arsitek beriklan?

24Mar08

Kode etik mengatur arsitek tidak beriklan dengan cara menyesatkan atau berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Kaidah tata lakunya berbunyi demikian: Arsitek tidak akan menyampaikan maupun mempromosikan dirinya atau jasa profesionalnya secara menyesatkan, tidak benar atau menipu. Arsitek tidak dibenarkan untuk memasang iklan atau sarana promosi yang menyanjung atau memuji diri sendiri, apalagi bersifat menyesatkan dan mengambil bagian dari kegiatan publikasi dengan imbal jasa, yang mempromosikan/merekomendasikan bahan-bahan bangunan atau perlengkapan/peralatan bangunan.

Tetapi arsitek kan tetap perlu memperkenalkan diri bukan? Bagaimana mau dikenal, apalagi untuk yang baru lulus, dan mendapat kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan, kalau tidak memperkenalkan diri? Cara yang sederhana tentu dengan membuat kartu nama, website, blog atau ikut mengisi buku karya arsitek. Lebih baik lagi kalau proyek rumah tinggalnya diliput majalah.

papannama2.gifMengapa tidak pasang papan nama? Kalau anda arsitek, apakah tetangga kiri kanan tahu bahwa anda seorang arsitek? Profesi lain yang pasang papan nama adalah, antara lain, dokter dan notaris. Seperti kita ketahui, papan nama itu pada dasarnya hanya bertuliskan nama, ijin praktik dan waktu bekerja. Hanya keterangan pokok yang memberitahukan profesi kita tanpa kalimat-kalimat promosi. Bukankah arsitek juga layak pasang papan nama? Dengan dikenal demikian maka setidaknya lingkungan terdekat bisa memanfaatkan keahliannya untuk kepentingan bersama.

Saat ini usaha orang-perorangan sudah mulai dikenal. Tentang hal ini malah sudah tertulis didalam Undang-undang Jasa Konstruksi, khususnya dalam Pasal 5 yaitu mengenai bentuk-bentuk usaha. Dengan demikian pada masa dekat mendatang dapat diduga akan lebih banyak arsitek berusaha sebagai orang perorangan, mungkin berkantor dirumah sendiri, dan membuat jam kerja tertentu untuk konsultasi. Mirip seperti praktek dokter yang umum kita kenal.

Yang menjadi pertanyaan, apakah papan nama seperti itu akan menjadi obyek pajak seperti halnya papan-papan iklan komersial? Saya pikir seharusnya tidak. Justru pemberitahuan seperti ini membantu masyarakat memperoleh informasi tentang keberadaan seorang ahli, dan dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkannya. Toh kalau kemudian terjadi hubungan kerjasama dengan imbalan jasa, pajak-pajak terkait akan masuk didalam perhitungan kontrak kerja.



14 Responses to “arsitek beriklan?”

  1. Sepertinya papan nama seperti itu akan keja pajak reklame pak…
    hehehhe

  2. 2 e

    contoh papan nama itu content-nya sama dengan papan nama dokter yang umum kita kenal. apakah papan nama dokter itu dikenai pajak? rasanya tidak .. entah kalau makin banyak profesional yang pasang papan nama, mungkin akan dianggap menjadi pemasukan pajak baru ..

  3. Lha kalau tidak beriklan mana ada yang tahu? Memang sih kalau menurut beberapa teman dia mengiklankan jasa di tabloid rumah – setelah itu tidak lagi karena proyeknya jadi bersifat referensi. Apakah menggunakan blog sebagai media iklan juga tidak boleh ya. Saya jadi ingat blog saya di c.sutanto.or.id. Tujuannya sih memang untuk memberikan hal positif tentang dunia arsitektur kepada umum. Boleh tidak?

  4. 4 e

    halo bung sutanto ..
    saya termasuk yang setuju saja arsitek beriklan. yang saya tidak setuju adalah kalau beriklan yang menyesatkan. misalnya, “hubungi saya: arsitek pengalaman puluhan proyek. dijamin memuaskan. dijamin murah .. dst”. hehehe .. siapa yang menjamin bahwa hasilnya (akan) memuaskan? apalagi kalau “… mengerjakan rancang bangun, fee design gratis .. dst”. mesti ada catch-nya dibalik gratis itu bukan? beriklan dengan baik tentu positif, sekedar memperkenalkan diri, apalagi memberikan edukasi pada masyarakat dengan menceritakan hal positif tentang dunia arsitektur.
    salam, e.

  5. 5 MIA

    Berapa pajak untuk papan nama ? Kalau memang kena pajak, bayar saja pajaknya, kan ada penghasilan juga…

  6. 6 e

    @MIA: ya, tentu lebih mudah dengan membayar saja. tetapi bukan disitu kepentingannya. kalau profesi arsitek sudah dianggap menjadi bagian dari tenaga ahli yang membantu melayani masyarakat, seperti halnya keahlian dokter misalnya, maka papan nama bukan papan iklan melainkan papan informasi bagi masyarakat. dengan demikian pengakuan ini tercerminkan melalui papan nama. lain halny akalau papan nama kemudian dijadikan papan iklan, tentu ini patut dikenai pajak. salam, e.

  7. 7 kurniawan

    La kalau beriklan seperti di iklan kecik bagaimana? kan tidak unsur menyesatkan dan menyanjung, biasanya cuma tulisan jasa & nomor telepon. Sepanjang yang saya cek, pekerjaan mereka cukup profesional dan lebih terjangkau bagi masyarakat menengah, memang sih ada beberapa yang baru lulus dan terkesan banting harga. Selain itu masyarakat umum masih pikir2 kalau ke konsultan bangunan karena mahal dan kebanyakan memang cukup mahal. Mungkin sebaiknya IAI memperjelas iklan seperti apa yang dimaksud karena yang di kode etik itu terlalu umum..

  8. 8 e

    @kurniawan: saya tidak tahu apakah yang dimaksud dengan iklan kecik? saya sendiri percaya bahwa iklan dalam pengertian “to introduce as it is” tidak melanggar etika, tetapi iklan yang bersifat “to promote” berpotensi menyesatkan ..

  9. 9 kurniawan

    iklan kecik itu iklan baris di koran, yang tercantum kan biasanya cuma nama, jenis usaha & no. telpon. Kalau begitu kan seperti pengenalan seperti di buku telepon namun karena di koran tetap menjadi bahasa promosi.
    Sebenarnya lingkup tidak boleh beriklan ini sampai mana ya? Jika saya sebagai lulusan arsitektur namun juga berprofesi sbg developer/kontraktor dan yang saya iklankan adalah jasa saya sbg developer/kontraktor bukan saya sebagai arsitek, apa masih terkena kode etik tersebut?

  10. @kurniawan: sebagai developer atau kontraktor tentu punya kode etik sendiri bukan? sedangkan iklan baris di koran, sejauh isinya sekedar informasi, menurut saya boleh saja. dapat dibedakan dengan misalnya “kontraktor berkualitas, design gratis” yang bisa menyesatkan pembaca.

  11. 11 ardi ruliyanto

    kalau lulusan arsitek yang kerja di perusahaan bahan bangunan gimana ya? kan sudah pasti berpromosi dan dapat imbal balik. Atau seorang arsitek yang juga punya toko bangunan kan pasti promosi juga?

  12. 12 e

    @ardi ruliyanto: isi artikel ini tentang arsitek beriklan, bukan perusahaan bahan bangunan atau toko bangunan beriklan. kalau perusahaan atau toko akan mengiklankan apa yang mereka jual, bukan mengiklankan jasa arsitek. harap tidak dicampur-adukkan karena, selain masing-masing punya etika sendiri, beriklan seperti itu tentu menyesatkan.

  13. kebanyakan arsitek bingung bagaimana mengiklankan diri, termasuk saya. langsung keintinya saja ‘bagaimana seorang arsitek mengiklankan diri dengan baik dan benar tentunya tidak keluar dari kode etik seorang arsitek.. komentar di atas sangat membingungkan,. sepertinya tidak menjawab ??
    dan satu lagi pertanyaan saya .. apakah mengiklankan diri dibrosur dan di tempel di tempat2 tertentu contohnya ditempel di tiang listrik melanggar kode etik.. atau menghinakan seorang arsitek. seperti yg saya lihat di lapangan {kata2nya seperti ini (nama pembuat jasa [X-DESIGN]exterior dan interior) dan selogannya (mewujudkan impian anda untuk mempunyai rumah indah dan nyaman) kemudian (calling : 091xxxxxxxxx)
    apakah jenis iklan seperti ini boleh dan apakah melanggar kode etik.

  14. 14 e

    @Muhammad R. Shiddiq: dilihat, dan dirasakan, dengan sederhana saja. etikanya adalah tidak menipu atau menyesatkan. jadi beriklan saja dengan cara yang tidak menipu atau menyesatkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: