asean mra

16Jan08

Pada tgl. 19 November 2007, negara-negara ASEAN menandatangani kesepakatan tentang pedoman pengaturan praktik arsitek. Kesepakatan ini adalah ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) on Architectural Services, bagian dari ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) yaitu program liberalisasi perdagangan dan jasa di tingkat ASEAN.

Salah satu tujuan utama MRA adalah memfasilitasi mobilitas arsitek, khususnya untuk kerja lintas batas di dalam wilayah ASEAN.

Secara sederhana prinsip MRA adalah mengijinkan seorang arsitek dari satu negara ASEAN untuk berpraktik dimanapun diseluruh negara-negara ASEAN, dengan terlebih dahulu mendaftarkan dirinya menjadi ASEAN Architect (AA).

Untuk menjadi AA, persyaratan kualifikasinya antara lain:

1. Menyelesaikan pendidikan arsitektur dalam program pendidikan penuh (full time basis) tidak kurang dari 5 tahun pada universitas yang diakreditasi.

2. Memiliki sertifikat keahlian dari negaranya (country of origin).

3. Mempunyai pengalaman kerja minimal 10 tahun, dimana sekurang-kurangnya 5 tahun pengalaman diperoleh setelah memegang sertifikat keahlian, dan didalam 5 tahun ini minimal 2 tahun bertanggung-jawab untuk pekerjaan arsitektur besar.

4. Mengikuti sepenuhnya program pengembangan keprofesian berkelanjutan (continuing professional development) di negara masing-masing.

5. Tidak melakukan pelanggaran teknis dan atau etika profesi yang dinyatakan oleh penerbit sertifikat keahlian di negara masing-masing.

Setelah menjadi AA maka arsitek bersangkutan mempunyai hak untuk berpraktik di negara tujuannya (host country), tentu saja dengan kewajiban mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di negara tujuan tersebut, dan mendaftakan dirinya sebagai Registered Foreign Architect (RFA). Sebagai catatan, biaya pendaftaran sebagai RFA yang ditetapkan oleh negara tujuan tidak boleh lebih tinggi daripada biaya yang harus dibayar oleh arsitek setempat. Kemudian, setelah menjadi RFA, arsitek bersangkutan boleh berpraktik secara independen maupun bekerjasama dengan arsitek setempat.

Institusi yang mengatur kesepakatan ini ada beberapa tingkat. Pada masing-masing negara, diatur oleh sebuah Professional Regulatory Authority (PRA, di Indonesia ini adalah LPJK), sekaligus bertindak sebagai monitoring committee. Pada tingkat yang lebih tinggi, dibentuk Asean Architect Council (AAC) yang anggotanya adalah wakil dari monitoring committee masing-masing negara ASEAN.

MRA dinyatakan berlaku sejak ditandatangani, dan negara yang menyatakan ingin mengikuti program ini harus membuat pernyataan tertulis kepada Sekjen ASEAN tentang tanggal mulai keikutsertaannya. Apabila ingin menghentikan keikutsertaannya, negara bersangkutan harus membuat pernyataan tertulis minimal 12 bulan sebelumnya.



5 Responses to “asean mra”

  1. aku setuju setuju aja sih ma kerjasama antar negara negara ASEAN tersebut dalam bidang architecture, kalau bisa jangan hanya bidang ini saja, bidang kedokteran atau bidang bidang teknik yang lain, misal teknik mesin, elektro dan fisika

  2. 2 e

    ya, memang ada kesepakatan serupa untuk bidang teknik yang lain, tetapi saya masih harus mencari info tambahan dulu apakah kesepakatan ini juga ada di bidang non teknis.

    salam, e.

  3. 3 e

    sejauh info yang saya terima pagi ini, mutual recognition arrangement juga termasuk untuk bidang perawat/nursing. tetapi tidak ada info bahwa, misalnya, para dokter atau para ahli hukum juga membuat kesepakatan dalam konteks mra ini.


  1. 1 Ini Dia Persyaratan Kualifikasi ASEAN Architect | kabArsitektur|com
  2. 2 Menuju MEA, Mengamati MRA di Bidang Keinsinyuran | imedimud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: