eko budihardjo | arsitek sasra matra

10Jun09

Ringkasan makalah ini saya sampaikan pada Diskusi Nasional Arsitek Sasra Matra (Multi Dimensi), acara yang diselenggarakan dalam rangka purna-tugas Prof. Ir. Eko Budihardjo, Msc, pada tanggal 9 Juni 2009 di Undip. Makalah lengkapnya diterbitkan bersama puluhan makalah lain dalam sebuah buku tentang Arsitek Indonesia menghadapi tantangan globalisasi.

.

Globalisasi  |  profesionalisme dan multi-displin

Internet memberikan kemudahan dan kebebasan memperoleh informasi. Globalisasi kemudian menjadi rumit dan multi dimensi. Banyak masalah penting yang semula belum terdengar mendadak menjadi perhatian dunia. Hubungan-hubungan lintas keahlian menjadi lebih mudah dan sangat terbuka, menghasilkan buah pikir dari berbagai sudut pandang.

Demikian pula hal yang serupa terjadi pada ranah arsitektur. Lazim diketahui kini ada tantangan besar yang memerlukan ‘bantuan’ keahlian para arsitek, yaitu masalah pemanasan global dan bagaimana membantu penyelamatan bumi melalui lingkungan buatan yang lebih ramah lingkungan. Ini dapat dibaca sebagai partisipasi eco-architecture. Dalam skala lebih kecil saat ini populer istilah green building.

Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa penggunaan energi pada bangunan-bangunan di muka bumi ini memerlukan pasokan hampir separuh dari seluruh penggunaan energi dunia. Kondisi ini harus dirubah secara mendasar dengan re-orientasi cara berpikir, dalam hal ini cara melihat pendekatan perancangan yang lebih bertanggungjawab terhadap sumber daya alam. Saat ini arsitektur diharapkan bisa membantu sejak perancangan arsitektur bangunan, metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan air dan energi, sampai life cycle ecological living. Berkarya bersama keahlian multi disiplin.

Pada akhirnya, untuk dapat merancang bangunan yang ramah lingkungan, arsitek harus belajar tentang masalah lingkungan hidup. Tantangan ini meminta arsitek Indonesia untuk mempunyai kapasitas dan mampu berkarya secara profesional. Sementara itu pendidikan arsitektur diminta dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, memperkenalkan mahasiswa kepada etika lingkungan, dan mengembangkan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge based in sustainable design).

.

Globalisasi  |  keseragaman vs keragaman

Sejarah perkembangan globalisasi dalam bidang arsitektur berkaitan erat dengan kekuatan gerakan Arsitektur Modern yang, tampaknya, memang mempunyai ambisi global. Walter Groupius, tahun 1919 mengatakan, ‘.. one day there will be a world-view, and then there will also be its sign, its crystal-architecture’, yang kemudian sekitar 20 tahun kemudian tercerminkan melalui Contemporary Style yang inklusif dan nyaris seragam.

Perkembangan profesi arsitek kemudian ikut mengglobal. Data-data internasional menunjukkan pertumbuhan kantor-kantor arsitek pada akhir tahun 90-an meningkat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Pengaruhnya kemudian terlihat pada arsitektur bangunan-bangunan penting diberbagai kota dunia seperti hotel-hotel, bandar udara, shopping mall dan gedung kantor multi-nasional dengan curtain wall kaca. Wajah kota menuju keseragaman arsitektur.

Berada dimana saya? Dimana-mana tampak serupa …
Ini tantangan yang harus dihadapi arsitek Indonesia. Pada sisi lain dari keseragaman terhampar keragaman. Kebiasaan, langgam gaya, ujud fisik yang mengglobal bercampur dengan budaya lokal menghasilkan sesuatu yang baru. Kerap kali hasilnya tidak terduga. Kadang-kadang juga aneh dan dianggap merusak, tetapi bisa menghasilkan kebaruan dengan ciri identitas lokal. Arsitektur Jepang modern sering dijadikan contoh hal ini.

Menelusuri kota-kota besar di Indonesia yang penuh dengan ruko akan terobati dengan berkunjung ke, misalnya, Sawahlunto atau Jogja yang masih terasa kuat kelokalannya. Berkunjung ke Istanbul mungkin akan jauh lebih berkesan secara arsitektural dibandingkan menjadi turis di New York. Ini tantangan yang harus dimenangkan oleh arsitek(tur). Kualitas arsitektur yang berjiwa lokal hasil menekuni jalinan kebudayaan lokal dan pengaruh dari luar. Karya-karya yang kemudian akan membedakan kota-kota kita kelak, yang tumbuh berdasarkan budaya berarsitektur kita sendiri, dengan kota-kota dunia lainnya.

.

Globalisasi  |  kerja lintas batas dan kesejawatan

Salah satu hal nyata yang terjadi pada era global ini adalah masalah pasar bebas dan persaingan. Bersaing untuk tetap dapat bekerja dan memenuhi hajat hidup. Hal yang tidak terbatas pada persaingan berniaga, tetapi juga berlomba mempelajari dan mempunyai keahlian baru, menggali keunikan lokal dan mencari keunggulan dalam berkarya.

Saat ini, didepan mata ada dua hal besar yang dapat dianggap mencerminkan issue persaingan. Pertama, adalah kesepakatan internasional dan regional tentang bekerja lintas batas -ASEAN MRA, APEC Architect. Kedua, adalah tidak jelasnya persaingan yang terjadi kecuali untuk mendapat kemenangan bisnis saja -bersaing mendapatkan pekerjaan, arsitek asing vs arsitek lokal, arsitek lokal kota besar vs arsitek lokal kota kecil. Dengan beberapa kekecualian, sepertinya tidak ada yang bersaing untuk kemenangan arsitektur (di) Indonesia.

Menghadapi ancaman arsitek (asing) pelintas batas seharusnya menggugah hati nurani bahwa kesejawatan memang bisa menjadi kesaktian yang bukan alang kepalang. Bayangkan saja akan terjadi dukung mendukung yang sinergis, meniadakan kecurigaan dan pada gilirannya menjadi sponsor utama dalam tumbuhnya iklim berarsitektur yang sehat. Tetapi kesejawatan juga memang berarti kerelaan, dan kerja keras. Butuh kerelaan dan kerendahan hati untuk menjadi sejawat, dan berbesar hati memberi kesempatan kepada orang lain kalau mengetahui bahwa dengan cara itu maka arsitektur akan mendapat kesempatan menang.

Sementara menghadapi persaingan lokal, tidak salah kalau sembari bersejawat, sesama arsitek (Indonesia) bersama-sama meningkatkan kreatifitas berkarya dan kemampuan profesional.



5 Responses to “eko budihardjo | arsitek sasra matra”

  1. wah… serujuga baca blog nya…
    success yah….

  2. 2 e

    terima kasih sudah mampir. salam kenal, e.

  3. Secara kebetulan saya melewati blog anda dalam perjalanan saya menuju ayipbali, jadi mampir sebentar dan memperkenalkan diri.
    tulisan ini mengingatkan saya dengan event kolaborasi kami (termasuk ayip juga) pada tanggal 3 oktober kemarin dengan 10 Fashion Designer Bali dalam tajuk ‘Legacy for the Future’. Energy kolaborasinya, Dahsyat!
    masih bisa saya rasakan sampai saat ini…

    ps. Kalu boleh saya link, jadi suatu saat saya selalu bisa mampir…

  4. 4 e

    @yoka sara: salam kenal dan terima kasih sudah mampir. silakan di-link, nanti saya bikin link balik ..

  5. terima kasih, dan sudah saya link


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: