ambon manise

02Feb08

Tiga hari terakhir bulan Januari 2008 saya berada di Ambon bersama tim Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA). Ambon menjadi tempat rapat untuk progress report dan evaluasi pekerjaan pendataan benteng-benteng, sekaligus site visit untuk melihat beberapa contoh benteng.

Tim lengkap yang hadir terdiri dari pihak-pihak yang bekerjasama yaitu PDA, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) dan tim dari Belanda (wakil kedutaan besar Belanda, ahli sejarah dan arsitek).

Tentang PDA akan saya ceritakan tersendiri. Saat ini saya ingin berbagi sedikit tentang kegiatan PDA di Ambon, dan tentang kota Ambon yang baru pertama kali saya lihat.

Pekerjaan pendataan benteng-benteng yang dilakukan oleh PDA meliputi wilayah seluruh Indonesia tetapi diawali dari Indonesia Timur yaitu Maluku dan Irian. Walaupun pada dasarnya pendataan adalah tentang arsitektur bangunan, tetapi kali ini PDA juga melengkapinya dengan kondisi masyarakat disekitar lokasi benteng. Selain itu, berbeda dengan pekerjaan pendokumentasian yang biasa dilakukan, yaitu dokumentasi lengkap gambar, foto dan sejarah, kali ini tahap pendataan baru sampai pada tahap inventori dan identifikasi. Tidak ada penggambaran detail yang rumit.

Sampai rapat kemarin sudah terdata sekitar 150-an benteng di Indonesia Timur. Ini mencakup lebih dari separuh benteng di Indonesia, dan lebih banyak daripada daftar awal yang ada di Budpar. Bukan main tinggalan sejarah kita! Dan ini baru bicara tentang benteng lho, belum type bangunan yang lain. Okay, yang dimaksud dengan benteng adalah defense buildings atau defense constructions. Bangunan untuk pertahanan. Jadi tanpa melihat bentuk dan ukuran, semua didata sebagai benteng. Pendataan ini sekaligus meng-update data milik pemerintah/Budpar yang hasilnya kelak bisa dipakai untuk program konservasi atau pengembangan benteng sebagai fungsi baru.

Sekarang sedikit tentang kota Ambon. Kesan pertama: hijau, berbukit, laut, dan tidak sangat panas seperti biasanya kota pantai. Barangkali karena datang dalam musim hujan? Saya tinggal disebuah hotel bintang tiga setinggi 6 lantai. Salah satu gedung tertinggi di Ambon. Hotel ini berada dekat dengan pusat kota dan pasar tradisional di pinggir pantai. Lazimnya pasar tradisional, pasar ini juga kumuh, ramai dan berisik. Angkot ngetem sembarang tempat dan klakson mobil menyalak terus setiap saat.

Dari lantai paling atas hotel kita dapat melihat sebagian besar kota, dan mendapat kesan kota ini tidak mempunyai tata kota yang baik. Kelihatan jelas kepadatan bangunan yang sangat tinggi dan mulai merambah naik kearah perbukitan hijau disekitar kota. Saya juga tidak mendapatkan pola yang memudahkan pengguna kota berorientasi; walaupun demikian saya cukup senang karena tidak menemukan hutan ruko seperti kalau kita mengunjungi kota-kota lain di Indonesia. Apakah ini menggambarkan bisnis yang kurang berjalan baik di Ambon?

Sedikit catatan tentang arsitektur kota. Ambon didominasi oleh bangunan rendah 3-4 lantai dengan arsitektur fungsional dan gaya bangunan tahun 80-an. Kesannya seperti Jakarta 20 tahun lalu dengan satu dua bangunan modern dalam pembangunan. Bangunan dengan langgam tradisional setempat tidak terlihat lagi, kecuali dalam bentuk maket di museum Siwa Lima. Mungkin ini akibat bombardemen pesawat Sekutu yang menghabiskan kota Ambon pada masa perang dulu?

 



3 Responses to “ambon manise”

  1. 1 Tan Iwan

    pariwisata apa yang bisa di kembangkan di ambon. Benteng apa yang baik untuk dikunjungi ? thanks untuk infonya.

  2. 2 e

    dari pengamatan sekilas, potensi pariwisatanya ada pada kondisi alam, termasuk lautnya, yang luar biasa indah, tinggalan benteng-benteng yang dapat dieksplor pemanfaatannya, makanan khas (ingat: rempah-rempah, dan makanan laut) serta … seni suara. saya pikir ramuan dari kelebihan-kelebihan ini akan mampu melesatkan pariwisata kepulauan maluku.
    benteng yang baik dikunjungi antara lain fort amsterdam di ambon dan fort belgica di banda. keduanya bahkan bisa dicapai dari arah laut.

  3. Thanks Krn dah berkunjung di Kota Kami Ambon Manise…

    mhmhmh,,, Kebetulan Anda Tinggalnya di kawasan PASAR….
    kalo ngga salah HOTEL AMANS yah ???

    mhmhmhm,, Di situ emang t4nya pasar tradisional jadi pastinya seperti rata2 pasar tradisional di Indonesia…

    Kalo misal anda tinggal di kawasan hotel mutiara ato hotel manise, ato amboina… pasti anda bisa melihat indahnya KOTA AMBON disamping alamnya…

    Btw tenkyu dah Promosi Ambon Yah..

    God Bless..

    Comment ME BAcK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: