tentang iai award
dari catatan april 1996.
Yang pertama kali terlintas adalah pertanyaan apakah kita perlu meng-Indonesia-kan kata IAI Award? Bukan ditekan untuk mengalih-bahasakan seperti film-film televisi, karena memang tidak buruk memakai bahasa internasional, tetapi mempunyai nama sendiri mungkin lebih berarti. Panghargaan IAI atau Anugerah IAI, misalnya, mengapa tidak?
Sementara merenung apakah perlu ganti nama, yang lebih penting adalah sepakat bahwa IAI Award adalah rambu yang paling terlihat dalam perjalanan praktek arsitek. Ia memberikan penghargaan kepada perkembangan dan kreatifitas rancangan arsitek Indonesia. Dengan demikian ia diharapkan dapat menggambarkan segala aspek yang sudah dan sedang terjadi dalam dunia profesi arsitek. Pemberian penghargaan pada waktu-waktu tertentu seolah sesaat membekukan semuanya dan melihat bagaimana ketrampilan merancang, jawaban rancangan terhadap permintaan bisnis, adaptasi terhadap dinamika sosial dan berbagai hal lainnya pada saat itu. Kesemuanya jalin-menjalin dan secara utuh terekspos dalam karya arsitektur. Walaupun demikian, mungkin penghargaan ini tidak bisa gegabah dijadikan rambu yang paling penting. Ia hanya melihat dan mengangkat karya-karya puncak dan menganggap jiwa dalam karya tersebut bisa memperlihatkan apa yang sedang terjadi dengan arsitek Indonesia. Dengan demikian dapat dipahami bahwa IAI Award haruslah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Ada atau tidak ada karya arsitek yang dinilai sebagai karya puncak, IAI Award seyogyanya tetap merekamnya sebagai bagian dari catatan perjalanan.
Dengan semangat yang sama juga harus ada pembatasan umur karya arsitektur yang dinilai. Dengan demikian catatan perjalanan tadi bisa menjadi telaah yang menarik, apalagi kalau bisa dibandingkan dengan apa yang terjadi dibelahan dunia yang lain.
Karya arsitektur sulit untuk dilihat sebagai karya final bagaikan sebuah lukisan dan dihargai 5,5 milyar. Ia lebih bisa dilihat sebagai benda seni yang mempunyai fungsi (atau benda fungsional yang berseni?) seperti sebuah raket badminton. Ada penelitian dan proses merancang, dilanjutkan dengan konstruksi utnuk menjadikannya sebuah raket yang ringan, modelnya menarik, berwarna-warni serta menggunakan teknologi wide-body. Juga kuat dipakai smash. Demikian halnya karya arsitektur.
Umumnya dalam pemberian penghargaan seperti ini ada entry eligibility, seperti misalnya umur karya arsitektur dan tipologi bangunan. Karya yang eligible akan dinilai sendiri-sendiri dan tidak diadu dalam format kompetisi, walaupun, misalnya, masuk dalam tipologi bangunan yang sama. IAI Award akan memberi bobot kepada masing-masing karya sesuai dengan keberhasilannya menjawab kebutuhan dengan sukses. Kelihatan terlalu fungsional? Ya, karena bobot ini melihat keahlian dan kepekaan merancang dari sisi formal dan teknis. Walaupun demikian, sewajarnya ada sisi lain yang tidak kalah penting, yaitu sisi desain. Sisi yang bisa mendemontrasikan penguasaan arsitek atas berbagai aspek perancangan dan kemudian menawarkan pengembangan baru bentuk-bentuk arsitektur (sebagai contoh, di Amerika dibuat kategori khusus design advancement: advances the contemporary understanding of design by proposing new approaches to the development of architectural form).
Pada saat ini, selain melalui proses perancangan ‘konvensional’, ada beberapa kesempatan lain yang terbuka untuk menghasilkan sebuah karya utuh. Bergesernya porsi pemilik dari Pemerintah ke Swasta (bisnis komersil) serta maraknya kerjasama dengan arsitek asing mengakibatkan tumbuhnya pembagian proses pekerjaan desain. Kalau dulu arsitek lokal, atau biro arsitek, dapat mengerjakan sebuah desain bangunan secara menyeluruh, kini tidak selalu begitu. Beberapa ‘hak turun-temurun’nya hilang dan diambil oleh rekan asing. Lingkup pekerjaannya terbatas pada design development dan working drawing saja. Tentu, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang sederhana. Apalagi biasanya terjadi pada proyek berskala besar. Pekerjaan seperti ini membutuhkan waktu berbulan-bulan dan diisi dengan pekerjaan pendokumentasian berstandar tinggi. Yang menggelitik: mungkinkah proses pekerjaan seperti ini diberi penghargaan?
Selain harus dilihat pada konsistensi hasil karya, ada kemampuan lebih yang harus dimiliki oleh arsitek atau biro lokal dalam bekerjasama baik dengan asing maupun sesama lokal. Dengan kata lain, penghargaan diberikan bukan untuk karya arsitektur tetapi kepada pelakunya. Karena hampir tidak mungkin dikerjakan sendirian maka penghargaan, melalui kriteria tertentu, selayaknya diberikan kepada biro arsitek. Issue ini mungkin sedikit keluar dari gagasan awal IAI Award, tetapi sumbangan mereka terhadap arsitektur sungguh besar. Lagi pula, pada saat kompetisi terbuka seperti sekarang, alangkah pantasnya menghargai para pelakuyang gagah berani, sekaligus memberikan encouragement bagi yang lain.
IAI Award 1996 sedang berjalan dan kegiatan penghargaan kali ini mempunyai posisi yang memikat. Karya arsitektur yang masuk akan memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus. Pertama, tentu saja, mengisi lebih lengkap baris curriculum vitae arsiteknya. Kedua, selain untuk IAI Award juga bisa diikutkan pada PU Award dan ARCASIA Award. Lainnya, adalah karya akan tercatat dalam database IAI serta, menang atau tidak, diterbitkan dalam buku dan cd-rom karya arsitek Indonesia.
Jangan tenang-tenang. Ayo bergegas! Karya Anda ditunggu di IAI …


No Responses Yet to “tentang iai award”