘Ecole Des Beaux Art’17 serta iklim intelektual yang dikembangkan oleh orang-orang perantauan dari berbagai negara dengan diskusi-diskusi tentang kebangsaan di café-café sepanjang jalan kota Paris membuat Liem cukup lama tinggal di sana (th. 1924-1926). Diskusi-diskusi intelektual bersama teman-teman mahasiswa dari berbagai bangsa selama di Paris, ikut membentuk kepribadiannya kelak sebagai seorang arsitek aliran modern di Nusantara.

Melalui Siberia pada th. 1926, bersama beberapa temannya dari Paris ia berangkat ke Tiongkok. Liem mendapat biaya fl. 125,- per bulan selama setahun dari perkumpulan mahasiswa Chung Hua Hui. Di Beijing ia memasuki Universitas Yenching selama setahun. Kemudian ia dikirim ke Shao Kwan (propinsi Kwangtung-sekarang Guangdong), dimana ia merencanakan sebuah jembatan disana. Karena suasana yang kacau di Tiongkok dan situasi yang tidak mengijinkan selama tahun 1929 disana, Liem kemudian kembali ketanah kelahirannya di Semarang pada th. 1929.

KARYA AWALNYA SEBELUM KEMERDEKAAN (1929-1938)

Setelah meninggalkan Nusantara selama 19 tahun18, pada umur 38 tahun, Liem memulai pekerjaannya sebagai arsitek di kota kelahirannya Semarang pada th. 1929. Pada awalnya ia bekerja pada N.V. Volkhuisvesting dibawah ‘gemeente’ Semarang.

Tapi setahun kemudian ia telah mendirikan kantor arsiteknya sendiri. Tahun 1930 an, merupakan masa depresi di perkotaan Jawa19. Tapi masa depresi pada perkotaan di Jawa tersebut tidak begitu mengganggu awal kariernya di Semarang. Hal ini disebabkan karena sebagian besar klien Liem pada awal kariernya adalah orang-orang Tionghoa kaya20. Mereka ini pada masa depresi justru ingin menikmati harta kekayaannya yang telah dikumpulkan jauh hari sebelum depresi untuk membangun rumah dan villa (terutama di daerah Tjandi). Dari daftar awal karya Liem, terlihat rumah mewah dari orang Tionghoa kaya hasil karyanya, seperti rumah tinggal Sih Tiauw Hien, Semarang (1930), villa Oei Tjong Houw, Kopeng (1931), rumah tinggal Tan Tjong Ie, Semarang (1931), rumah tinggal Ir. Be Kian Tjong, Semarang (1931), rumah tinggal Dr. Ir. Han Tiauw Tjong, Semarang (1931) dsb.nya (lihat daftar karya Liem pada akhir tulisan ini). Dari data diatas jelas bahwa ada hubungan erat antara Liem sebagai arsitek Tionghoa pertama lulusan Belanda, dengan masyarakat Tionghoa ‘cabang atas’ di Semarang.

Bentuk rumah tinggal yang dirancang oleh Liem Bwan Tjie bagi orang-orang Tionghoa di Semarang dan beberapa kota besar di Jawa pada th. 1930 an, merupakan bentuk arsitektur modern, sesuai dengan ilmu yang ditimbanya selama bertahun-tahun di Eropa.

Sumber: Dikken,2002:71
Rumah tinggal The Bo Djwan, Malang.
Rumah tinggal ini dirancang oleh Liem Bwan Tjie pada tahun 1934. Rumah ini mendapat julukan rumah yang terbaik di Malang pada jamannya. Terakhir rumah ini menjadi outlet produksi Batik Semar, yang terletak di depan Museum Brawijaya. Penggunaan garis-garis horizontal yang dominan dan sejajar dengan tanah.

Berhasilnya arsitektur modern yang dibawa oleh arsitek Belanda pada awal abad ke 20, adalah penyesuaiannya yang baik dengan iklim tropis lembab yang ada di Nusantara. Di dalam praktek pembangunan penyesuaian dengan iklim setempat itu dinyatakan dalam detail-detail elemen bangunan seperti overstek yang cukup lebar untuk melindungi bangunan dari sinar matahari yang masuk setelah pukul 9.00 pagi sampai pukul 4.00 sore, serta untuk melindungi tampiasnya air hujan yang masuk melalui pembukaan jendela. Pembukaan bangunan yang mengarah ke Utara-Selatan untuk menghindari arah sinar matahari langsung. Pembukaan yang cukup dengan lubang-lubang angin diatas pintu, jendela maupun atap supaya terjadi cross ventilasi yang baik dsb.nya adalah perwujudan dalam praktek-praktek bangunan di lapangan. Liem sangat menjadari akan hal-hal tersebut.

Sumber: Dikkens, 2002
Rumah peristirahatan milik Kwik Tjien Gwan di Tawangmangu, dirancang oleh Liem Bwan Tjie pada th. 1934.

Mengenai pengolahan bentuk arsitektur rumah tinggal, gaya ‘Wrightian’ lebih menonjol bila dibandingkan dengan bentuk rumah masyarakat Tionghoa sebelum tahun 1900 di Semarang. Tapi unsur-unsur perabot dan ragam hias yang berbau etnik China masih banyak dipakai oleh Liem dalam perancangan rumah tinggal orang Tionghoa ‘cabang atas’ tersebut 21.

Salah satu kliennya yang terbesar adalah perusahaan konglomerat Oei Tiong Ham concern yang berpusat di Semarang. Kantor pusatnya yang ada di Semarang dengan gaya arsitektur lama sebelum th. 1900 an, digantinya dengan perancangan arsitektur modern22 pada th. 1931. Kemudian disusul dengan cabang-cabangnya yang ada di Surabaya dan Semarang. Dunia perdagangan dengan perubahan yang cepat dan dinamis, dirasa cocok untuk gaya arsitektur modern yang serba fungsional dan lugas itu.

Sumber: Dikken, 2002:17
Foto sebelah kiri adalah kantor pusat Oei Tiong Ham Concern yang lama di Semarang. Sedangkan foto yang ada disebelah kanan adalah kantor Oei Tiong Ham Concern yang baru dirancang oleh arsitek Liem Bwan Tjie pada th. 1930-31.

Bentuk rumah orang Tionghoa di daerah Pecinan atau rumah gaya ‘Indisch’ yang banyak dimiliki oleh orang Tionghoa kaya (kebanyakan dibangun sebelum th. 1900 an), kelihatan ‘kuno’ jika dibandingkan dengan disain-disain Liem, yang lebih sesuai dengan jaman pada waktu itu 23.

Sumber: Woodbury & Page , KITLV Press, 1994:102
Rumah majoor Tan Tjong Hay di Gedung Gula, Semarang, dibangun th. 1815. Rumah dengan gaya arsitektur China, yang disesuaikan dengan iklim dan tradisi setempat ini merupakan prototype bagi rumah orang-orang Tionghoa kaya di Semarang waktu itu (lhat rumah majoor Be Biauw Tjwan yang didirikan th. 1840 di Semarang yang modelnya sangat mirip dengan bangunan diatas). Ada kecenderungan bagi masyarakat Tionghoa di Jawa sampai th. 1900 an dalam membangun rumahnya (terutama rumah orang kaya) serta tempat ibadah (kelenteng) untuk meniru bangunan sejenis yang dianggap ‘bagus’ oleh masyarakat setempat. Kesan seperti ini dikuatkan oleh ahli Tionghoa di Indonesia (Claudine Salmon & Denys Lombard, dalam bukunya “Klenteng-klenteng masyarakat Tionghoa di Jakarta”, Yayasan Cipta Loka Caraka ,1985).

Tradisi masa lalu selalu bertitik tolak pada keadaan selaras yang sudah ada, yang perlu dipertahankan, sesuatu yang baru pasti mengacaukan harmoni dan harus ditolak. Terhadap keadaan yang harmonis dan baik, yang baru mesti merupakan ancaman. Karena itu pemikiran tradisional masa lalu yang berdasarkan keselarasan ditantang untuk menunjukkan bagaimana dalam kerangkanya kreativitas dapat diminati sebagai sesuatu yang positif. Liem, seolah-olah menjadi pembaharu bagi masyarakat Tionghoa dalam dunia arsitektur di Semarang dan kota-kota besar di Jawa pada jamannya. Tapi situasi seperti itu tidak berlangsung lama, karena tambah lama pemberi tugas (klien) Liem makin luas dan tidak terbatas pada masyarakat Tionghoa saja. Tuntutan pekerjaan yang semakin lama semakin banyak, membuat Liem memutuskan untuk pindah ke Batavia pada th. 1938.

KARIER LIEM BWAN TJIE SETELAH PINDAH KE BATAVIA DAN SESUDAH KEMERDEKAAN (1938-1966)

Liem pindah ke Batavia pada th. 1938. Dan terus tinggal disana sampai th. 1966. Ada dua hal yang sangat menguntungkan bagi Liem Bwan Tjie dalam kariernya sebagai arsitek setelah kemerdekaan Indonesia th. 1945. Yang pertama, adalah sedikitnya arsitek profesional (hampir seluruhnya orang Belanda), yang ada di Indoensia setelah kemerdekaan 1945. Kebanyakan dari mereka ini pulang ke Belanda, dan sebagian ada yang meninggal akibat penyakit yang dideritanya selama menjadi tawanan perang Jepang (internir)24. Yang kedua, sebagai negara yang baru merdeka, setelah mengalami beberapa peperangan untuk mempertahankan kemerdekaannya dari th. 1945-1950, Indonesia memerlukan banyak bangunan baru. Banyak kementerian baru didirikan pada pemerintahan Presiden Sukarno waktu itu, dan sebagian besar memerlukan gedung baru, terutama di Jakarta. Itulah sebabnya Liem Bwan Tjie memutuskan diri untuk pindah ke Jakarta demi kariernya.

Karier Liem sebagai arsitek setelah kemerdekaan th. 1945, makin beragam. Baik dalam jenis bangunannya (tidak saja didominasi oleh rumah tinggal) maupun dari jenis kliennya (tidak didominasi oleh masyarakat Tionghoa saja). Salah satu karyanya yang penting setelah th. 1945 adalah rancangan rumah tinggal untuk Presiden Indonesia pada th. 1947.

Sumber: Dikken, 2002:91
Rencana denah rumah tinggal Presiden Republik Indonesia di Jakarta th.1947. Bentuk denah yang simetri penuh mempermudah tampak berkesan monumental. Adanya teras keliling bangun mengingatkan kita pada disain-disain bangunan kolonial awal abad ke 20, yang berguna untuk mengatasi tampias air hujan dan masuknya sinar matahari langsung ke dalam ruangan.

Arsitektur modern mendorong para arsitek selalu bersikap kreatif yang dijunjung tinggi, misalnya berarti: bergairah untuk memikirkan, mencari, menemukan, menciptakan sesuatu yang ‘baru’. Aliran arsitektur modern yang pernah ditimbanya di Belanda serta pengalaman praktik sebagai arsitek di Semarang makin mematangkan karya-karya Liem selanjutnya. Arsitektur modern yang menuntut ruang-ruang tertutup maupun terbuka untuk menampung makin banyaknya manusia untuk berkumpul pada satu tempat di daerah perkotaan makin banyak dibutuhkan. Jenis-jenis bangunan seperti komplek pasar, bioskop, stadion oleh raga dan sebagainya yang menuntut sistim konstruksi bentang lebar, serta makin banyak diperebutkannya lahan-lahan strategis ditengah kota yang memaksa bangunan menjadi semakin jangkung (kantor Intraport di Jakarta ,lihat Gambaar 9), merupakan ciri-ciri khas arsitektur modern di Indonesia sesudah tahun 1950 an. Liem juga disibukkan dengan proyek-proyek besar diluar Jakarta seperti, proyek stadion Teladan di Medan (1953-1955), komplek kantor Lembaga Penyakit Kuku Dan Mulut di Surabaya (1951-1958), Komplek Universitas Sulawesi Utara di Menado (1961-1963), komplek Rumah sakit di Karang Panjang Ambon (1962-1964), dan sebagainya.

Pemakaian bahan-bahan bangunan dalam arsitekur modern seperti beton, baja dan kaca, makin mendapat tempat utama dalam perencanaan bangunan fasilitas umum. Pemakaian konstruksi beton dan baja, yang pada jaman sebelum kemerdekaan masih digunakan pada bangunan tertentu saja. Setelah kemerdekaan karena tuntutan fungsi akan kebutuhan pada bentang lebar dan ketinggian bangunan makin sering digunakan.

Tahun-tahun 1950 an sampai 196525 merupakan masa tersibuk bagi Liem. Proyeknya tersebar di banyak kota besar di Indonesia, seperti Semarang, Surabaya, Palembang, Medan , Ambon, Menado dan sebagainya. Institut Teknologi Bandung, yang merupakan satu-satunya universitas yang punya jurusan arsitektur di Indonesia waktu itu, baru meluluskan arsitek pertamanya pada th. 195826. Tapi harus diakui bahwa meskipun banyak karya yang di hasilkan oleh Liem, tapi sebagian besar memang bukan merupakan karya masterpiece27, dalam arsitektur Indonesia. Apakah hal ini yang menjadi sebab karyanya mudah dilupakan orang?

Pada th. 1965, waktu usianya mencapai 74 th, ia meninggalkan Indonesia bersama keluarganya menuju Belanda, untuk mengikuti kedua anak perempuannya yang melanjutkan pendidikannya disana. Ia meninggal pada th. 1966 di Belanda. Berkas arsip karyanya yang cukup banyak sekarang disimpan pada Nederlands Architectuurinstituut (NAi) di Belanda.

KESIMPULAN

Modernisasi bukanlah suatu alternatif terhadap tradisi, tapi keduanya berkaitan secara dialektis. Sikap kreatif yang dijunjung tinggi pada jaman modern ini misalnya, berarti: bergairah untuk memikirkan, mencari, menemukan, menciptakan sesuatu yang baru. Pandangan seperti ini sangat dipahami oleh Liem yang telah menerima pendidikan arsitektur selama bertahun-tahun di Eropa.

Padahal tradisi masa lalu selalu bertitik tolak pada keadaan selaras yang sudah ada, yang perlu dipertahankan, sesuatu yang baru pasti mengacaukan harmoni dan harus ditolak. Terhadap keadaan yang harmonis dan baik, yang baru mesti merupakan ancaman. Karena itu pemikiran tradisional masa lalu yang berdasarkan keselarasan ditantang untuk menunjukkan bagaimana dalam kerangkanya kreativitas dapat diminati sebagai sesuatu yang positif. Liem berusaha mengabungkan hal ini dalam awal kariernya pada perencanaan rumah tinggal masyarakat Tionghoa ‘cabang atas’ di Semarang, dengan memakai unsur-unsur ragam hias tradisional China, dalam perancangannya. Sejauh mana hal itu merupakan keberhasilan dalam perancangan, memang agak sulit untuk menilainya.

Liem adalah seorang arsitek modern yang berpendidikan akademis pertama yang berasal dari golongan Tionghoa peranakan. Seperti halnya dengan bapak arsitektur modern Amerika , Frank Llyod Wright, Liem juga memulai awal kariernya dengan mendisain rumah tinggal bagi orang-orang kaya, terutama di Semarang dan kota-kota besar lainnya di Jawa.

Disainnya yang fungsional, lugas tanpa banyak ragam hias yang berlebihan, serta denah-denah yang terbuka mirip ‘open plan’ dan ,continous space’ nya Frank, membuat Liem dipandang sebagai arsitek modern pada jamannya, diluar arsitek Belanda. Kebanyakan orang-orang kaya pemberi tugas (klien) Liem merupakan orang yang berpendidikan Barat dan menerima modernisasi sebagai bagian dari hidupnya. Sehingga tidak ada masalah yang berarti bagi Liem untuk membuat perencanaan arsitektur modern bagi mereka.

Karier Liem mengalami banyak perubahan sejak kepindahannya ke Jakarta pada th. 1938. Kekosongan arsitek yang ditinggalkan oleh orang Belanda setelah kemerdekaan dimanfaatkan dengan baik olehnya. Tapi kelihatan sekali bahwa karyakarya Liem setelah th. 1950 an yang sebagian besar berupa bangunan fasilitas umum, makin menunjukkan kuatnya paham arsitektur modern pada dirinya. Bersama-sama dengannya rekan-rekannya yang lebih muda waktu itu seperti Silaban, Suyudi, Suhamir, dan lain-lainnya Liem, bisa disebut sebagai arsitek modern generasi pertama di Indonesia setelah kemerdekaan.

1 Secara longgar dapat didefinisikan bahwa: “Modern Architecture is the term given to the range of approaches in architecture, first appearing at beginning of the 20 th century, that rejected historic precedent as asource of architectural inspiration and Amsterconsidered function as prime generator of form, employing material and technology in an honest way” (Webster Dictionary).

2 Memang ada beberapa diantara arsitek Belanda pada awal abad ke 20 yang bukan lulusan Delft, seperti Schoemaker (lulusan sekolah akademi teknik tentara di Breda), Hulswit, C. Citroen, Mojen, dsb.nya. Tapi terutama setelah th. 1920 an hampir semua insinyur arsitek yang bekerja di Nusantara adalah tamatan T.U.Delft.

3 Sebutan untuk Jakarta sebelum kemerdekaan th. 1945.

4 Pada th. 1959 di Bandung bersama dengan rekannya arsitekarsitek muda pada waktu itu seperti Kwee Hin Gwan dan Sujudi, Liem Bwan Tjie menjadi penggagas berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia (I.A.I). Masalah yang sangat mendesak pada waktu itu adalah belum adanya peraturan yang standart tentang honorarium bagi seorang arsitek profesional di Indonesia. Karena sebagian besar bangunan sesudah kemerdekaan dikerjakan oleh aannemers (pemborong)(Dikken, 2002:12)

5 Tidak menutup kemungkinan bahwa pada periode “Orde Baru” juga tidak banyak literatur yang tersedia, terutama yang menyangkut tentang golongan Tionghoa.

6 Pada jaman kolonial Belanda, masyarakat di Jawa dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan Ras. Kelompok pertama adalah orang Eropa (yang didominasi oleh orang Belanda). Kelompok kedua adalah Pribumi. Dan ketiga adalah kelompok Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), yang terdiri dari oang-orang Tionghoa, Arab dan India yang lahir atau tinggal di Hindia Belanda selama 10 tahun. Untuk mempertegas pemisahan ini pada th. 1835, diadakan undang-undang yang disebut sebagai ‘wijkenstelsel’ di P. Jawa. Peraturannya berbunyi: Orang Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang menjadi penduduk Hindia Belanda, sedapat mungkin dikumpulkan di daerah-daerah terpisah dibawah pimpinan kepala mereka masing-masing. Meskipun peraturan ini dihapuskan pada th. 1920, tapi berdampak pada jangka panjang, terutama keterpisahan (separateness) orang Tionghoa dari Pribumi (Lea E. William, Overseas Chineses Nationalism: The Genesis of The Pan-Chinese Movments in Indonesia 1900-1916, Glencoe, Illinois Free Press, 1960, hal. 31)

7 Timbulnya nasionalisme China pada awal abad ke 20 di Jawa dinyatakan dalam pembentukan perhimpunan China Raya (Pan China), seperti Tiong Hoa Hwee Koan (THHK- Perhimpunan Tionghoa) th.1900, yang mendirikan sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar China (Tiong Hoa Hak Tong) di seluruh Jawa. Kemudian disusul dengan timbulnya surat kabar Tionghoa peranakan dalam bahasa Melayu Tionghoa (Li Po -th. 1901 di Sukabumi, Pewarta Surabaya – th. 1902 di Surabaya, Perniagaan th 1903 di Batavia, Djawa Tengah – th.1909 di Semarang). Juga pembentukan Kamar Dagang Tionghoa (Siang Hwee)- th.1907 dan 1908 di berbagai kota di Jawa (Sumber lain J. Paulus,(ed), ENI eerste deel, tweede druk (s’Gravenhage, 1917), mengatakan Siang Hwee yang pertama di Hindia berdiri tahun 1901) . Semuanya ini berpuncak pada diselenggarakannya Konperensi Semarang, untuk pertama kalinya oleh orang Tionghoa di Jawa pada th. 1917.

8 Politik Etis yang mulai diberlakukan th. 1900, ditujukan pada 3 bidang yaitu Emigrasi (yang setelah kemerdekaan istilahnya diganti dengan transmigrasi), Irigasi dan Edukasi atau Pendidikan.

9 Suryadinata (2002:17), memberikan penjelasan secara umum tentang masyarakat Tionghoa di Indonesia sbb: Masyarakat Tionghoa di Indonesia bukan merupakan minoritas homogen. Dari sudut kebudayaan, orang Tionghoa terbagi atas ‘peranakan’ dan ‘totok’. Peranakan adalah orang Tionghoa yang sudah lama tinggal di Indonesia dan umumnya sudah berbaur. Mereka berbahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan bertingkah laku seperti Pribumi. Totok adalah pendatang baru, umumnya baru satu sampai dua generasi dan masih berbahasa Tionghoa.

10 Liem Bwan Tjie merupakan satu-satunya dari 8 anak laki-laki dan 2 anak perempuan dari ayahnya Liem Tjing Soei, yang mendapat kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya di Belanda. Ayahnya bekerja pada perusahaan dagang keluarga Liem Kiem Ling. Perusahaan dagang keluarga Liem adalah perusahaan yang cukup besar, yang berusaha dalam bidang perdagangan besar tekstil. Dari perdagangan tekstil, keluarga Liem banyak berhubungan baik dengan pabrik tekstil di Belanda. Akibat hubungan inilah Liem Bwan Tjie bersama sekelompok pemuda dari Semarang dipercayakan kepada seorang sahabat keluarga mereka yang memberikan pemondokan untuk belajar di Belanda.

11 Liem adalah tamatan m.t.s (middelbaare technischeschoolsederajat dengan s.t.m- sekolah teknik menengah, sekarang) dengan dua ijazah yaitu dari jurusan Bouwkunde (bangunan) dan Waterbouwkunde (bangunan air) (Dikken, 2002:9).

12 Liem Bwan Tjie , adalah arsitek pertama dan satu-satunya dari golongan Tionghoa di Hindia Belanda waktu itu. Selama periode Kolonial di Hindia Belanda hanya ada 40 orang insinyur Tionghoa. Lihat F.J.E. Tan, “Tjendekiawan Keturunan Tionghoa di Indonesia Dewasa Ini”, Star Weekly, 578 (26 Januari, 1957), hal. 56.

13 B.J. Quendag bersama Prof. Klinkhamer, adalah perancang bangunan “Lawang Sewu” di Semarang.

14 Michael de Klerk, adalah pelopor mahzab arsitektur “Amsterdam School”. Waktu magang pada kantor Michel de Klerk , Liem Bwan Tjie ikut mengerjakan gambar perancangan sayembara gedung ‘Rijkacademie voor Beeldende Kunsten’ di Amsterdam. Rancangan tersebut diberi motto “Groot Amsterdam”, yang mendapat hadiah nomer dua (Dikken, 2002:9). Pengalaman tersebut sangat berkesan bagi Liem.

15 Ed. Cuypers, mendirikan kantor cabang arsitektur di Batavia (Jakarta), bersama rekannya bernama ‘Hulswit, Fermond & Cuypers’, yang merupakan kantor arsitektur yang terbesar di Hindia Belanda pada kurun waktu th. 1900-1940 an.

16 Dalam bukunya yang berjudul “The Future of Architecture”, hal. 141, Wright menjelaskan tentang gaya arsitektur yang sering disebut dengan gaya ‘Wrightian’ tersebut meliputi 9 unsur penting sbb:
1. To reduce the number of necessary parts of the house and the separate rooms to minimum, and make all come together as enclose space- so devided that light, air and vista permeated the whole with a sense of unity.
2.To associate the building as a whole with its site by extention and emphasis of the planes parallel to the ground, but keeping the floor off the best part of the site, thus leaving that better part for use in connection with the life of the house. Extended level planes were found useful in this connection.
3. To eleminate the room as a box, and the house as another by making all walls enclosing screens – the ceiling and floor and enclosing screens – to flow into each other as one large enclosure of space, with minor subdivisions only. Make all house proportions more liberally human with less wasted space in structure and structure more appropriate to material, and as whole more livable. Liberal is the best world. Extended straight lines or streamlines were useful in this.
4. To get the unwholesome basement up out of ground, entirely above it, as alow pedestal for living portion of the home, making the foundation itself visible as alow masonry platform on which the building should stand.
5. To harmonize all neccesary openings to ‘outside’ and ‘inside’ with good human proportions and make them occur naturaly – singly or in a series in the scheme of the whole building. Usually they appeared as “lightscreen” instead of wall, because all the “architecture” of the house was chiefly the way these openings came in such walls as were grouped about the rooms as enclosing screens. The room as such now the essential architectural expression, and there were to be no holes cut in wall as holes are cut in a box, because this was not in keeping with the ‘ideal’ of plastic. Cutting holes was violent.
6. To eliminate combination of different material in favour of mono material as far as possible; to use no ornament that did not come out of the nature of material make the whole building clearer and more expressive as a place to live in, and give the conception of the building appropriate revealing emphasis. Geometrical or straight lines were natural to the machinery at work in the building tradea then, so the interiors took on this character naturally.
7. To incorporate all heating ,lighting, plumbing so that these systems become constituent parts of the building itselft. These service features become architecture and in this attempt the ideal of an organic architecture was at work.
8. To incorporate as organic architecture – so far as posile – furnishings, making them all one with th building and designing them in simple terms for machine work. Again stright lines and rectilinear forms.
9. Eliminate the decorator. He is all curves and all effloresence, if not all “period”

17 ‘Ecole Des Beaux Arts ’ adalah sebuah ‘school of arts’ yang didirikan th. 1648 oleh kardinal Mazarin. Sekolah tersebut kemudian berkembang menjadi studi tentang arsitektur, drawing, painting, sculpture, engraving, modeling dan gem cutting. Pada awalnya sekolah ini dibawah kekuasaan Louis XIV untuk keperluan suplai tenaga ahli dekorator istananya. Tapi th. 1863 sekolah ini dibebaskan oleh Napoleon III. Pada dasarnya sekolah ini menitik beratkan pada seni klasik dari Greek dan Roman architecture, dengan belajar dan meniru pada ‘great master’. Sistim pengajaran dilakukan didalam maupun diluar studio. “……. The lively Parisian life of the cafes which all came together to discuss art. ……. The cafes were but informal extensions of the atliers and the Ecole, and the Masters would hold court at atable of their followers to argue and discuss theories and technique—and when the Salon was going—crtique art. It would be cafes thar the vanguard of art flourished and from which the Impressionists came.’ (history of the the Ecole des Beaux-arts). Ecole des Beaux-arts merupakan sekolah seni dan arsitektur yang paling terkemuka di Eropa sampai akhir abad ke 19. Sampai sekarang sekolah tersebut masih berdiri. Meskipun jurusan arsitekturnya memisahkan diri setelah adanya kerusuhan mahasiswa pada th. 1968.

18 Th. 1910-1924 belajar di Belanda
Th. 1924-1926 Liem, berada di Perancis
Th. 1926-1929 Liem, pergi ke Beijing (Tiongkok).
Th. 1929-1938 sebagai arsitek profesional di Semarang.
Th. 1938-1966 sebagai arsitek profesional di Jakarta.

19 Masa depresi th. 1930 an telah mengacaukan penghasilan eksport hasil panen di Hindia Belanda, mengakibatkan efek mendalam terhadap ekonomi kolonial yang selama ini tergantung pada eksport hasil pertanian. Bagi banyak orang diperkotaan di Jawa , masa depresi adalah masa yang sulit. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih kecil. Bahkan banyak diantaranya terpaksa bekerja dengan upah harian. Gambaran yang lebih jelas selama masa depresi tahun 1930 an, bisa dilihat pada tulisan John Ingleson (1988), ‘Urban Java during the depression’ dalam Journal of Southeast Asian Studies, Vol.XIX, No.2, September 1988.

20 Semasa mahasiswa di Belanda Liem adalah anggota dan pengurus dari perkumpulan Tionghoa peranakan yang belajar di Belanda yang dinamakan Chung Hwa Hui (untuk membedakan dengan perkumpulan serupa yang didirikan di Jawa, perkumpulan yang didirikan di Belanda itu kemudian disebut sebagai Chung Hwa Hui Nederland). Liem, juga aktif dalam perkumpulan Chung Hwa Hui (CHH) di Jawa, yang kongres pertamanya diadakan di Semarang pada tgl. 19-20 April 1927. Anggota dari Chung Hua Hui ini khususnya adalah bekas anggota CHH Nederland dan para pengusaha Tionghoa peranakan. Anggota terkemuka dari Chung Hwa Hui antara lain adalah dr. Yap Hong Tjoen (dokter spesialis mata terkenal di Yogyakarta), Dr.Ir. Han Tiauw Tjong, Be Tiat Tjong, Oei Tjong Hauw (putera konglomerat Oei Tiong Ham), Tan Tek Peng (salah seorang direksi perusahaan Oei Tiong Ham Concern) dsb.nya. Tidak heran kalau Liem selain banyak merancang rumah tinggal orang Tionghoa ‘cabang atas’ tersebut, juga merancang kantor pusat serta cabang-cabang dari perusahaan konglomerat Oei Tiong Ham Concern, yang pada th. 1930 an sudah dipegang oleh anak-anaknya seperti Oei Tjong Hauw dsb.nya.

21Arsitek pendidikan Belanda pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 pada umumnya mendapatkan pelatihan yang baik dalam membuat rancangan meubel dan ragam hias yang diterapkan dalam bangunan. Aliran ‘Art Nouveau” yang lahir di Belgia kemudian masuk ke Belanda dengan nama “Nieuwe Kunst’, pada awalnya merupakan suatu aliran yang bertumpu pada ‘disain produk’ seperti sendok-garpu, piring, lampu yang meningkat ke meubel dan akhirnya kepada bangunan secara keseluruhan. Tradisi yang diwariskan dalam pelatihan rancangan disain ragam hias pada bangunan ini membuat arsitek-arsitek Belanda pada awal abad ke 20 ini tidak canggung dalam mendisain meubel atau ragam hias lainnya. Liem Bwan Tjie, juga pendisain meubel yang handal. Ini terbukti dalam berbagai karyanya.

22 Karakter ‘arsitektur modern’ dapat ditengarai sbb (Webster Dictionary):
- attempt to express function, material and technology in an honest way
- works to provide functional building to all people with an economy of means
- employs arts as means of ordering form
- reject historical precedent
- explicity attempts to express all the above in its building manifestations.

23 Sedikit keterangan yang diperoleh tentang awal pembangunan rumah-rumah orang Tionghoa di Semarang. Salah satunya diperoleh dari buku: Liem Thian Joe (1931), Riwayat Semarang, Penerbit Boekhandel Ho Kiem Joe, Semarang-Batavia, dalam Bab II, Awal Pembuatan Rumah Tembok Dengan Style Tionghoa.

24 Thomas Karsten adalah salah satu arsitek korban tawanan Jepang tersebut. Daftar arsitek yang berkarier sebelum kemerdekaan di Indonesia, dapat dilihat di buku: Akihary, Huib (1990), Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1970, Zutphen, hal. 87-147.

25 Pada th. 1950 sampai th. 1965 an terdapat tiga kelompok arsitek di Indonesia. Yang pertama adalah kelompok arsitek Belanda yang masih berpraktek di Indonesia setelah kemerdekaan seperti: A.W. Gmelig Meyling (karyanya a.l.: kantor tilpon di Bandung 1952, kantor pusat perkebunan-sekarang dipakai sebagai kantor KPU th. 1955 .), Han Groenewegen (karyanya a.l. :Rumah sakit Sumber Waras -1957, Bank Indonesia Jl. Thamrin-bersama dengan Silaban dan Liem Bwan Tjie ), A.R.M. Kreisler dsb.nya. Yang kedua adalah kelompok arsitek Indonesia yang sudah berkerja sebagai arsitek sejak sebelum kemerdekaan seperti: Liem Bwan Tjie, Susilo, Suhamir, Silaban dsb.nya Dan yang ketiga adalah arsitek muda lulusan ITB dan perguruan tinggi dari luar negeri seperti: Sujudi, Suwondo, Suhartono Susilo, Achmad Noe’man dsb.nya.

26 ITB baru meluluskan sarjana pertamanya pada th. 1958. Angkatan pertamanya yang menjadi arsitek dan pendidik termasuk : Suhartono Susilo, Hasan Purbo, Achmad Noe’man dsb.nya.

27 F. Silaban punya karya besar seperti ‘Mesjid Istiqlal’, Suyudi punya karya besar seperti komplek ruang sidang DPR/MPR dsb.nya.

.



17 Responses to “liem bwan tjie | arsitek modern”

  1. 1 william malik

    mantapp..
    thanx for the blog..

  2. 2 e

    @ w.malik: terima kasih sudah mampir ke warung saya. memang menyenangkan kalau kita bisa mengetahui sedikit sejarah arsitek-arsitek indonesia dan kiprahnya .. sayang informasi semcam itu belum tersedia banyak ..

  3. Menarik sakali.
    Wajib baca buat semua arsitek praktisi.
    Membacanya saja sebetulnya sudah KUM 2 :)

  4. wew…..bagus pak endi. salam kenal.

  5. wew…..nggak rugi search tentang arsitek jadul indonesia dan ketemu blog anda. salam kenal pak endi. tulisan ttg liem bwan tjie di atas sangat menarik.

  6. 6 e

    @ary indra: salam kenal juga dan terima kasih sudah mampir. memang sangat menarik membaca sejarah dan etos arsitek-arsitek indonesia, sayang jumlahnya masih sangat sedikit ..

  7. 7 malique

    asiiik….nambah pengetahuan

  8. 8 ario danr

    wahhhhh…jadi bangga, karena orang Semarang….thanks Pak Endi infonya…..

  9. 9 terry

    Terima kasih infonya pak, menarik skl.
    Bangunan mana saja yg sampai skg masih ada?

  10. 10 nusi hariadi

    informasi yg luar biasa… bisa tahu bagaimana cara bisa mengunjungi kantor pusat Oei Tian Ham concern? atau kita bisa datang langsung? tks

  11. 11 e

    @all: terima kasih sudah mampir ke warung saya. @terry @nusi: kayaknya perlu bikin tur ke semarang untuk napak tilas?

  12. 12 dodi aris

    salam kenal pak, info yg menarik..
    sy dapat info, kalau ada beberapa rumah (bangunan) kuno di kampung laweyan kota Solo pada masa kemerdekaan (1940 sd 50an) bergaya ‘Indisch’ juga dirancang oleh seorang keturunan tionghwa. tp namanya Ceng Ka wi (entah bagaimana mengejanya). sayangnya sampai sekarang saya belum menemukan sumber informasi yg lengkap…
    apakah bapak punya info tentang sosok bernama Ceng Ka wi ini?

  13. 13 e

    @dodi: maaf saya tidak punya info tentang “ceng ka wi”. kalau anda bisa menelusuri dari sumber infonya mungkin akan menjadi temuan yang unik. kirim kabar kalau ada info tentang “ceng ka wi” ya. terima kasih sudah mampir, salam, e.

  14. info yg menarik,jd tambah pengalaman tentang sejarah arsitektur

  15. 15 e

    @untung sanjaya: terima kasih sudah mampir .. salam, e.

  16. 16 rudijono

    Sy bukan arsitek.. tapi mengagumi gaya arsitek kolonial. Sekalian kalau ada bahas juga sejarah gaya arsitek kolonial di kota Bandung… Thanks..

    • 17 e

      arsitektur kolonial di bandung sangat banyak, dan beberapa diantaranya sudah menjadi ikon. diantaranya kampus itb, vila isola, dan yang paling populer gedung sate. kalau ada waktu yang baik kita bahas disini ya. salam dan terima kasih sudah mampir, e.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: