masyarakat profesi?

13Mar08

Berapa banyak sarjana yang berprofesi pada jalur keahlian yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya selama kuliah?
Apakah pertanyaan sederhana ini penting?

Tidak ada angka yang solid untuk mengetahui berapa besaran tersebut. Informasi yang kerap didengar dari berbagai pembicaraan, angka itu tidak lebih besar dari 20%. Saya pikir ini bukan jumlah yang menggembirakan. Walaupun demikian, berapapun besaran angka itu, maka semua itu adalah 100% praktisi yang berada ditengah masyarakat. Hasil karyanya menjadi sumbangan yang menjadi nikmat masyarakat, atau sebaliknya, dapat membuat celaka masyarakat.

Sekedar untuk menyamakan persepsi, perlu saya sampaikan tentang apa yang dimaksud dengan profesi disini:
Profesi adalah suatu keahlian khusus dalam suatu bidang tertentu, dilatarbelakangi pendidikan tertentu pula, yang pada pemraktekannya menuntut kesungguhan dan tanggung jawab. Karena lebih dari sekedar bekerja (okupasi), maka menjalankan profesi selalu harus bersumber pada bagian yang terdalam dari diri manusia. Berprofesi adalah manifestasi dari panggilan nurani untuk berkarya dan mengamalkan ilmu serta keahliannya dengan memberikan karya yang terbaik yang dapat dihasilkan.

Baik bekerja sendiri atau bekerja untuk perusahaan, hasil karya seseorang tetap diikuti tanggung jawab profesional yang bersangkutan. Tetap tidak boleh ada malpraktik profesi. Secara langsung maupun tidak langsung, buah pikir dan hasil kerja profesinya harus memberi manfaat dan perlindungan bagi masyarakat dan lingkungan.

Oleh karena pada dasarnya karya profesional seyogyanya menjadi faktor dalam menyumbang kebaikan dalam hidup keseharian, saya pikir kita perlu memelihara kehidupan profesi yang layak dan sehat. Bahkan, meningkatkan jumlah profesional Indonesia. Ada banyak alasan praktis lainnya mengapa hal ini perlu dilakukan; misalnya mengangkat harkat dan keahlian bangsa sendiri, peluang pasar bebas-global dan memperkuat modal sosial masyarakat. Belum lagi alasan, misalnya, bahwa ada kemubaziran masal dengan “meninggalkan” ilmu yang diperoleh selama masa kuliah.

Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa tidak banyak sarjana yang berprofesi pada jalur keahlian yang sesuai dengan pendidikan yang diperolehnya selama kuliah? Secara umum jawabannya barangkali berkisar diantara beberapa hal ini:
– Apresiasi masyarakat terhadap profesi bersangkutan dianggap tidak memadai
– Tidak memberikan penghasilan materi sesuai yang diharapkan
– Kesempatan kerja yang tidak merata sehingga harus siap untuk bekerja di bidang apapun yang tersedia
– Tidak siap pakai/praktik, dan memerlukan waktu tambahan yang cukup lama untuk menambah pengalaman kerja sehingga mampu berpraktik dengan layak.
– Permintaan kualifikasi dunia praktik yang tinggi dan tidak setara dengan pendidikan yang diperoleh selama kuliah
– Tujuan kuliah untuk membuka pikiran dan membangun pondasi pengetahuan, selanjutnya itu dijadikan modal untuk bekerja di jalur manapun sesuai kepentingan pribadi masing-masing.

Mungkin sudah saatnya ada penelitian tentang hal ini?



No Responses Yet to “masyarakat profesi?”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: