10 taman kota

kali ini tulisan ringan saja, mengisahkan acara tutup tahun 2018 kemarin yang mungkin akan menjadi kebiasaan selanjutnya.

waktu menjelang tutup tahun 2017, karena juga sedang bersemangat lari dan berlarian, maka dirancang lari tutup thaun dengan mengunjungi beberapa taman kota di area jakarta pusat. waktu itu didapat 8 taman kota, besar dan kecil, yang resmi dinyatakan sebagai taman berdasarkan peraturan pemprov dki jakarta.

menjelang tutup tahun 2018 kemarin, mengapa tidak melakukannya lagi. pertama, karena -namanya juga olahraga- menyehatkan. kedua, melihat perkembangan taman-taman yang setahun sebelumnya dikunjungi. ketiga, udara bulan desember cukup nyaman; tidak terlalu panas, suasana libur membuat lalu lintas sedikit lebih sepi -artinya sedikit lebih aman untuk berlarian di sisi jalan- dan public park hopping juga tema yang menarik untuk acara tutup tahin.

apa yang diperoleh dengan berkunjung ulang?

yang positif:

1. jumlah taman bertambah. tahun 2017 mengunjungi 8, tahun kemarin bisa mengunjungi 10 taman. itu juga masih ada 2 taman lain yang terlewatkan karena baru tahu belakangan.

2. pada taman-taman yang populer, jumlah pengguna, untuk berbagai keperluan, juga bertambah banyak. apakah jakarta makin sumpek sehingga makin banyak yang memerlukan ruang publik yang nyaman? atau karena libur akhir tahun sehingga lebih banyak yang bisa meluangkan waktu di ruang luar?

3. akses menuju taman-taman itu lebih baik daripada sebelumnya, salah-satunya dengan bertambahnya pedestrian yang cukup memadai.

yang tidak berubah atau negatif:

1. sebagian dari taman-taman tersebut, terutama yang sejak dulu tidak popüler, tetap tidak banyak digunakan. mungkin, salah satu dari sekian banyak alasan, design taman-taman tersebut tidak dipikirkan untuk menerima para penikmat taman zaman now. misalnya, dipagar (dan pagarnya sebagian rusak), bangku-bangku yang dibuat seadanya, perkerasan dan pola tanaman yang cenderung seperti halaman rumah tinggal daripada taman kota.

2. sampah. untuk hal yang satu ini kita tetap belum bisa menghargai milik publik yang sepatutnya dihormati dan dipelihara bersama.

3. signage taman dengan huruf-huruf besar a.k.a jumbo text. pada beberapa taman tanda nama taman seperti ini justru mengganggu estetika visual. belum lagi kejahilan karena vandalisme yang akhirnya membuat tanda nama seperti itu jadi seperti barang rusak.

4. ada taman-taman yang relatif kecil dan akan tidak nyaman untuk digunakan. untuk taman-taman seperti ini sepatutnya dirancang dalam konteks estetika kawasan, tidak dirancang seperti taman-taman lain yang lebih besar.

berikut ini 10 taman yang dikunjungi:

presentation1

1. taman (di jalan) sukabumi

2. taman situlembang

3. taman suropati

4. taman kodok

5. taman menteng

6. taman panarukan

7. taman (di jalan) pekalongan

8. taman lawang

9. taman viaduct latuharhari

10. taman (di jalan) karawang

dua taman yang terlewat adalah taman (di jalan) diponegoro di depan rscm, dan taman kudus di depan stasiun kereta dukuh atas. mungkin ada beberapa taman lain yang terlewatkan .. baik untuk lari tutup tahun 2019 nanti, sebelum bergeser ke taman-taman kota di area jakarta yang lain.

 

Advertisements

UU Arsitek – what next

11 Juli 2017 UU Arsitek diundangkan.

Banyak harapan dan peluang, dan tentu saja tantangan, ditumpukan kepada UU ini. Kaum arsitek sudah menunggu sejak belasan tahun lalu untuk mendapatkan UU ini sebagai pengakuan negara terhadap kemampuan tenaga ahli (arsitektur) bangsa sendiri. Sebagai ingatan, lembar-lembar kertas pertama yang menuliskan mengapa UU Arsitek diperlukan dilakukan tahun 2000! Belum lagi obrolan, diskusi serius, sampai seminar dan sarasehan, sudah dilakukan sebelum mulai menulis.

Namun, setelah UU ini diterbitkan, tidak serta merta keesokan harinya dunia berubah. “Kenaikan kelas” profesi arsitek dari unregulated ke tingkat regulated profession memerlukan perjalanan yang mungkin tidak kalah lama. Pertama, UU mengamanatkan peraturan pelaksanaan dibawahnya berupa peraturan pemerintah tentang tata cara penerbitan lisensi dan pengenaan sanksi administratif, dan peraturan menteri untuk standar kinerja arsitek, surat tanda registrasi arsitek, pengawasan arsitek asing, dan pembinaan profesi arsitek. Kedua, profesi ini perlu membangun sebuah mekanisme mewakili semangat peer group – peer review dalam menilai dan menetapkan seorang sarjana arsitektur menjadi arsitek. Mekanisme yang di dunia lazim dikenal sebagai Board of Architects, sangat disayangkan, tidak dapat dicantumkan di dalam UU Arsitek. Hampir separuh materi dihapus dari draft final, dan kemudian diberikan kewenangan membentuk board itu kepada Ikatan Arsitek Indonesia.

Ketiga, profesi ini juga perlu membangun sistem pendukung praktik keprofesian bersama-sama dengan para pemangku kepentingan. Sistem-sistem ini antara lain professional indemnity insurance, perhitungan honorarium yang baik dan memadai sesuai beban dan tanggung jawab arsitek, mekanisme honorarium arsitek harus dibayar tepat waktu – tepat jumlah, dan sebagainya.

Keempat, capacity building arsiteknya sendiri. Menyangkut bukan sekedar memenuhi standar kinerja minimal, tetapi meluas sampai wawasan dan pengetahuan berarsitektur, taat pada kode etik dan kaidah tata laku, menguasai berbagai pendukung berpraktik seperti jenis surat persetujuan kerja, kontrak kerja, permodalan dan pemasaran jasa arsitek.

Kelima, menyusun lini masa dan target-target selaras dengan visi dan misi profesi arsitek di Indonesia, karena hampir mustahil segala hal di atas itu dapat dicapai dengan instan. Mi instan saja tetap butuh waktu untuk masak air 🙂

Banyak ya pekerjaan rumahnya. Hayuk kita bagi beban bersama dan mulai menyiapkannya. Sekarang.

Salam, e.

special needs are indeed special

copy article from http://clara-indonesia.com/those-with-special-needs-are-indeed-special/

Those With Special Needs Are Indeed Special

 

Tiba-tiba saya tersadar, ‘hidup adalah pilihan’ hanya berlaku untuk proses menjalani hidup itu sendiri. Terdengar seperti pepatah yang indah, bukan? Sebagai manusia, kita diberikan kebebasan bertindak sesuai dengan pilihan masing-masing.

Tidak ada satupun makhluk yang dapat menentukan pilihan sebelum Ia terlahirkan di dunia. Seperti dalam hal fisik. If I could ever choose, then I would definitely ask for a face like The Duchess of Cambridge and marry my prince charming. But, turns out life does not work that way.

unnamed

The Flowers # 2 by Banu Gunottama (Foto. Dok. Pullman Thamrin Jakarta)

Beberapa waktu lalu, saya sempat menyaktikan pameran lukisan karya 25 pelukis muda penyandang autisme. Pameran tersebut sanggup membuat saya kembali merefleksikan hidup ini. Tajuk acara yang menyebutkan “25 Magic paintings done by the talented little angels with autism from Yayasan Daya Pelita Kasih” sungguh sangat deskriptif. They are indeed little angels.

Setiap lukisan seolah memiliki kekuatan magis untuk menyihir para tamu. Membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka yang berkebutuhan khusus dapat berkarya, sedangkan banyak yang terlahir normal memilih untuk bermalas-malasan dan tidak memiliki semangat hidup?

unnamed-2

Kiri: Somewhere in Someplace by Diego Luister Berel, Kanan: Rescue The Princess by Fero Adhi Mada Sardjono (Foto: Dok. Pullman Jakarta Indonesia)

Pameran yang berlangsung hanya sampai tanggal 29 Juli 2018 ini dapat Anda kunjungi di Hotel Pullman Jakarta Indonesia, yang berlokasi di Thamrin, Jakarta Pusat. Anda juga dapat turut berkontribusi membantu Yayasan Daya Pelita Kasih dengan membeli hasil karya mereka. And, I hope this exhibition could change your perspectives in seeing life, just like how it has done to mine.

kilas balik 2017

IMG_5882

setidaknya ada dua pencapaian besar pada tahun 2017. yang pertama adalah diundangkannya undang-undang arsitek (uu-ar) sebagai uu no. 6 tahun 2017. kalau dihitung sejak pertama kali naskah akademis ditulis, uu-ar ini menempuh perjalanan tidak kurang dari tujuh belas tahun! sebagai catatan sejarah, uu-ar disetujui oleh dpr melalui sidang paripurna tgl. 11 juli 2017, disahkan oleh presiden dan diundangkan oleh menteri hukum dan ham tgl. 8 agustus 2017, dan akhirnya tercatat sebagai lembaran negara no. 179.

pencapaian kedua adalah berhasil menerbitkan buku sudut pandang. buku ini merupakan kumpulan tulisan bersama sahabat saya bambang eryudhawan, dan sudah diangan-angan sejak tahun 2016. dengan bantuan biaya penerbitan dari sahabat saya yang lain jusuf setiadi, foto sampul yang keren oleh anak saya bhagas nissreyasa, dan layout buku yang ok oleh rully jatmiko, pemesanan dini buku diluncurkan bulan mei 2017. dengan bantuan dan dukungan dari ria febriyanti dan [pda], buku-buku mulai dikirimkan kepada pemesan bulan desember 2017. cara penjualan buku sendiri ini cukup baik karena pada pemesanan awal sudah mendapat 155 pesanan. semua sudah terkirim per desember tahun 2017. yang menggembirakan, saat ini sudah mulai masuk pesanan berikutnya. alhamdulillah ..

sesungguhnya ada banyak sekali pencapaian yang diperoleh tahun 2017, dan demikian pula kegagalan yang dialami. semua merupakan nikmat dan rahmatNYA .. dan pasti merupakan rencanaNYA yang terbaik untuk saya.

selamat tahun baru 2018!

Sudut Pandang lagi

IMG_9009

alhamdulillah .. pengiriman buku sudah dilakukan sejak dua hari lalu. pesanan perdana tercatat sebanyak 250-an buku tetapi pada akhirnya baru sekitar 150-an yang meneruskan pemesanan. yang lain mungkin terlupa, karena pesanan dibuka sejak bulan april-mei lalu, dan perlu diingatkan kembali. tiga pemesan sudah menerima buku, dan dua diantaranya memberi komentar sangat positif terhadap isi buku. mudah-mudahan yang lain berkenan memberi tanggapannya.

hal lain, mungkin akan ada acara bedah buk, sekitar februari 2018.