menulis tentang arsitektur
menulis tentang arsitektur tentu berbeda dengan menulis tentang perjalanan. saat ini, belum banyak tulisan tentang arsitektur, yang ditulis oleh penulis lokal indonesia, yang menarik untuk dibaca. artikel dibawah ini mungkin bisa membantu sebagai masukan kalau kita ingin menulis tentang arsitektur ..
Bagaimana Menjadi Penulis Perjalanan
Y! Newsroom – Jumat, 8 Oktober
Isyana Artharini, editor berita di Yahoo! Indonesia | isyana[at]yahoo-inc.com
Dengan semua kemajuan teknologi yang kita miliki, termasuk mesin pencari internet, aplikasi Google View, dan siaran televisi tentang reportase perjalanan, sebenarnya masih sedikit yang kita ketahui tentang dunia. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran penulis perjalanan William Dalrymple.
“Hanya karena kita semua memakai Nike dan Reebok yang sama, bukan berarti kita adalah manusia yang sama. Tulisan perjalanan menjadi penting ketika sekarang kita seolah berada dalam sebuah keseragaman, tetapi itu semua semu,” kata Dalrymple.
Di sinilah berperjalanan dan menuliskannya menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Penulisan tentang perjalanan atau travel writing, menurutnya masih belum cukup dihargai. Padahal karya klasik seperti epik Gilgamesh dan kisah pengasingan para Pandawa yang mengembara menjadi bukti betapa tuanya genre tulisan perjalanan sebenarnya.
Beberapa karya Dalrymple termasuk In Xanadu, City of Djinns (pemenang Thomas Cook Travel Book Award dan Sunday Times Young British of the Year Award), The Age of Kali (meraih French Prix D’Astrolabe), dan White Mughals (memenangkan Wolfson Prize for History 2003 dan penghargaan Scottish Book of the Year).
Di Ubud Writers & Readers Festival 2010, dia memberikan sesi pembacaan karya-karyanya dan beberapa tips tentang bagaimana menjadi penulis perjalanan. Inilah resep menjadi penulis perjalanan versi Darlymple:
Subjektivitas itu penting. Menulis tentang perjalanan adalah sesuatu yang subjektif. Objektivitas adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Karena, pada intinya, perjalanan adalah sebuah pengalaman personal seseorang ke sebuah dunia baru dan kembali dengan hasil reportase.
Subjektivitas itulah yang menjadikan tulisan perjalanan begitu beragam. Apa yang dilakukan Bill Bryson, berbeda dengan apa yang dilakukan Ryszard Kapuciski. “Tenggelamkan diri Anda dalam objek cerita, dan datanglah dengan laporan akan dunia yang Anda kunjungi itu.” Ada penulis perjalanan yang memilih membenamkan diri dalam subjek revolusi, arsitektur, atau mencari burung-burung eksotis di Amerika Selatan. Kesamaan antara semua tulisan perjalanan yang baik adalah ada antusiasme dari penulisnya yang tampil di situ.
Jaga jarak. Dalrymple memilih untuk lebih memfokuskan pada detail di sekitarnya dan orang-orang yang ia temui daripada menulis tentang perasaannya sendiri. “Dengan begitu, penulis perjalanan tidak akan terjebak dalam kefrustrasiannya, atau prasangkanya, atau kegembiraannya terhadap dunia baru yang mereka temui. Jika tidak, penulis akan lebih menulis tentang diri mereka sendiri daripada tentang tempat di mana mereka berada.”
Percakapan adalah inti. Dalam proses menulis, Dalrymple memilih untuk mewawancarai beragam subjek dan kemudian merekam suara mereka secara verbatim, bahkan ketika mereka membeberkan fakta yang jelas salah. “Karena itulah versi mereka akan suatu kejadian, sehingga kita memahami dasar pemikiran dan pilihan perilaku mereka,” tambah Dalrymple. “Percakapan adalah jantungnya tulisan perjalanan.”
Catat semua detailnya. “Percakapan, bau, bunyi, tak penting jika hasilnya adalah catatan yang terpisah-pisah dan melantur, pokoknya, catat semua detailnya.”
Jangan lupakan riset. Detail lokasi dan wawancara penting saat berperjalanan, tetapi riset membantu memberikan latar belakang dan menambah kekayaan tulisan. Biasanya Dalrymple akan menghabiskan satu tahun melakukan penelitian dan menghabiskan enam bulan untuk menulis.
Matikan internet ketika menulis. “Sehingga Anda benar-benar bekerja dan tidak kemudian malah membuka Facebook,” ujar Dalrymple.
Bangun pagi. Setidaknya itu cara yang dilakukan Dalrymple untuk kemudian mulai menulis. “Perlakukan proses ini selayaknya Anda sedang bersiap-siap untuk menghadapi ujian. Anda mempersiapkan diri dengan tekun lewat riset dan wawancara, kemudian Anda menulis dengan fokus dan tenang.”
Duduklah dan mulai menulis. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana. Jangan langsung berharap untuk mendapatkan prosa-prosa sempurna seperti yang dihasilkan Bruce Chatwin. “Itu akan datang nanti. Tapi yang terpenting, duduk, dan mulailah menulis.”


Judulnya “Menulis tentang Arsitektur” Tapi isinya kok tentang perjalanan / travel. Bgmn ini ? ? ?
@kuncoro sukardi: hehehe .. maaf kalau judul artikel-nya menyesatkan. di bagian pengantar sudah saya sampaikan bahwa tulisan ini harap dibaca sebagai masukan saja bagi yang ingin menulis tentang arsitektur. beberapa pokok yang disarankan (huruf tebal) menurut saya bermanfaat bagi para (calon) penulis arsitektur. anda punya pendapat lain?
terima kasih sudah mampir kesini .. salam, e.
.. ini salah satu tanggapan yang menarik tentang topik yang sama – how to write about architecture – melalui archinect discussion forum:
Jump is right on. Writing, as a creative process, is much like design. In essence, a writer is “designing” a narrative: there are functional elements that must be included (information, analysis) in clear form (order, sequence), amid aesthetic choices about style (word choice, phrasing, metaphor). For it to be good, it takes multiple drafts: “good writing is rewriting,” it is said. And for it to be great, well, you get the idea.
I love writing, yet occasionally loathe the iterative process of making it better and better. Yet–when I read a really good article or book that tells me interesting or important things, very clearly, in an engaging way–I’m compelled forward in my own work to try and do the same. I get the same way about experiencing good architecture.