sawahlunto

03Sep08

Awalnya sebuah kota tambang yang ramai. Rumah sakitnya pernah menjadi yang terbesar di Sumatera. Kemudian, cadangan batubara habis. Tambang Ombilin ditutup. Sekarang, Sawahlunto, kota kecil dengan penduduk 56.000 orang, punya beberapa museum yang baik, tata kota yang rapih dan menjadi salah satu contoh kota pusaka di Indonesia.

1867, Van Greve, ahli geologi Belanda, menemukan batubara di Sawahlunto. Sejak saat itu didatangkan banyak orang oleh Belanda sebagai pekerja tambang, temasuk political prisoners dan criminals, yang kemudian populer dengan sebutan orang rantai -karena mereka bekerja diikat dengan rantai dikakinya. Lubang Soegar dianggap sebagai lubang tambang pertama yang dibuka oleh Belanda. Saat ini Lubang Soegar dinamakan Lobang Tambang Mbah Soero, untuk menghormati seorang Jawa bernama Soerono yang diangkat menjadi mandor disitu pada awal abad 20.

Menurut informasi, suatu saat jumlah pekerja di Sawahlunto pernah mencapai 12.000 orang. Pada awalnya, Belanda mengontrak pihak ketiga untuk menyiapkan pasokan makanan sehari-hari untuk para pekerja. Tetapi kemudian, karena kisruh dengan pemasok, Belanda memutuskan untuk memasak sendiri.

1918, Belanda membangun sebuah Dapur Umum yang besar. Dapur ini sanggup memasak makanan sampai 3,9 ton beras per hari, dan kompleksnya dilengkapi dengan gudang padi, penggilingan padi, generator uap, tungku pembakaran, pabrik es, rumah potong hewan dan rumah karyawan.

Dapur ini memasok makanan bagi seluruh pekerja tambang, para pegawai Belanda, buruh kontrak, pasien rumah sakit dan orang-orang yang tidak mampu membayar pajak kepada Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang sampai menjelang kemerdekaan, Dapur Umum tetap berfungsi sebagai pemasok makan bagi pekerja tambang dan tentara. Tetapi setelah kemerdekaan, pemerintah Indonesia mengelola tambang Ombilin, kompleks Dapur Umum beralih fungsi menjadi kantor administrasi. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai tempat pengetikan.

1960-1970, Dapur Umum menjadi sekolah setingkat SMP. Setelah itu fungsinya berubah lagi menjadi perumahan bagi karyawan pertambangan. Fungsi hunian ini berjalan sampai tahun 2005, sebelum akhirnya diresmikan menjadi Museum Goedang Ransoem pada 17 Desember 2005.

Museum Goedang Ransoem merupakan salah satu museum yang ada di Sawahlunto, selain Museum Kereta Api dan Lobang Tambang Mbah Soero.

… pada saat perjalanan dengan bis dari Bukittinggi ke Sawahlunto, saya bertanya-tanya, is it worth the trip that will take me at least 2,5 hours? Apa yang akan saya lihat pada kota kecil ini?

Ternyata, kota kecil ini memberikan jawaban sendiri. Sejarah, menjadi bagian yang hidup dan menghidupi Sawahlunto saat ini. Tambang batubara, kalau dulu menjadi sumber penghidupan maka, sekarang, bekas tambang menjadi sumber yang baru. Political will dan action plan walikota beserta jajarannya berhasil membawa kota kecil ini selangkah lebih maju dari kota lain, terutama dalam hal memanfaatkan sejarah dan pusaka kota.

Menurut hemat saya, tantangan terbesar saat ini adalah apakah pembaruan ini dapat menghidupi masyarakatnya. Apakah kota ini memberikan kesempatan bagi penduduknya untuk berkarya, tumbuh dan berkembang bersama museum-museum dan tatakota yang bersih-rapih ..



No Responses Yet to “sawahlunto”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: