dosa arsitek

31Dec08

hari terakhir di tahun 2008, saya taruh artikel menarik dari Harian Kompas, 11 September 2007. sebuah issue besar dunia .. dan ajakan untuk berpikir ulang dan membuat pahala ..

.

Pemanasan Bumi dan Dosa Arsitek

Tri Harso Karyono
Guru Besar Arsitektur Universitas Tarumanagara; Peneliti Utama Balai Besar Teknologi Energi (B2TE BPPT), Serpong


Konferensi Dunia Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007, masih menunggu waktu, tetapi pemanasan Bumi tidak dapat ditunggu lagi. Bencana melabrak tempat di mana pun tanpa pandang bulu, negara maju atau terbelakang, kaya atau miskin. Gelombang panas melanda Jepang, Perancis, dan beberapa negara Eropa lainnya. Banjir melanda
Korea, Inggris, Sulawesi, dan Kalimantan justru saat musim panas.

Badai laut menelan puluhan korban di kawasan Asia Pasifik. Mei 2003, Amerika dihantam topan Tornado sebanyak 562 kali jauh melebihi yang pernah terjadi pada waktu sebelumnya. Anomali cuaca muncul di segenap penjuru dunia dan sangat berpotensi membawa bencana. Juli 2003 Badan Meteorologi Dunia memperingatkan akibat pemanasan Bumi, cuaca ekstrem akan lebih sering muncul. Celakanya ancaman ini akan lebih banyak menimpa wilayah sekitar khatulistiwa, tempat negara berkembang umumnya berada.

.

Pemanasan global

Adalah Baron Jean Baptiste Fourier (1820), ahli matematika Perancis, sebagai penggagas pertama teori “gas rumah kaca” (greenhouse gases). Peran CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca sangat dominan dalam mengatur suhu planet. Konsentrasi CO2 atmosfer Bumi adalah yang paling memadai untuk menciptakan suhu ideal bagi kehidupan makhluk hidup. Konsentrasi CO>sub<2>res<>res< di Venus terlalu tinggi, suhu udara planet ini menjadi sangat tinggi dan tidak memungkinkan kehidupan berlangsung di sana. Situasi Mars sebaliknya, rendahnya konsentrasi CO2 membuat planet ini beku dan kehidupan juga tidak dimungkinkan.

Ilmuwan sepakat, pemanasan Bumi disebabkan peningkatan CO2 atmosfer. Konsentrasi CO2 meningkat 25 persen setelah Revolusi Industri. Pusat pemantauan cuaca Amerika di Mauna Loa, Hawaii, memperlihatkan kenaikan CO2 18 persen dari tahun 1958 hingga 2002 dan menaikkan suhu dari 0,5 hingga 2 derajat Celsius.

Pembangkit listrik di Amerika Serikat mengemisi 2,5 miliar ton CO2 per tahun, sementara kendaraan bermotor melepaskan 1,5 miliar ton per tahun. Ilmuwan mengklaim tanpa ada usaha mengurangi emisi CO2, suhu udara Amerika akan meningkat 1,5 hingga 4 derajat Celsius akhir abad ini.

Negara maju gagal mematuhi Protokol Kyoto 1997 untuk memangkas 5 persen emisi CO2 hingga akhir 2012. Konferensi Lingkungan bulan Desember 2003 di Milan memprediksi emisi CO2 di negara maju justru meningkat 17 persen hingga akhir 2010 daripada 20 tahun lalu.

Bangunan boros energi

Studi konsultan energi Inggris, Max Fordam, mengungkap bahwa sektor bangunan mengonsumsi 50 persen total konsumsi minyak nasional negara maju, sektor transportasi mengonsumsi 25 persen, dan sisanya 25 persen dikonsumsi industri. Konsumsi minyak 50 persen di bangunan memperlihatkan betapa rentannya peran arsitek dalam menyumbang CO2 yang memicu pemanasan Bumi.

Dengan suhu udara ekstrem saat musim dingin, negara maju menggunakan energi untuk pemanas ruang. Dengan suhu udara tidak ekstrem, masih berada di sekitar ambang kenyamanan, lebih dari 90 persen bangunan kantor di Jakarta bergantung pada AC yang konsumtif terhadap energi dan melepaskan jutaan ton CO2. Terlalu banyak energi dibuang untuk pendingin ruangan yang semestinya tidak perlu jika arsitek menguasai perancangan bangunan hemat energi sesuai dengan iklim setempat.

Selain membuat pengguna bangunan kedinginan, sebagian besar kantor di Jakarta boros energi karena mematok suhu ruang terlalu rendah. Patokan suhu ruang masih meng-adopt standar asing, ASHRAE, yang terpaut 1 hingga 3 derajat lebih rendah daripada kebutuhan kenyamanan manusia Indonesia; berkonsekuensi membuang 10-30 persen lebih banyak energi. Penelitian di Bandung memperlihatkan suatu potensi penghematan energi; suhu nyaman manusia mendekati suhu udara luar. Dengan rancangan tepat, tidak satu pun bangunan di Bandung memerlukan AC.

Dalam suatu seminar internasional, Dr Robert Vale, penulis buku laris Green Architecture, tercengang mendengar pemaparan saya tentang kemampuan survival manusia tropis seperti Indonesia menghadapi kelangkaan sumber minyak dunia jika benar-benar habis. Untuk kehidupan dasar, manusia tropis tidak memerlukan energi.

Manusia tropis dapat hidup dengan pakaian normal di alam bebas atau hidup di bangunan tanpa dinding. Tidak seperti halnya mereka yang bermukim di iklim subtropis, manusia tropis dapat bertahan hidup tanpa pemanas atau pendingin ruangan dan tidak memerlukan energi.

Dosa arsitek

Arsitek merancang kota, mengubah wajah kota, mengukir permukaan tanah kota. Jika kota atau perumahan tidak disediakan trotoar atau jalur khusus sepeda, itu kesalahan arsitek. Arsiteklah yang menyebabkan warga kota menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak pendek karena tidak ada trotoar atau jalur sepeda. Arsiteklah yang mensterilkan kota dari pejalan kaki dan pengendara sepeda. Arsiteklah yang membuat kota boros energi dan mengemisi banyak CO2.

Bus tingkat (double decker) di Eropa berisi 70 penumpang mengonsumsi 1/30 bahan bakar per orang per 100 km dibanding kendaraan pribadi ditumpangi satu orang. Bus berpenumpang 25 masih menghemat 1/10 bahan bakar dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi merupakan penyumbang CO2 terbesar di sektor transportasi. Lima liter bensin digunakan kendaraan pribadi akan melepas 15 kilogram CO2 ke udara. Tiga ratus ribu kendaraan pribadi di Jakarta melepas sekitar 4,5 ribu ton CO2 per-hari atau 1,5 juta ton per tahun. Tangan arsitek punya andil besar dalam hal ini.

Tangan arsitek membuat kota miskin ruang terbuka, miskin vegetasi penyerap CO2. Tangan arsitek memanaskan kota karena terlalu banyak perkerasan aspal dan beton, memunculkan fenomena heat urban islands. Kota berperilaku seperti pulau yang memancarkan panas di tengah hamparan lahan yang lebih dingin. Kenaikan suhu kota dan kenaikan suhu lingkungan menyulitkan bangunan dapat nyaman tanpa AC. Semuanya adalah andil arsitek.

Dalam buku terbarunya Adapting Buildings and Cities for Climate Change, Prof Susan Roaf mengutip pernyataan Sir David King, Kepala Penasihat Perdana Menteri Inggris bidang Sains, Climate change is now a greater threat to humanity than terrorism. Perubahan iklim (akibat pemanasan Bumi) jauh lebih berbahaya daripada terorisme.

Arsitek berperan besar dalam memanaskan Bumi. Kekeliruan tangan arsitek akan memanaskan Bumi dan berpotensi lebih besar membasmi manusia dibandingkan dengan kemampuan teroris.



6 Responses to “dosa arsitek”

  1. saye tak pernah terpikirkan bahwa si aesitek berdosa….
    saye rase betul lah tuhh…

  2. 2 Zackie

    Tapi arsitek juga yang merubah peradaban dunia dengan tangannya, merubah tatanan sosial, budaya, politik dan religi dll. Saya fikir dampak domino yang timbul dari suatu karya merupakan manifestasi yang tidak bisa dilepaskan dari globalisasi.

    Jadi, arsitektur sebagai suatu disiplin ilmu yang notabene “ilmu terapan” yang didukung oleh ilmu – ilmu lainnya, katakanlah dengan perkembangan teknologi ternyata juga berperan dalam menyumbang global warming.

    Saya fikir bukan arsitek yang berperan besar dalam memanaskan bumi, tapi juga para profesional atawa non-pro yang lain.

    Peran arsitek mana yang bisa dikatakan besar? karena tiap negara belum tentu menerapkan profesi arsitek dengan benar dan tearah. karena memang tidak ada konsensus yang mengatur tentang karya sang arsitek. Mungkin tidak seperti profesi dokter yang sudah terlanjur diakui di dunia.

    So, yang terbaik adalah bekerjasama membangun peadaban yang damai….
    Mungkin dengan menggandeng “para terorisme”

    Maaf……… Makasih.

  3. 3 desmarita

    astaghfirullah……….aduh……….saya jd takut tuk jd seorg arsitek, msh jd mahsiswa aja udh byk dosa di bidang pembangunan apalagi nanti y…….???? wah..apa dong yang hrs sy lakukan sblm terjun ke dunia arsitek betulan..?? kn skrg msh arsitek2an…^_^

  4. 4 e

    terima kasih atas tanggapannya ..

    menurut saya benar pendapat bahwa tidak seluruhnya menjadi dosa para arsitek. issue global warming kan issue multi disiplin, tetapi perlu kita ingat sama-sama bahwa ada peran arsitek didalamnya. saya pikir hal ini yang penting untuk kita perhatikan .. bagaimana dengan keahlian arsitek bisa menyumbang karya yang bermanfaat dalam membantu mengurangi global warming.

    @ desmarita: ‘nggak usah terlalu khawatir ya🙂 tetapi ini kenyataan bahwa selain arsitek punya hak & wewenang (design), otomatis ada kewajiban dan tanggung jawab. yang perlu dilakukan adalah bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keahlian arsitek. sudah jadi anggota iai? pada awalnya kan ada penataran kode etik arsitek .. disitu kita dapat gambaran bagaimana bekerja dengan etis dan profesional.

    salam, e.

  5. 5 CALON ARSITEK

    Suatu tempat sebenarnya sudah memiliki peraturannya sendiri tentang ketentuan – ketentuan dalam membangun tetapi semua bisa dibeli dengan uang, dirubah dengan kekuasaan. Suatu kelompok yang memiliki uang dan kekuasaan dapat mengatur segalanya di negri ibu pertiwi ini, jadi siapakah yang berdosa ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

  6. 6 fei

    well, ga ada gunanya slg menodong..
    jauh lebih baik bila saling membantu u/ memperbaiki yg ada..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: