pendidikan profesi arsitek

30Mar09

saya ingin cerita sedikit tentang diskusi panel di universitas soegijapranata seputar pendidikan dan profesi arsitek. diskusi ini diselenggarakan pada hari jum’at malam, 27 maret 09, mulai sekitar jam 19:00 dan berakhir sekitar jam 22:00. pada acara ini saya didampingi pak djuhara dan pak purnama. pada pagi harinya saya menandatangani kesepahaman tentang program pendidikan profesi arsitek, dan mereka berdua menjadi juri penilaian tugas akhir mahasiswa unika soegijapranata.

pada diskusi tersebut saya sampaikan bahwa iai pada prinsipnya memberikan pedoman kepada perguruan tinggi tentang perlunya pendidikan profesi arsitek (pp-ars), dan menyampaikan secara terbuka pedoman tambahan kuliah yang dianggap penting untuk disampaikan kepada mahasiswa didalam program pp-ars tersebut. beban studi pp-ars adalah berkisar antara 20-24 sks dan diselenggarakan selama 2 semester.

kurikulum pp-ars merupakan kelanjutan program studi s1 arsitektur, sehingga dengan demikian secara utuh dapat dilihat keseluruhan program studi arsitektur adalah 4 tahun (144 sks) ditambah 1 tahun (20-24 sks). tidak dilihat pp-ars sebagai ‘kursus’ tambahan, melainkan mengutuhkan program studi menjadi 5 tahun. hal ini yang kemudian dibawakan oleh iai didalam kesepakatan internasional, baik melalui uia maupun asean mra, yang mensyaratkan pendidikan arsitektur selama 5 tahun penuh.

pada tanggal 20 maret 2009 juga sudah dilakukan diskusi serupa, antara iai dengan beberapa perguruan tinggi yang akan menyelenggarakan pp-ars yaitu itb, its, petra, trisakti, unpar dan ui. usu di medan sudah menjalankan program ini. sementara itu, melalui rapat kerja nasional, bulan februari 2009, iai sudah mencanangkan mengakui dan segera menindaklanjuti program pp-ars.

pelaksanaan pp-ars memerlukan solusi terhadap beberapa masalah teknis. diantara hal ini yang sedang dibahas adalah antara lain, gelar lulusan program pp-ars dan bagaimana iai secara konsisten akan menerima lulusan tersebut.

dari pandangan iai, lulusan pp-ars adalah ‘setara’ dengan sarjana arsitektur, belum menjadi arsitek. yang disebut arsitek adalah lulusan perguruan tinggi arsitektur yang sudah bersertifikat dan diregistrasi. sementara itu dari pandangan perguruan tinggi, bagi lulusan pp-ars (baca: lulusan pendidikan 5 tahun) perlu diberikan gelar sendiri dan dibedakan dengan yang lulusan pendidikan 4 tahun.

yang kemudian sangat penting adalah proses pemagangan. setelah lulus pendidikan tinggi, calon arsitek harus menjalani magang selama 2 tahun. hal ini akan menjadi perhatian iai dalam ‘menerima’ lulusan perguruan tinggi. bagaimana pemagangan ini akan dijalankan, siapa yang memenuhi syarat untuk menjadi mentor magang, dan bagaimana ukuran dasar penguasaan pengalaman kerja yang disyaratkan selama magang.

dengan demikian skema seorang mahasiswa arsitektur menjadi arsitek (profesional) adalah 5 tahun pendidikan arsitektur, 2 tahun magang dan, kemudian, ujian sertifikat.

pada pelaksanaannya nanti, tentu perlu pertimbangan matang dan keputusan yang adil bagi sarjana arsitektur yang tidak mengikuti program 5 tahun tersebut. saya pikir diperlukan kebijakan ‘kesetaraan’, dalam beberapa waktu tertentu, agar mereka dan program 5 tahun masing-masing memperoleh solusi yang baik.

lihat juga [ pendidikan arsitektur ]



No Responses Yet to “pendidikan profesi arsitek”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: