politik urban

13Jul09

esai menarik dari harian kompas ..

Keputusan Politik bagi Perkembangan Urban
BRE REDANA
Harian Kompas, Jumat, 3 Juli 2009 | 05:14 WIB

Kebebasan dan keterbukaan adalah imperatif untuk mengantisipasi persoalan-persoalan Indonesia pada masa depan, termasuk yang berhubungan dengan kesejahteraan. Masa depan dunia adalah urbanisme yang terbuka. Itulah yang berpotensi membuyarkan konsentrasi penduduk di satu tempat saja, sekaligus dari situ kita bisa bermimpi, di Indonesia yang raya kita bisa hidup di mana saja.

Selama ini keluasan negeri terasa sempit, yang ada seolah ”Jawaraya”. Lebih khusus bagi upaya menyejahterakan diri, orientasi yang tersedia seakan hanya Jakarta.

Dalam satu acara debat calon wakil presiden, Prof Komaruddin Hidayat pernah menanyakan kepada para calon wakil presiden, yang lebih terdengar sebagai ilusi beliau sendiri: pernahkah terbayangkan seperti di Amerika, di mana penduduk tersebar di mana saja, mereka umumnya tidak lagi tinggal di tempat asalnya. Gambarannya kira-kira, pemuda dari Texas memilih pindah ke San Francisco karena tertarik industri kreatif; yang dari Orlando memilih ke Boston karena pengin jadi ilmuwan; pemuda dari Milwaukee pindah ke Miami karena suka lingkungan gay; dan seterusnya.

Untuk konteks Indonesia, dipertanyakan, bagaimana kira-kira masing- masing orang juga bisa menentukan tinggal di mana saja, karena itu berarti penguatan ide keindonesiaan. Kalau ditarik lebih lanjut, membayangkan konsekuensi pertanyaan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tadi: pemuda Ambarawa memilih tinggal di Makassar karena dia suka kota pantai dan ingin berkarier dalam industri surfing; anak muda dari Mataram, Lombok, memilih pindah ke Bukittinggi di Sumatera Barat karena ingin daerah pegunungan yang kontemplatif dan tertarik industri perak; begitu seterusnya.

Urban

Geokebudayaan yang berhubungan dengan masa depan manusia di planet ini adalah terbentuknya pusat-pusat urban: dari Chicago sampai Shanghai; dari Barcelona sampai Dakar. Majalah Fast Company, dua tahun lalu, mencoba mengategorikan berbagai kota penting di dunia dan mencoba melihat ciri-ciri yang membawa mereka menjadi kota yang menyenangkan, selain menyejahterakan tentunya.

Shanghai, New York, San Francisco, dan Buenos Aires mereka sebut sebagai ”Mekah”-nya kelas kreatif. Sekadar memperjelas, bagaimana wujud dari kota yang mereka sebut sebagai pusat kelas kreatif ini, lihat, misalnya, Shanghai. Kota di China ini mereka sebut ”liar, gila, kreatif”. Kota itu menjadi magnet perusahaan-perusahaan Barat yang bergerak di dunia desain, termasuk tumbuhnya galeri-galeri kontemporer.

Ada lagi yang mereka kategorikan sebagai ”desa global” atau global village. Masuk dalam kategori ini adalah Toronto, Johannesburg, dan Berlin.

Toronto mereka gambarkan keberagamannya yang memanifestasi di semua sudut: ada 29 festival film penting di situ setiap tahun, melingkupi hampir semua genre. Ada juga yang dikelompokkan sebagai titik paling trendi untuk high-tech, yakni Ho Chi Minh City, Chandigarh, dan Boise. Agak kaget dan ada rasa iri, dua yang disebut pertama itu di Asia. Belum lagi jejak Ho Chi Minch City masuk ke dunia modern pasti lebih belakangan dibanding Jakarta. Mengapa kita ketinggalan?

Masih banyak lagi pengelompokan dilakukan untuk memperlihatkan kota-kota mana yang bisa disebut pelopor dalam soal penghijauan, mana yang paling banyak menelurkan inovasi, mana yang secara tak terduga menjadi oase bagi kebutuhan atas strategi waktu luang, dan lain-lain.

Studi-studi tadi dilakukan untuk mengukur relasi antara kemungkinan perkembangan optimal individu dan lingkungan di mana mereka tinggal. Lingkungan tadi kemudian disempitkan lagi pengertiannya menjadi pertumbuhan urban karena melihat gelagatnya kita semua mafhum, masa depan dunia adalah proses urbanisme.

Studi semacam itu perlu dilakukan, apalagi kalau mengingat apakah masa depan dunia semata-mata proses atomisasi manusia, kalau melihat perkembangan teknologi komunikasi, yang gejalanya bukan ”mempertemukan” tetapi malah ”memisahkan”? Kalau kita bicara sejahtera lahir batin, lalu elemen-elemen apa yang dibutuhkan? Pertumbuhan lingkungan dan pertumbuhan urban dibicarakan karena itu menyangkut keputusan politik.

Keterbukaan

Pembicaraan mengenai keputusan politik untuk mengantisipasi pertumbuhan urban ini memang bisa saja dianggap mengawang-awang. Toh, setidaknya sebuah perspektif perlu dibentangkan kalau mengingat wacana mengenai ”industri kreatif” kini juga terdengar di mana-mana, termasuk dari petinggi negara kita.

Richard Florida, yang dianggap sebagai guru untuk analisis pertumbuhan kelas kreatif urban, dalam berbagai tulisannya yang didasarkan riset mendalam mengenai sifat-sifat kota yang melaju pesat, selalu menemukan unsur kebebasan di kota-kota itu. Dengan kata lain, ada relasi kuat sekali antara berkembangnya kreativitas yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan kota dengan kebebasan, keterbukaan.

Dalam buku Who’s Your City (Basic Books, 2008), Florida mencoba melihat para respondennya di kota-kota di Amerika, bagaimana mereka melihat faktor-faktor yang memengaruhi kotanya. Yang mengejutkan bagi Florida sendiri, ternyata bagi sebagian orang Amerika ada tiga faktor yang dianggap penting begitu mereka bicara lingkungan kota tempat tinggal: estetika, pelayanan-pelayanan dasar (untuk hal ini misalnya kesehatan), dan keterbukaan.

Kita tidak perlu mengacu pada teori piramida kebutuhan ala Abraham Maslow untuk melihat kebutuhan manusia atas estetika dan keterbukaan itu. Sekali kebutuhan dasar terpenuhi, orang bisa langsung membutuhkan estetika—satu faktor yang mengindikasikan perkembangan sivilisasi. Terlebih untuk konteks Indonesia: bangsa seniman ini tatkala kebutuhan dasar belum terpenuhi pun kebutuhannya untuk mengekspresikan diri di dunia estetik sudah melimpah ruah. Di desa-desa, orang berkesenian meskipun perut lapar.

Tantangan untuk membangun atau menyebarkan pusat-pusat urban di Indonesia adalah mengembangkan keterbukaan di semua daerah, di semua kota kita, dari Sabang sampai Papua. Ini perlu ditegaskan karena belakangan justru arus sebaliknya terjadi di Indonesia. Kehidupan makin tertutup, formalisme menjadi-jadi, eksklusivisme seperti tecermin dari kosakata ”putra daerah” terdengar di mana-mana.

Untuk membuka koridor kebebasan, jelas dibutuhkan intervensi keputusan politik. Tanpa imperatif kebebasan dan keterbukaan, kota-kota di Indonesia akan jauh dari kemungkinan perkembangan urbanisme yang kreatif. Pemuda dari Malang akan langsung mengurungkan niat tinggal di Makassar kalau dinamik kebebasan sebuah kota menengah tidak ada di situ. Dia mungkin akan memilih Bandung saja.

Tanpa kebebasan dan keterbukaan, sementara Ho Chi Minch City, Bangkok, dan Singapura bersinar-sinar dalam terang cahaya urban, kita bakal tinggal katro….



No Responses Yet to “politik urban”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: