garis miring

22Sep08

Saya membaca dari Kompas Cyber Media – Sabtu, 17 November 2007, dan tertarik untuk ikut meletakkannya juga disini. Artikel menarik dari esais senior Jakob Sumardjo. Salam hormat saya kepada beliau.

Garis Miring
Jakob Sumardjo – Esais

Garis miring itu bukan garis vertikal dan bukan garis horizontal. Garis miring itu mengandung vertikal dan horizontal dalam dirinya. Garis miring itu paradoks, ya vertikal ya horizontal, atau bukan vertikal bukan horizontal.

Indonesia itu garis miring sejak dulu kala. Indonesia selalu menolak ketegasan pilihan, vertikal atau horizontal. Indonesia berpikir dalam garis miringnya. Jika dihadapkan pilihan: ambil ini atau ambil itu, memihak sini atau memihak sana, jawabannya miring. Ambil ini dan itu, memihak sini dan sana sekaligus.

Sejak zaman masuknya Mahabharata dan Ramayana di Indonesia dalam abad 9-10 Masehi, orang Indonesia tidak setia pada bentuk aslinya. Kedua epos Indis yang terkenal itu “dirusak” Indonesia untuk kepentingannya sendiri, yakni Mahabharata dan Ramayana Indonesia.

Periferal kebudayaan

Begitu pula para penulis Balai Pustaka tahun 1920-an bersikap miring, misalnya novel Si Jamin dan Si Johan yang ditulis Merari Siregar berdasar cerita Justus van Maurik, Jan Smess.

Garis miring itu berarti menyadur dari yang asing menjadi Indonesia sehingga yang asing itu tidak terasa asing lagi. Yang asing itu “dirusak”, dimiringkan, untuk menjadi milik sendiri.

Yang asing dan lain itu tak pernah dimasukkan mentah- mentah untuk diterima. Kalau yang asing dan lain itu tetap diterima sebagai mana adanya sebagai garis tegak atau garis lurus, Indonesia hanya merupakan pinggiran atau di wilayah periferal kebudayaan asing.

Dan Indonesia sebagai bangsa kecil tak pernah dicatat dalam sejarah budaya global, kecuali ia bersikap miring. Kritikus sastra A Teeuw pernah menyatakan bahwa karya-karya sastra Jawa Kuno merupakan sumbangan bagi sastra dunia, sedangkan sastra modern Indonesia merupakan gema dari sastra dunia.

Secara miring sastra Jawa Kuno benar-benar menyimpang dari sumber-sumber Indianya, sedangkan sastra modern mengikuti garis lurus budaya sastra asing.

Sikap miring membuat Indonesia diperhitungkan sebagai pusat, bukan sebagai pinggiran. Indonesia pada zaman kuno bukan sebuah grester India Indonesia dan Asia Tenggara bukan perluasan Hinduisme, bukan pinggiran budaya India, tetapi budaya miring India/Indonesia.

Inilah sebabnya, Rabindranath Tagore ketika berkunjung ke istana-istana Jawa dibuat heran bahwa Arjuna dan Gatotkaca sudah berbeda sekali dari sumber Indianya.

Bakat genius manusia Indonesia itu pada kemiringannya. Apa yang masuk ke Indonesia dimasak dan dicerna secara Indonesia. Mi dari China itu berbeda sekali dengan mi dari Jawa atau mi Aceh. Namanya memang mi, tetapi bukan mi juga. Namanya tetap Arjuna, tetapi kenapa justru mirip Krisna di India yang suka jatuh cinta kepada perempuan-perempuan jelita.

Kaum kuliner di Indonesia yang memuji masakan kari Indonesia barangkali akan berpendapat lain ketika menyantap kari di daerah asalnya, India.

Oleh para penganut kepercayaan Madrais di daerah Kuningan, Jawa Barat, sikap miring ini dirumuskan dalam apa yang disebut ilmu tanah. Biji mangga gedong itu akan lain rasanya bila ditanam di Cirebon dengan yang ditanam di Yogya atau di Bandung. Tanaman itu akan tumbuh sesuai dengan kondisi tanahnya dan cara menanamnya. Mengapa orang Indonesia tak mampu menanam apel yang kualitasnya sama dengan apel California atau Australia?

Bakat orang Indonesia

Bakat istimewa orang Indonesia untuk memiringkan segala sesuatu itu tercermin pula dalam bidang ideologi-politik. Bung Karno pada masa kejayaannya tahun 1960-an awal mengumumkan adanya Nasakom yang merupakan campuran dari nasionalisme, agama, dan komunisme.

Gagasan Nasakom diterima rakyat desa, asal muasal sikap miring ini, tetapi ditolak dan ditertawakan intelektual kota yang isi kepalanya penuh dengan garis-garis lurus asing. Nasakom itu irasional.

Sikap harus memilih, pilih agama atau pilih komunis, adalah sikap modern yang sebenarnya asing. Dalam buku Takashi Shiraisi tentang pergerakan nasional Indonesia dekade 1910-an disebutkan adanya haji komunis.

Garis miring itu, ya ini ya itu. Garis bancikah? Itulah garis prinsipal. Sebuah garis paradoks. Dengan demikian juga berkonotasi sikap paradoks.

Sebagai bagian dari bangsa-bangsa kecil di dunia, Indonesia memang berada di pinggiran bangsa-bangsa besar dunia kuno dan modern. Di zaman kuno, Indonesia pinggiran India dan China. Di zaman madya, Indonesia berada di pinggiran budaya-budaya Timur Tengah. Dan di zaman modern, Indonesia berada di pinggiran kebudayaan bangsa-bangsa Barat.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak mau menjadi penonton di tepi lapangan kebudayaan dunia. Bangsa Indonesia tidak mau menjadi beo yang menyuarakan rekaman ulang pusat-pusat budaya. Indonesia mau menjadi dirinya dengan suara sendiri. Dan suara itu miring, fals, merusak yang asli.

Ngotot mengikuti garis lurus di Indonesia selalu mendatangkan masalah Indonesia tidak mau menjadi bagian dari greater yang lain. Mengikuti garis lurus berarti periferal yang asing.

Dalam sejarah komunisme Indonesia, mula-mula menjadi pinggiran Uni Soviet, kemudian pinggiran China. Komunisme Indonesia tidak dikembangkan seperti menjadi gejala tahun 1910-an yang campur aduk antara agama, nasionalis, dan sosialis. Inilah sebabnya, komunisme berkali-kali kolaps di Indonesia akibat ngotot dengan identitas asingnya. Lenin dan Mao Tse Tung dijadikan “bapak komunis Indonesia”. Komunis Indonesia tidak memiliki Ho Chi Minh-nya. Ekstrem kiri ini tidak dikehendaki.

Membangun pusat baru

Garis miring berarti membangun pusat baru. Dan itu tidak mudah seperti kita menjadi anggota pinggiran. Gamelan menjadi kajian musikologi di Amerika, Eropa, dan Jepang, adalah kerja budaya nenek moyang yang lama, hasil dari kreativitas miringnya. Menerima yang ini dan yang itu bukan secara lurus, mengutip, tetapi mengolah dalam kemiringannya sendiri.

Miring barangkali gila, tidak waras, dipandang dari pengikut garis lurus. Tetapi garis lurus juga dapat bernilai gila dilihat dari pengikut garis miring. Dan artefak-artefak budaya Indonesia itu penuh garis miring. Tidak waraskah Indonesia ini?



No Responses Yet to “garis miring”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: