pendidikan arsitektur

07Feb08

Salah satu hal penting berkaitan dengan Undang-Undang Arsitek adalah kualitas pendidikan arsitektur. Disini saya kutip pedoman untuk pembuatan standar kualitas tersebut yang disiapkan oleh perserikatan asosiasi arsitek dunia Union of International Architects (UIA). Dengan mempelajari pedoman ini setidak-tidaknya kita akan mengetahui standar pendidikan arsitektur sekaligus kesepakatan aturan main dunia, hal yang kelak akan menjadi akses untuk pengakuan (akreditasi) dan prasyarat keahlian (kompetensi).

Ada 37 butir pengetahuan dasar (yang seharusnya dikuasai oleh) sarjana arsitektur. Basic knowledge for architecture graduates. Butir-butir ini dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu kelompok pengetahuan dasar yang cukup dikuasai setara dengan Awareness (be aware of), kelompok Understand (comprehensively understand) dan kelompok Ability (be able to do it).

Untuk mahasiswa dan sarjana baru arsitektur, pedoman ini bagus juga dipakai untuk mengukur kemampuan diri sendiri, dan bertanya kepada dosen bila ada pengetahuan yang tidak diajarkan …

 

1. Ketrampilan verbal (Verbal Skills)

Kemampuan untuk berbicara dan menulis secara efektif mengenai materi dalam kurikulum profesional.

2. Ketrampilan grafis (Graphic Skills)

Kemampuan untuk menggunakan media presentasi yang tepat, termasuk teknologi komputer, untuk menyampaikan pada setiap tahapan perancangan, unsur-unsur penting dalam program bangunan serta perancangan arsitektur dan urban.

3. Ketrampilan riset (Research Skills)

Kemampuan untuk melakukan metode dasar pengumpulan data dan analisis untuk menerangkan semua aspek pemrograman dan proses perancangan.

4. Ketrampilan berpikir kritis (Critical Thinking Skills)

Kemampuan untuk membuat analisa dan evaluasi menyeluruh dari sebuah bangunan, kompleks bangunan atau ruang urban.

5. Ketrampilan dasar merancang (Fundamental Design Skills)

Kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip dasar pengorganisasian ruang, struktur dan konstruksi ke dalam konsepsi dan pengembangan ruang interior dan exterior, unsur-unsur serta komponen bangunan.

6. Ketrampilan bekerjasama (Collaborative Skills)

Kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengambil peran yang memaksimalkan bakat individual, dan kemampuan untuk bekerjasama dengan siswa-siswa lain ketika bekerja dalam suatu tim perancangan.

7. Perilaku manusia (Human Behavior)

Kepekaan terhadap teori dan metode pertanyaan yang bertujuan memperjelas hubungan antara perilaku manusia dan lingkungan fisik.

8. Keragaman manusia (Human Diversity)

Kepedulian akan keragaman kebutuhan, nilai, etika, norma perilaku, serta pola sosial dan spasial yang membedakan berbagai kebudayaan, dan implikasi dari keragaman itu untuk peran sosial dan tanggungjawab arsitek.

9. Sejarah dan preseden (History and Precedent)

Kemampuan membuat rasionalisasi preseden bentuk dan program dan mampu menerapkannya pada konsep dan pengembangan proyek-proyek arsitektur dan urban.

10. Tradisi nasional dan lokal (National and Local Traditions)

Pemahaman tentang tradisi nasional dan warisan lokal regional dalam rancangan arsitektur, lansekap dan urban, termasuk tradisi vernakular.

11. Tradisi Timur (Eastern Traditions)

Pemahaman tentang aturan dan tradisi Timur dalam perancangan arsitektur, lansekap, dan urban, serta faktor cuaca, teknologi, sosioekonomi dan faktor-faktor lainnya yang telah membentuk dan mempertahankannya.

12. Tradisi Barat (Western Traditions)

Kepekaan terhadap keseragaman sekaligus keragaman aturan dan tradisi perancangan arsitektur dan urban di dunia Barat.

13. Pelestarian lingkungan (Environmental Conservation)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar ekologi dan tanggungjawab arsitek dalam hubungannya dengan pelestarian sumber daya dan lingkungan dalam perancangan arsitektur dan urban.

14. Aksesibilitas (Accessibility)

Kemampuan untuk merancang tapak dan bangunan untuk mengakomodasikan individu dengan kemampuan fisik yang bermacam-macam.

15. Kondisi tapak (Site Conditions)

Kemampuan untuk menjawab karakter alam dan lingkungan buatan pada tapak dalam pengembangan program dan perancangan proyek.

16. Sistim tata bentuk (Formal Ordering Systems)

Pemahaman tentang dasar-dasar persepsi visual dan prinsip-prinsip sistim tatanan pada rancangan dua dan tiga dimensi, komposisi arsitektur dan perancangan urban.

17. Sistim struktur (Structural Systems)

Pemahaman mengenai perilaku struktur dalam menahan gravitasi dan gaya-gaya lateral serta evolusi rentang dan penerapan yang tepat dari sistim struktur kontemporer.

18. Sistim penyelamatan pada bangunan (Building Life Safety Systems)

Pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar rancangan dan pemilihan sistim dan subsistim penyelamatan pada bangunan.

19. Sistim sampul bangunan (Building Envelope Systems)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip rancangan sistim penutup luar bangunan.

20. Sistim lingkungan ruang bangunan (Building Environmental Systems)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar rancangan sistim struktur bangunan, sistem lingkungan, termasuk pencahayaan, akustik dan pengkondisian ruang serta pemakaian enerji.

21. Sistim pelayanan bangunan (Building Service Systems)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar rancangan sistim pelayanan bangunan, termasuk pemipaan, transportasi vertikal, komunikasi, keamanan dan perlindungan kebakaran.

22. Integrasi sistim-sistim bangunan (Building Systems Integration)

Kemampuan untuk menilai, memilih dan menyatukan sistim struktur, sistim penutup bangunan, sistim lingkungan, pelayanan dan penyelamatan, ke dalam suatu rancangan bangunan.

23. Tanggung jawab hukum (Legal Responsibilities)

Pemahaman tentang tanggung jawab hukum arsitek dalam kaitannya dengan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan masyarakat; hak properti, aturan dalam zoning dan subdivisi; peraturan bangunan, aksesibilitas dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi rancangan bangunan, konstruksi dan praktek arsitektur.

24. Kepatuhan terhadap peraturan bangunan (Building Code Compliance)

Pemahaman tentang persyaratan dan peraturan bangunan, standar yang dapat diterapkan pada tapak tertentu, termasuk klasifikasi penggunaan, tinggi dan luasan bangunan yang diijinkan, tipe konstruksi yang diijinkan, persyaratan pemisahan, persyaratan penggunaan, alat evakuasi, perlindungan kebakaran dan struktur.

25. Bahan bangunan dan pemasangannya (Building Materials and Assemblies)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip, konvensi, standar-standar, aplikasi dan batasan pembuatan, penggunaan dan pemasangan bahan-bahan bangunan.

26. Ekonomi bangunan dan pengendalian biaya (Building Economics and Cost Control)

Kepekaan terhadap dasar-dasar pembiayaan bangunan, ekonomi bangunan dan pengendalian biaya konstruksi dalam kerangka proyek perancangan.

27. Pengembangan detail rancangan (Detailed Design Development)

Kemampuan untuk menilai, memilih, menyusun dan merinci sebagai suatu bagian utuh perancangan, serta menyusun dengan tepat bahan dan komponen bangunan untuk memenuhi persyaratan program bangunan.

28. Dokumentasi grafis (Graphic Documentation)

Kemampuan untuk membuat deskripsi teknis yang akurat dan dokumentasi suatu proposal perancangan untuk tujuan penilaian dan konstruksi.

29. Perancangan menyeluruh (Comprehensive Design)

Kemampuan untuk menghasilkan sebuah proyek arsitektur diawali dengan program yang menyeluruh sejak rancangan skematik hingga pengembangan detail termasuk program ruang, sistim struktur dan lingkungan, perlengkapan penyelamatan, dinding-dinding dan elemen bangunan, serta untuk menilai hasil akhir proyek itu sesuai dengan kriteria perancangan.

30. Penyiapan program (Program Preparation)

Kemampuan untuk menyusun program komprehensif untuk proyek perancangan arsitektur, termasuk menilai kebutuhan pemberi tugas, telaah kritis mengenai presen bentuk, inventarisasi ruang dan persyaratan peralatan, definisi kriteria pemilihan tapak, analisa kondisi tapak, telaah hukum dan standar-standar yang berlaku, penilaian implikasi unsur-unsur tersebut terhadap proyek, serta definisi kriteria penilaian perancangan.

31. Konteks hukum praktik arsitektur (The Legal Context of Architecture Practice)

Kepekaan terhadap berkembangnya konteks hukum tempat arsitek berpraktek, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan registrasi profesional, kontrak jasa profesional serta pembentukan usaha jasa perancangan.

32. Organisasi dan manajemen praktek (Practice Organization and Management)

Kepekaan terhadap prinsip-prinsip dasar organisasi kantor, kepemimpinan, rencana usaha, pemasaran, negosiasi dan manajemen keuangan, sebagaimana dapat diterapkan pada praktek arsitektur.

33. Dokumentasi dan kontrak (Contracts and Documentation)

Kepekaan terhadap berbagai metode penyelesaian proyek, format kontrak jasa yang sesuai, dan tipe dokumentasi yang diperlukan untuk memberikan jasa profesional yang kompeten dan bertanggung jawab.

34. Pemagangan (Professional Internship)

Pemahaman mengenai peran permagangan dalam pengembangan profesional, serta hak-hak dan tanggung jawab silang antara pemagang dan pembimbing.

35. Penghayatan peran arsitek (Breadth of the Architect’s Role)

Kepekaan terhadap pentingnya peran arsitek dalam insepsi proyek perancangan dan pengembangan rancangan, administrasi kontrak, termasuk pemilihan dan koordinasi disiplin ilmu lain, evaluasi setelah penggunaan dan manajemen fasilitas.

36. Kondisi masa lalu dan akan datang (Past and Present Conditions for Architecture)

Pemahaman tentang perubahan-perubahan yang terjadi karena pengaruh sosial, politik, teknologi, dan ekonomi -masa lalu dan masa kini- atas peran arsitek terhadap lingkungan binaan.

37. Etika dan penilaian profesional (Ethics and Professional Judgement)

Kepekaan terhadap masalah etika dalam pengambilan keputusan yang profesional dalam praktek dan perancangan arsitektur.



17 Responses to “pendidikan arsitektur”

  1. wah lumayan banyak juga ya… berarti sulit dong jadi lulusan arsitek yang benar benar harus “arsitek”.
    tapi kesemua materi tersebut emang harus bsia dikuasai oleh para arsitek sih.
    punya saran..

    kalau gak bisa menguasai semua ya jangan ditinggal semua….

  2. 2 laras

    memang susah ya jadi arsitek, udah gitu imbalannya kayaknya gak sebanding sama tanggung-jawab arsitek. anyway, saya rasa ukuran kemampuan dasar arsitek memang harus tinggi supaya hasilnya bisa dibanggakan, estetik tetapi tetap memperhatikan keselamatan. kalau udah bagus gitu baru bisa minta fee yang bagus. betul gak?

  3. 3 e

    ya, tidak seperti anggapan umum, sesungguhnya arsitek dibebani tanggung jawab yang besar menyangkut keselamatan, kesehatan dan keamanan pengguna karyanya, belum lagi tuntutan estetika arsitektur dan kewajiban bersikap melindungi lingkungan alam. ‘nggak heran kalau level kemampuan dasarnya saja tinggi dan komprehensif.
    untuk ukuran dan standar yang baik saya pikir kita mesti positif dan setuju … bukankah ini untuk kemajuan kita sendiri? udah jamannya kita bicara tentang quality of life …

    salam.

  4. 4 dian elviana

    kebanyakan dari mereka yang tidak mengetahui spesifikasi arsitek hanya mengira kalau arsitek itu hanya menggambar. Kenapa image arsitek hanyalah berputar pada gambar yang sebenarnya seperti yang kita tahu bahwa arsitek adalah designer. Bukan menggambar tapi merancang. Kalau mennggambar semua orang juga bisa tetapi arsitek mendesign suatu bangunan tidak hanya memperhatikan fungsionalnya saja, strukturnya saja, estetika saja, lingkungan disekitarnya saja, kenyamanan, utilitas, konsep designnya seperti apa, tetapi yang lebih penting rancangan arsitek selalu berhubungan dengan manusia dan alam dimana bangunan tersebut memiliki keunikan dan perbedaan yang lain dari mereka yang merancang bangunan tapi tidak dari tangan arsitek. Seharusnya rancangan seorang arsitek selalu peka dan berkarakter.

  5. 5 e

    dian, saya setuju pendapat anda bahwa seharusnya rancangan seorang arsitek selalu peka dan berkarakter. kalau dia tidak peka (terhadap alam, lingkungan, masyarakat, pemberi tugas, keindahan, keselamatan, .. dsb) maka saya bisa bilang dia belum menjadi arsitek yang baik. kalau kita mencari arsitek, dari mana kita tahu apakah dia peka dan berkarakter? mungkin dari karya-karyanya terdahulu, dan ajak ngobrol sebelum memastikan bahwa kita akan minta jasa dia. ngobrol jadi penting karena dari sana kita tahu apakah arsitek itu figur yang cocok dengan yang kita cari.

    salam, e.

  6. 6 Peb!

    arsitektur memang seorang dewa..??

  7. 7 e

    @ peb!: maksudnya arsitek kan? bukan, dia bukan dewa, tapi memang banyak yang harus dikuasai. seperti halnya juga pada ilmu yang lain. beberapa perguruan tinggi kita kayaknya juga punya ‘standar tinggi’ seperti itu, cuma tidak diteriakkan terbuka kepada umum?

    terima kasih sudah mampir. salam, e.

  8. 8 d k

    gut2,, sangat lugas dan gamblang sekali mengenai pencitraan terhadap seorang arsitek,,
    kesemuanya cukup menambah kepekaan cara pandang saya,,,
    boleh sering2 bertanya kan…?!
    misalnya ni saya pengin tanya tentang bagaimana dengan sisi idealisme,,kapan harus dominan & kapan harus diletakkan pada nomor kesekian iak,,!?!?Krn klo mnurut saya hal itu bisa berpengaruh terhadap kontrol “emosi” bagi tiap Arsitek,, dan masi banyak pertanyaan lagi sbenarnya,,,
    mav sbelumnya,, karena secara “de facto”(ini masih awal tahun ketiga saya) belum bs dkatakan sbgai Arsitek,, tp scara mindset saya terus “bermain” dalam kesenangan saya terhadap dunia ini,,
    terimakasih,,
    marii,,

  9. 9 bnn

    wahh.. makasih skali sudah posting butir-butir keramat buat para arsitek.
    Saya sangat setuju dengan itu. Dan terkadang dalam berproses banyak yang menjadi pertimbangan untuk perwujudan karya arsitektur. Istilahnya arsitek itu belajar semua ilmu, dari psikologi, ekonomi, sosiologi, bahkan agama. Saya kok tidak setuju ya, walaupun dalam konteks akademik, tapi calon arsitektur hanya menyelesaikan permasalahan bentuk, kulit bangunan saja. Ya memang banyak sudut pandang, konteks-konteks dalam menyelesaikan permasalahan arsitektural. Tapi kalau menyelesaikan permasalahan hanya dari segi bentuk, lalu kemudian keluar bentuk2 yang spektakuler, yang mencitrakan idealisme sang perancang yang penuh ego tanpa memandang siapa pengguna ruang dan apa yang sebenarnya dibutuhkan dari suatu ruang untuk mendukung kegiatan yang terjadi di dalamnya. Banyak proyek yang dijawab dengan menggunakan pendekatan analogi bentuk tapi tidak menyelesaikan kebutuhan yang sebenarnya “ingin diselesaikan di dalamnya”. Menjadi gamang, dan arsitektur cuma jadi seperti main lego. Saya lebih merasa puas dan ya puas, ketika saya bisa berproses dan kemudian menemukan bahwa bentuk atau wujud arsitektur itu justru muncul dari penemuan saya karena ingin menjawab kebutuhan penggunanya. Karena setiap proyek itu berbeda, bahkan proyek yang sama bisa mendapatkan perlakuan dan solusi yang beda. Kalau membuat bentuk yang “waton sangar”, spektakuler, melambangkan futurisasi, kemudian memaksakan pengguna, kegiatan, dan lingkungan untuk menyesuaikan diri di dalam ke-spektakuleran itu, menurut saya adalah suatu idealisme yang bohong. Sayangnya, saya juga masih menemukan hal-hal seperti itu, walau dalam konteks akademik, tapi orang-orang yang terjun di konteks akademik itulah sebenarnya yang jadi cikalnya arsitek masa depan. Maaf, ini hanya sebuah pandangan dan unek-unek seseorang yang melihat suatu keganjilan dalam ranah pembelajaran arsitektur.

  10. 10 eye_STUDIO

    makanya…
    yg namanya arsitek itu orgnya hebat2,.
    hanya saja masyarakat awam bnyak yg ga menyadari..
    bayarnya pke trima kasih doank…
    hidup arsitek..!!!!!!

  11. 11 e

    @ dk, bnn, eye_STUDIO: terima kasih sudah mampir dan kasih tanggapan. salam ..

  12. 12 hkb

    mw tanya nih..
    sy tertarik bgt sm arsitektur..
    apakah orang yg pengin kuliah ambil jurusan arsitektur hrs bisa ngegambar ??

    thx🙂

  13. 13 e

    @hkb: tidak mutlak harus bisa menggambar, tetapi memiliki kemampuan itu akan sangat membantu dalam berarsitektur. good luck.

  14. brarti cuma lulusan arsitek belum bisa dikatakan sebagai arsitek….? jadi penasaran gmn sech arsitek sebenarnya…… ?
    jadi semangat nech ngukur kemampuan diri……. tank’s atas informasinya…..
    good luck arsitek…

  15. 15 e

    kalo lulus sekolah sudah jadi sarjana arsitektur, tetapi belum jadi arsitek. harus lewat magang atau praktik kerja sekitar 2 tahun, kemudian ujian sertifikat .. hal seperti ini berlaku dimana-mana, di indonesia aja yang selama ini gak diatur. kalo sudah diatur kayak gini -sama seperti di negara lain- maka pembicaraan mengenai kerjasama dan kerja lintas batas bisa dilakukan dengan setara.
    terima kasih sudah mampir & salam, e.

  16. 16 hartantyo

    arsitektur semacam ilmu yang paling rakus, berhubungan dengan bidang ilmu yg lain…
    kayak yg dibilang mas bnn, ttg idealisme sang arsitek, namun dalam kenyataan desain sesuatu yang dianggap tabu kadang menjadi sebuah kebutuhan/yg dicari orang…(mungkin biar bayar arsiteknya biar murah)

    jadi harus bijak untuk berprofesi sbg arsitekt karena merupakan kebutuhan sekarang dan yg akan datang, dan tanggung jawab thd menusia, lingkungan


  1. 1 PERAN SOSIALISASI DAN PENDIDIKAN DALAM ARSITEKTUR | ridlaaulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: