arsitek kreak

16Mar08

:: Ada posting menarik dari Bauni Hamid, anggota IAI Sumut, di milis iai-architect. Dengan ijin ybs saya letakkan posting beliau disini. Selamat membaca. ::

Barusan saya melihat-lihat data program studi arsitektur di websitenya Dikti. Banyak yg menarik. Terutama melihat peringkat akreditasi beberapa program studi diperbandingkan dengan data program studi itu sendiri. Banyak yang “aneh”.

Saya tidak bermaksud mengomentari lebih jauh data akreditasi itu sendiri karena maksud hati mampir di website Dikti yang sesungguhnya untuk bisa lebih merenungi pertanyaan retorik tentang profesi arsitek. Dan ternyata memang ada lebih banyak lagi yang perlu direnungi, dikritisi dan tentunya lebih penting lagi untuk segera diantisipasi dalam rangka pembenahan profesi arsitek di negeri ini. Ada banyak potensi masalah terpendam yang dapat dibaca dari data tersebut.

Ringkasnya, sampai tahun akademik 2006/2007 telah ada 137 perguruan tinggi yang memiliki program studi arsitektur. Empat belas diantaranya tidak ada data, baru dapat ijin, atau mungkin menerapkan sistem buka-tutup modelnya jalan raya Puncak ketika musim liburan. Sisanya yang 123 program studi pada tahun akademik 2006/2007 tercatat total memiliki 19.283 mahasiswa, dan pada tahun akademik yang sama telah mengeluarkan lulusan 3134 sarjana arsitektur.

Untuk beberapa tahun kedepan rasanya angka-angka tersebut tidak akan berubah banyak. Dengan kata lain angka-angka ini juga bisa dijadikan acuan untuk melihat potensi tantangan atau malahan ancaman yang datang dari dunia pendidikan arsitektur sendiri yg saat ini belum tersistem baik (atau belum siap) terintegrasi dengan sistem pendidikan profesi yang seharusnya. Dan seharusnya juga upaya mengintegrasikan sistem kependidikan merupakan satu kesatuan upaya dalam memperbaiki sistem keprofesian arsitek yang saat ini tengah gencar dilaksanakan.

Saya tidak memiliki data yang relevan. Tapi rasanya asumsi angka rata2 10-20% dari lulusan pendidikan arsitektur yang pada akhirnya berprofesi sebagai arsitek cukup wajar. Berdasarkan asumsi tsb jika sistem telah siap setiap tahun setidaknya minimal ada 300 orang lulusan pendidikan arsitektur S1 yang siap mengikuti pendidikan profesi. Kenyataannya?

Ambil contoh kota Medan kalaulah boleh dijadikan rujukan mewakili sikon rata-rata untuk melihat lebih kritis konteks 120-an program pendidikan S1 arsitektur yang ada saat ini. Tahun 2007/2008 Dept. Arsitektur USU mulai menerima mahasiswa program profesi. Sebagai program yg pertama tidak hanya di Sumut juga di Sumatera seharusnya tidak sulit merekrut peserta program. Perguruan yg ada di Medan saja menghasilkan 100-150 lulusan S1 arsitektur setiap tahun. Berdasarkan asumsi tadi setidaknya 10-20 orang dari lulusan S1 akan siap meniti karir keprofesian arsitek, belum lagi ditambah lulusan dua-tiga tahun sebelumnya, belum lagi lulusan dari provinsi lain di Sumatera. Namun seperti yg sudah diduga, jalannya tidak mudah. Mendesaknya program pendidikan profesi bukan sekedar hitung2an di atas kertas.

Ada faktor2 lain berkaitan dgn sikon pendidikan S1 arsitektur yg perlu disiasati dan tentunya juga mendesak untuk segera diantisipasi. Ini perlu dilakukan agar upaya2 pembenahan profesi arsitek yg tengah dilakukan di level atas atau makro tidak dirusak/direcoki oleh persoalan2 yg dibuat oleh 3000-an sarjana arsitektur yg menetas dari sarangnya masing2 setiap tahun. Perlu diingat persoalan pembenahan sistem keprofesian arsitek tidak hanya menyangkut asumsi 300-an lulusan sarjana yg akan meniti karir profesi arsitek. Sisa lulusan yg hampir tiga ribuan kepala lainnya akan mewarnai mulus tidaknya upaya pembenahan dalam menjawab siap tidaknya arsitek negeri ini mengantisipasi desakan dari luar, regional maupun global, dan memperbaiki mumetnya sikon di dalam.

Ribuan sarjana arsitektur yg tidak menekuni profesi arsitek ini akan sangat memengaruhi perubahan persepsi masyarakat di luar sana tentang profesi arsitek. Yang paling kritikal tentunya peran mereka yg bekerja di dunia yg dekat dgn profesi arsitek: industri konstruksi, real estat, aparat pemerintah terkait, dsb. Disini bisa kita lihat betapa mendesaknya untuk segera mengambil tindakan tanggap darurat di semua program studi arsitektur agar bukan mereka sendiri justru menjadi agen penambah kekisruhan upaya reformasi profesi arsitek di negeri ini.

Setiap lulusan dalam batas2 tertentu akan memengaruhi orang lain di lingkungan sosialnya. Di lingkungan kerja saja misalnya secara sadar atau tidak sadar ia turut membentuk persepsi orang lain, mitra kerja, klien, dsb, tentang profesi arsitek. Persepsi ttg profesi arsitek yg ditularkan adalah yg dominan diperolehnya selama menjalani pendidikan S1 arsitektur baik di sekolah maupun dari luar (milis ini salah satunya). Yang menjadi masalah jika program studi tempat si lulusan tadi menuntut ilmu masih menganut paradigma lama. Parahnya lagi jika si lulusan sendiri kualitasnya bak kata orang medan “sarjana kreak” (e-nya dilafalkan khas dialek org Batak, maknanya lebih kurang: isi otak minus, kelakuan superfluous). Dan puncak keparahannya, lulusan model inilah yg paling pede ngaku sebagi arsitek. Jadilah dia arsitek kreak…

Bisa jadi argumen ini terlalu hiperbolik. Namun apa pun itu harus diakui peran strategis institusi pendidikan arsitektur yang jumlahnya 130-an saat ini dalam rangka membenahi sistem keprofesian arsitek. Penciptaan atmosfer pendidikan haruslah dikondisikan sedemikian sehingga lulusannya adalah lulusan yang minimal tidak mengacaukan upaya pembenahan sistem keprofesian arsitek!

Lagi2 merujuk ke Medan, dengan tujuh perguruan tinggi di kota ini yang memiliki program arsitektur yg masih aktif maupun yg on & off, saya pribadi masih melihat kecenderungan menghasilkan sarjana kreak atau malah arsitek kreak terus menggurita. Tadinya saya ragu menjadikan Medan sebagai acuan rata2. Namun setelah melihat kenyataan adanya 130-an program studi yg telah eksis di negeri ini, rasanya kekhawatiran saya tidaklah terlalu berlebihan.

Satu catatan lagi, mengenai pendidikan arsitektur yang lima tahun. Bagaimana menerjemahkan pendidikan arsitektur yang disyaratkan 5 tahun: 4+1, 3+2 atau malah 4+2. Isu ini sebenarnya sudah gencar mungkin sejak sepuluh tahun terakhir. Tetapi kalau mau melihat akar permasalahan tinjauannya harus diperluas lagi sampai dengan dua puluhan tahun yang lalu ketika program pendidikan arsitektur yg saat itu lima tahun justru dipotong secara bertahap hingga menjadi hanya empat tahun. Yang terjadi kemudian adalah kecenderungaan pemampatan program yang lima tahun menjadi empat tahun. Wajar hal ini terjadi, karena sisa program satu tahun yang dimaksudkan akan diisi untuk program profesi tak pernah berhasil direalisasi secara ideal.

Sementara itu dalam waktu dua puluh tahun tumbuh lebih seratus program studi arsitektur. Ribuan sarjana arsitektur telah diluluskan pada kurun waktu ini. Jika semua pengelola program studi konsisten, lulusan ini tentunya telah di-wanti2 bahwa mereka adalah sarjana (S1) arsitektur, bukan penyandang gelar profesional, perlu pendidikan lanjut profesi, dst. dst. Ironisnya diluar sana tak ada program profesi yg akan menjadi jembatan mereka yg berminat meniti profesi sebagai arsitek. Sementara spt disinggung tadi pendidikan empat tahun yg mereka tempuh substansinya tidak begitu berbeda dengan program professional degree yg lima tahun. Ini juga merupakan sisi lain dari pendidikan arsitektur kita saat ini yg secara tidak disadari turut memberikan sumbangan lahirnya sarjana dan arsitek kreak.

Perlu retrospeksi, napak tilas mengevaluasi kembali perubahan kurikulum pendidikan sarjana arsitektur dan saling keberkaitannya dgn sikon keprofesian arsitek selama kurun waktu dua dasawarsa terakhir. Sebelum akhirnya diputuskan bagaimana format pendidikan arsitektur lima tahun yang paling pas dengan sikon kita dan, utamanya lagi kesinambungannya dgn upaya komprehensif pembenahan sistem keprofesian arsitek di negeri ini.

salam, Bauni Hamid.



8 Responses to “arsitek kreak”

  1. arsitek!!!perlu dan harus tahu etika loo…khusunya etika thdp alam.

  2. 2 Gunawan

    Pak, Saya salah satu mahasiswa bimbingan Bapak sewaktu di USU. Mengenai tulisan Bapak, terus terang saya cukup terkejut. Soalnya Bapak termasuk dosen yang paling sabar dan ramah di kampus. Tentunya Bapak sudah sangat tidak tahan dengan kelakuan lulusan arsitek yang Bapak sebut sebagai arsitek “kreak”. Saya termasuk orang yang setuju dengan Bapak. Tapi saya tidak menganggap kreak tapi kurang wawasan.
    Kalau Bapak yang lulusan S2 tentang manajemen struktur dari Harvard tentunya standard Bapak terhadap arsitek sangat tinggi. Karena bertanggung jawab terhadap keseluruhan proyek. Sayangnya untuk ukuran Medan bahkan ada lulusan arsitek yang tidak tahu posisinya di dalam proyek, sebagai drafter atau engineering. Yang penting lulus arsitek dan menggambar terus merasa dirinya arsitek.
    Selama kuliah saya merasa hal ini tidak pernah dikuliahkan.
    Padahal mata kuliah untuk hal yang berkaitan dengan ini cukup banyak. Kebanyakan didiskusikan bersama dan karena mepet terakhir tidak ada kesimpulan dan nilai akhir didasarkan pada tugas yang diberikan, kadang mengetik, bedah buku ( translate ) dan lain – lain.
    Menurut saya sistem yang ada sudah sangat memadai. Hanya saja tidak mungkin mengharapkan pengabdian pembimbing saja.
    Modal tetap diperlukan untuk menjalankan sistem tersebut.
    Hal-hal tersebut di atas hanya sebuah opini saya sebagai salah satu mantan mahasiswa. Tentunya banyak pendapat atau informasi yang mungkin bertentangan dengan opini saya. Terima kasih.

  3. 3 e

    Bung Bauni, comment dari gunawan tampaknya khusus ditujukan kepada anda. Senang kalau blog ini bisa memfasilitasi obrolan seperti ini. Silahkan diteruskan saja.

    Salam untuk anda berdua .. dan permisi ikut nimbrung sedikit.

    Ada posting saya yang lain menyangkut sekitaran masalah ini. Bukan hanya di Medan tetapi benar dugaan bahwa hal ini juga terjadi di banyak kota dan perguruan tinggi lain. Lulusan pendidikan arsitektur meng-kreak-kan diri atau ter-kreak-kan oleh keadaan. Barangkali karena apresiasi masyarakat terhadap keahlian ini belum juga memadai, atau harapan para lulusan itu jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan? Yang patut disesalkan adalah ini menjadi kemubaziran masal karena biaya sekolah yang tinggi tidak diimbangi oleh hasil yang memadai dan memberikan manfaat sebagaimana mestinya bagi masyarakat. Apakah kita juga bisa melihat ini sebagai pelecehan kepada diri sendiri? Atau, barangkali, sederhana saja. Masuk pendidikan arsitektur atau pendidikan tinggi apapun memang ditujukan untuk membuka pikiran dan wawasan saja, selanjutnya bekerja ditempat manapun asal imbalannya sesuai dengan apa yang diharapkan?
    Saya pikir perlu ada semacam survey yang komprehensif untuk tahu lebih dalam. Bagaimana kalau dilakukan bersama antara perguruan tinggi dan asosiasi profesi?

  4. 4 rusydi_muhammad_2006

    Saudara Bauni Saya angkatan ’91 (arsitektur USU), menarik membicarakan Arsitek Kreak yang anda Tulis namun Saya sedikit mengkritisi kalau Lulusan yang anda netaskan tdk mach ke dunia kerja karena selama kuliah fasilitasnya minim sekali,beda dengan lulusan Arsitek keluaran Jawa yang di tempa sekaligus digembleng menjadi arsitek handal. Tidak dpt dipungkiri keluaran Arsitek USU jadi jargon Dikandang sendiri tanpa wawasan memadai tentang kaidah-kaidah Profesinya. Mudah2an ini jadi PR bagi tim pengajar di USU agar berani ngomong di luar tapi didalamnya sudah benar2 Siiplah kata orang medan (komentator PNS di Prov. Lampung)

  5. salam hormat untuk semua senior dan staf pengajar arsitektur usu. saya alumni arsitektur usu. saya sudah membaca beberapa comment di blog ini. keberadaan sebagian arsitek kreak sebenarnya muncul dari dalam diri jurusan itu. staff pengajar yang kurang kompak, persatuan alumni yang tidak begitu solid dan memang unsur pribadi juga tidak dapat dipungkiri cukup berpengaruh. selama studi saya, jurusan ini pernah dipegang dua kajur pada masa jabatan berbeda, entah ada kaitannya atau tidak, perbedaan keluarannya cukup signifikan. ini hanyalah contoh yang saya berikan untuk menunjukkan solid atau tidaknya kepemimpinan dalam jurusan sangat berpengaruh pada output-nya. jadi, saya pikir “dunia kreak” tidak perlu dibahas terlalu panjang. jalankan programnya supaya dunia kreak turning into “dunia keratif”…………

  6. tulisan anda kurang tegas…
    1. soal kurikulum paradigma lama…itu tugas anda sebagai dosen, mahasiswa sifatnya pasif. duduk diam dan siap mendengar ocehan dosen di depan kelas.
    2. keluaran arsitektur usu adalah hasil dari proses pembentukan karakter oleh para dosennya…. baik tidaknya karakter alumni dipengaruhi oleh karakter para dosennya
    3. profesi arsitek di kota medan belum terlalu dihargai…(maaf>>>bila ownernya warga etnis tionghoa tentunya ia lbh memilih arsitek yang se etnis dgn dia), daya pasar di kota medan untuk profesi arsitek masih rendah…jd jgn disalahkan bila hanya 20% yang berprofesi arsitek.

  7. 7 e

    posting dua tahun lalu ternyata masih menarik untuk dikomentari .. apakah ada kondisi yang bisa di potret saat ini sehingga mungkin dapat dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun lalu?

  8. 8 mdl

    kurikulum nasional hrs tegas dlm menghasilkan sarjana teknik bidang arsitektur n pendidikan profesi arsitektur. 2 alur keilmuan yg berbeda tetapi memiliki integrasi yg berkelanjutan. batas keilmuan sarjana teknik bidang arsitektur dengan profesi arsitek hrs jelas jgn tumpang tindih n berulang serta berlebihan muatannya. sarjana teknik bidang arsitektur bkn arsitek…ini yg hrs menjadi standar pendidikan. jadi intinya, mahasiswa s1 arsitektur tdk perlu berlebihan mendapatkan ilmu seperti kurikulum yg sedang berjalan saat ini khususnya mata kuliah di tingkat akhir seperti semeser 7 dan 8. cukup sebatas keilmuan seorang sarjana teknik bidang arsitektur…sampai mata kuliah di semester 6…tidak lebih…perbaikan kurikulum n paradigma jg hrs berjln dgn legalitas dan regulasi yg ada di negara ini dgn adanya uu jasa arsitek diikutin dgn perpu n bla…bla…bla…hrs dilakukan secepatnya krn di tingkat asean, pendidikan sarjana teknik bidang arsitektur n pendidikan profesi arsitektur yg ada sdh ketinggalan dalam proses mencari jati diri. peranan civitas akademika n pemerintah serta lembaga profesi hrs saling bekerjama utk mempercepat perubahan yg memang hrs dilakukan…3 thn ST + 2 thn profesi adalah yg terbaik…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: