ujian sertifikasi arsitek?

12May08

Beberapa waktu belakangan ini muncul semangat untuk segera memulai proses mendapatkan sertifikat keahlian arsitek melalui ujian. Proses aplikasi saat ini, yang sepenuhnya mengandalkan self assessment -berupa pemeriksaan dokumen aplikasi yang diisi sendiri oleh pemohon-, akan ditambah dengan ujian sebagai kisi-kisi terakhir untuk pemohon menunjukkan kompetensinya.

Ujian sertifikat keahlian arsitek ini sudah lazim berlaku di mancanegara. Sebagai contoh, di Australia disebut sebagai Architectural Practice Examination dan di Amerika Serikat disebut Architect Registration Examination. Prinsipnya adalah menguji kandidat tentang pengetahuan, keahlian dan kemampuannya dalam menyediakan layanan jasa dalam praktik arsitektur.

Tujuan sertifikasi arsitek tentu sudah cukup jelas, yaitu menjamin masyarakat mendapatkan layanan jasa arsitek yang benar ahli (lihat juga artikel tentang kompetensi arsitek) dan mampu bekerja secara profesional. Hal ini merupakan bagian dari cita-cita membangun good governance in architecture practice.

Proses assessment saat ini, walaupun dianggap cukup rumit (karena mengharuskan mengisi dengan benar berdasarkan beberapa pekerjaan yang dilakukannya sendiri) dan memakan waktu (karena tidak terbiasa mempunyai dokumentasi pekerjaan dengan baik), tetap perlu ditingkatkan melalui ujian agar tercapai tingkat obyektifitas yang lebih baik dan memenuhi kesetaraan dengan proses serupa di manca negara. Hal yang terakhir ini penting dalam konteks mutual recognition dan program reciprocity.

Masalahnya, bagaimana mengurangi potensi masalah yang akan timbul dengan penyelenggaraan ujian sertifikasi? Ujian memerlukan kemampuan menjawab soal-soal yang akan menjadi standar secara nasional. Dengan demikian perlu diketahui bagaimana “standar” pendidikan tinggi arsitektur di Indonesia, ditambah dengan tingkat pengalaman praktik yang diperoleh pada masa magang sebagai bagian dari proses menjadi arsitek. Seandainya hal ini belum diketahui, maka dapat diduga penyelenggaraan ujian akan menimbulkan masalah. Contoh sederhana adalah heboh pada proses penyelenggaraan ujian akhir nasional tingkat pendidikan menengah. Banyak murid tidak dapat menjawab soal -karena materi belum diajarkan- dan, kemudian, banyak guru menolong mengisi jawaban soal ujian -supaya tingkat kelulusan tinggi sehingga dianggap sekolah yang baik-.

Saya pikir kita perlu melakukan pemetaan terlebih dahulu. Memotret kondisi yang ada dan menemukan fakta lapangan. Ini kemudian -dengan anggapan bahwa memang ada kesenjangan tingkat pendidikan arsitektur- perlu dilanjutkan dengan membuat perbaikan dan benchmarking dalam usaha membuat sebuah “standar” ujian yang bersifat nasional.

Apakah dengan mencoba menyelenggarakan ujian hanya pada beberapa daerah tertentu saja akan bermanfaat? Saya pikir ya, terutama pada pembelajaran teknis penyelenggaraan sebuah ujian profesi. Namun demikian, kerja pemetaan tersebut diatas tetap perlu dilakukan karena, walaupun dilakukan secara terbatas pada daerah tertentu, para kandidat arsitek tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bukan? Potensi masalahnya mungkin lebih sedikit, tetapi kondisi nyata yang ada tetap perlu diketahui. Ini sebuah proses penting yang perlu waktu.



6 Responses to “ujian sertifikasi arsitek?”

  1. 1 dodo

    Profesi arsitek di Indonesia nampaknya memang masih menjadi profesi yang “nanggung” (maaf, saya kesulitan menemukan kata yang tepat utk hal itu).
    Idealnya ada pendidikan profesi lanjutan setelah S1 yang membuat orang berhak menyandang gelar profesional “arsitek”. Hal itu sama dengan pendidikan dokter, akuntan, atau notaris yang mengisyaratkan demikian.
    Sebenarnya prosesnya bagaimana sih pak? siapa yang berhak memberikan gelar arsitek profesional secara legal kepada seseorang di negeri ini? bagaimana peraturan yang saat ini berlaku?
    Kebanyakan orang kita setelah lulus S1 arsitektur, sudah menyebut diri mereka arsitek.

    Salam
    Dodo

    Nb; terima kasih telah berkomentar di blog saya : http://www.wastumaya.com

  2. 2 e

    menurut saya, sebutan “arsitek” adalah sebutan yang menunjukkan bahwa seseorang sudah profesional (sebagai arsitek). dengan demikian maka yang pertama kali menegaskan bahwa seseorang eligible berpraktik sebagai arsitek adalah kelompok profesinya sendiri. hal serupa juga berlaku di kelompok profesi yang lain, misalnya dokter atau notaris. mereka dinyatakan eligible sebagai dokter oleh kelompok dokter atau notaris sendiri. tidak oleh kelompok profesi yang lain.
    pengaturan untuk arsitek secara legal-formal .. ini yang kita harapkan segera terujud melalui undang-undang arsitek.
    salam, e.

  3. 3 Johan

    profesi arsitek tu susah2 gampang klo mau disertifikasi, lah klo akuntan udah jelas pekerjaannya, notaris juga jelas, dokter lebih jelas lagi kompentensinya klo seseorang dokter bedah ya berarti dia berhak untuk melakukan operasi bedah, nah klo arsitek? apakah bila sertifikasi arsitek udah didapatkan berarti dia itu seorang arsitek apa? apakah seorang arsitek yang memiliki sertifikat udah menunjukkan kompentensinya secara keseluruhan, karena menurut pandangan saya, arsitek ngga melulu soal kemampuan mendesain bangunan, bayangkan saja seorang arsitek yang katakanlah udah mendesain puluhan rumah mewah kemudian dia mendapatkan sertifikasi (krn kompetensi desainnya dapat dipertanggungjawabkan), lalu apakah si arsitek udah berhak juga bila kemudian dia ditawari proyek untuk merancang perkotaan, atau proyek revitalisasi kota, yg udah sangat jelas 2 bidang arsitektur dengan cakupan ilmu yang jauh berbeda dan kompleksitas permasalahannya lebih luas? (maaf klo sedikit “keras” comment-nya, saya ini cuma seorang anak muda yang juga ngaku sebagai arsitek, tetapi sangat ingin dunia arsitektur yang saya dalami dapat diakui)

  4. 4 e

    @ johan: apakah sudah mengetahui proses sertifikasi arsitek di iai? saya pikir bakuan kompetensi yang dipakai bisa menunjukkan sosok arsitek yang kompeten itu seperti apa. ada 13 butir dan kemampuan men-design hanyalah salah satunya (lihat juga posting saya yang lain tentang hal ini). body of knowledge-nya satu, yaitu arsitektur, tetapi pilihan berkarir atau lapangan pekerjaan bahkan bisa sampai lebih dari 40! (buku: Ethics and the Practice of Architecture, Wasserman et al.)
    menurut pendapat saya, arsitek bersertifikat sudah kompeten. kemudian, apabila ada tawaran, seperti contoh anda, untuk pekerjaan revitalisasi kota maka secara profesional apabila arsitek ybs “tidak mampu” mengerjakannya, ia akan mencari tenaga-tenaga ahli lain untuk membantunya. mungkin mirip dengan contoh dokter umum yang memberi rujukan pasien tentang dokter spesialis bedah.
    btw, pengakuan apa yang ingin anda dapatkan dalam dunia arsitektur ini? mudah-mudahan bisa terujud melalui usulan undang-undang arsitek.

    salam dan terima kasih sudah mampir ke warung saya & kasih comment ..

  5. 5 andi

    undang-undang arsitek???
    wah jangan pak… saya kuliah arsitektur sudah lama dan masih belum lulus. kalo ada undang2nya. pasti nanti ada kuliah undang2 arsitek… trus kapan saya lulusnya…
    belajar aturan arsir yang benar saja masih diomelin mulu ma dosen.. belum lagi masalah fungional ruang.. kekuatan struktur..
    kalo saya bisa bantu orang, tetangga ato temen buat mendesain rumah ato jangan rumahnya dulu lah, kamar tidurnya,, dapurnya,, tamannya atau malah kandang anjingnya ato ayamnya atau burung merpatinya saja saya sudah sangat senang bisa membantu..
    ternyata yang saya pelajari memang bisa membantu orang lain… tidak sia2.

  6. 6 e

    @andi: lho, belajar kok takut? nanti kalau sudah selesai sekolah dan terus praktik, tetap saja harus belajar .. tentang peraturan bangunan, tentang green building, tentang gaya hidup .. dan seterusnya. seumur hidup kita akan belajar terus. kalau nggak gitu kita akan ketinggalan, dan kalau ketinggalan maka akan ditinggal client ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: