arsitektur indonesia?

13Jan08

Hari ini saya mendapat pencerahan dari Kompas Minggu.

Yang pertama, melalui parodinya Samuel Mulia. Pada intinya, ia mengajak kita untuk selalu berpikir positif. Bukan ajakan baru, bukan? Tetapi yang mencerahkan adalah, ia mengajak untuk melihat positif dan negatif tidak sebagai tanda plus dan minus, yang kemudian dilihat sebagai menambah dan mengurangi. Ia mengundang untuk melihat positif dan negatif seperti tuts piano hitam dan putih. Tidak berfungsi satu-satu melainkan harus dimainkan bersamaan untuk memperoleh hasil yang indah.

Yang kedua, dari kolom Asal-Usulnya Mohamad Sobary. Saya tidak ingin mempersoalkan pembelaannya terhadap penelitian pesanan, tetapi ingin mengutip paragraf tentang perlunya membangun kepercayaan. Belajar menaruh hormat dan membangun trust antar sesama, dalam profesi maupun kehidupan pribadi. Menurut saya, ini hal besar. Bangsa ini sedang krisis kepercayaan. Terhadap apapun, atau terhadap siapapun. Saling curiga dan mencurigai. Tidak percaya bahwa masing-masing pihak bekerja dengan adil dan tanpa konflik kepentingan. Katanya, curiga itu secara etis dan moral dilarang, tetapi orang boleh curiga asal kecurigaan itu disalurkan kedalam kerja untuk membuktikan bahwa tak ada yang bisa membantah kecurigaannya. Jadi, pada satu saat kita memang harus menghentikan kecurigaan dan ketidakpercayaan, kemudian bekerja keras saja sebaik-baiknya. Sesuai dengan bidang keahlian kita. Kalau semua melakukan hal yang sama, tentu hasilnya juga nyata.

Yang terakhir adalah yang paling menarik saya. Artikelnya Maria Hartiningsih tentang Amrih Widodo yang bicara mengenai budaya lokal dalam wacana global. Isinya antara lain tentang aras auratic culture dan democratic culture. Aras auratic percaya bahwa makna berada pada saat proses produksi; keaslian terkait dengan auranya, dengan rohnya, dengan energi yang ada pada masyarakat disekitarnya. Aras democratic melihat makna berada pada proses konsumsi. Dimanapun, sebuah produk (budaya) dapat dikonsumsi, bahkan diluar komunitasnya sendiri, dan dapat direproduksi secara steril. Tidak diperlukan adanya roh dan aura masyarakat pembuatnya. Mereka hanya dilihat sebagai asal muasal produk tersebut. Sebagai penanda saja. Mau dipakai untuk apa tak ada hubungannya dengan bagaimana seharusnya dipakai. Contohnya, seperti perumahan bergaya arsitektur klasik. Hanya sebagai penanda bahwa di suatu tempat ada gaya tersebut, tidak penting apakah cocok untuk iklim dan gaya hidup Indonesia.

Saya ingin memanfaatkannya untuk tema arsitektur Indonesia. 26 tahun yang lalu para arsitek kumpul di Jogja dan mencari apakah itu arsitektur Indonesia. 25 tahun kemudian, pada tahun 2007, diberbagai kesempatan, pertanyaan itu muncul kembali. Jawaban yang muncul juga mirip: arsitek praktisi dan akademisi memberikan pandangan dan gagasan tentang apa dan bagaimana, tetapi tetap tidak bisa menjawab dengan sederhana yang seperti apa arsitektur Indonesia.

Pencerahan hari ini menambah keyakinan saya tentang pencarian tersebut. Pertama, selalu berpikir positif dan rela bekerja keras. Tidak harus gelisah kapan harus tercapai atau bagaimana kalau tidak tercapai. Kemudian, kalau kita memang hidup dengan roh dan jiwa Indonesia, maka arsitektur yang dihasilkan akan menjadi arsitektur Indonesia. Aura yang bagus, maka baguslah karya arsitektur Indonesia. Kalau roh dan jiwanya rusak dan penuh kecurigaan, mohon maaf kalau pencapaiannya juga nihil.



No Responses Yet to “arsitektur indonesia?”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: