agenda kebudayaan

31Aug09

lagi sebuah artikel yang menarik saya untuk meletakkannya disini. menurut saya, ini menyangkut kerjasama total, integritas dan kerja keras yang panjang ..

bertiga

Agenda Besar Kebudayaan
Kompas, Sabtu, 29 Agustus 2009
Oleh Yudhistira ANM Massardi, sastrawan dan pengelola lembaga pendidikan dasar gratis untuk kaum duafa di Bekasi

Bangsa besar adalah yang juga berjiwa besar dan berpikir besar. Bukan yang selalu reaktif, tetapi yang kreatif dan proaktif.

Untuk menegakkan martabat dan mempertahankan kualitas kebudayaan bangsa yang besar, pemerintah bersama seluruh pewaris, pemilik, dan pelaku kebudayaan harus berani membuat rencana dan kerja besar, sekarang juga. Seluruh energi nasional diperlukan untuk menyalakan apinya agar kerja bisa terus terjaga dan cahayanya semarak di langit luas.
Pokok besar

Sebagai negara-bangsa yang selalu mengaku (sambil enggan kerja) merupakan bangsa besar, kaya, dan berbudaya adiluhung, kita sudah terlalu lama terlena dan berlupa. Sebagai pokok kayu besar dengan seribu akar serabut, kita terlalu lama membiarkan banyak bagiannya melapuk.

Sementara pokok kecil yang tumbuh di seberang—sebagaimana galibnya pokok kecil yang ingin besar—begitu bersemangat mencari zat hara untuk menguatkan akarnya. Meski, dia tahu belaka, bijinya berasal dari pokok induk di sebelah, dan dia tidak bisa mengingkari DNA biologis-historis-kulturalnya. Untuk itu, sebagai pokok yang besar, bolehlah kita berbelaskasihan kepadanya. Sebab, dia memerlukan evolusi berbilang abad dan protein dari sel punca untuk bisa bermutasi menjadi sebuah spesies baru.

Hal yang lebih penting dilakukan adalah bikin perhelatan besar kebudayaan berjangka panjang dan berkesinambungan. Untuk itu, pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendirian, tetapi harus bekerja sama dengan pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten, dengan melibatkan perguruan-perguruan tinggi setempat, serta menggairahkan masyarakat di setiap lokus dan situs untuk peduli dan terlibat. Karena, sesudah itu, kelak merekalah yang akan lebih banyak memetik manfaatnya.

Inventarisasi dan publikasi

Yang harus dilakukan adalah inventarisasi seluruh kekayaan budaya: sastra tulis/lisan, teater, tari, musik, kriya, arsitektur, tekstil, desain, kostum, dolanan, kuliner, upacara adat, religi, mitos, legenda, fabel, flora dan fauna, dan lain-lain. Kepada yang masih hidup, berikan energi baru (berdayakan, lahirkan kembali, pertahankan orisinalitasnya sambil ciptakan varian baru dengan warna dan kemasan baru). Untuk yang sudah punah dan terkubur, lakukan penelitian dan penggalian, petakan anatominya, tuliskan sejarahnya, lantas ciptakan replikanya, agar bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi baru.

Bersamaan dengan inventarisasi adalah kerja besar dokumentasi. Sesudah itu, tentu saja publikasi yang luas dengan berbagai macam moda, dalam aneka bahasa, dan memanfaatkan sebesar-besarnya teknologi internet yang begitu mudah, murah, dan meluas. Bangun sebuah situs jejaring ”Warisan Besar Budaya Indonesia” atau apa pun namanya.

Kerja selanjutnya adalah tetapkan agenda kerja ekshibisi/visualisasi: pementasan-pementasan karya orisinal dan kreasi baru, festival, lomba, pameran, seminar, loka karya, bengkel kerja dan laboratorium eksperimental, dalam skala nasional maupun internasional.

Agenda tetap dan berkelanjutan

Alangkah indahnya jika setiap daerah memiliki agenda tetap dan berkelanjutan untuk keriaan besar kebudayaan itu. Durasinya, masing-masing bisa selama seminggu atau sebulan. Sehingga, selain bisa terus-menerus berdenyut memberi penyadaran kepada masyarakat akan kuantitas dan kualitas kekayaan budayanya, juga bisa dijadikan sebagai komoditas wisata domestik dan mancanegara. Sehingga, kegiatan itu tidak hanya menjadi acara yang menghabiskan anggaran, melainkan menjadi adrenalin bagi kegiatan ekonomi yang menguntungkan dan bisa dinikmati oleh banyak sektor usaha masyarakat.

Dengan demikian, seluruh untaian mutiara di Khatulistiwa dari Sabang sampai Merauke itu akan tampak berkelap-kelip memancarkan gairah pesona masing-masing sepanjang masa.

Di Ibu Kota, hal serupa wajib diselenggarakan. Area Taman Mini Indonesia Indah bisa diubah menjadi Taman Besar Indonesia Indah. Setiap daerah/anjungan bisa secara bergilir mengadakan perhelatan selama sebulan—misalnya Festival Budaya Jawa, Sunda, Batak, Bugis, dan lain-lain—dengan memanfaatkan seluruh kawasan.

Jika dipromosikan secara luas, didukung segenap lapisan masyarakat, termasuk para sponsor dan pebisnis, acara semacam itu niscaya memiliki gaung yang bersipongang ke segala arah, menumbuhkan kebanggaan, dan memperkuat jati diri bangsa.

Tak cukup hanya dengan cogito ergo sum. Tidak cukup hanya dengan mengaku dan mendaku. Hanya dengan bekerja, maka kita ada. Untuk itu, mungkin perlu dibentuk lembaga swadaya masyarakat semacam ”Lembaga Pewaris Budaya Bangsa”, yang melibatkan seluruh komponen masyarakat yang peduli dan mau bekerja untuk memajukan kebudayaan.

Jika tidak, di tubuh pemerintahan, kita sudah memiliki lebih dari cukup departemen, berikut anggaran dan jaringannya: Depdiknas, Depbudpar, Depkominfo, Depdagri, dan Deplu. Jika dalam setahun ke depan seluruh kekuatan itu masih belum mampu mengerjakan agenda besar tadi, berarti kita harus mengakui bahwa sesungguhnya kita bukanlah bangsa yang besar.

Maka, kita harus ikhlas menerima kenyataan itu, berikut seluruh pelecehannya yang akan datang. Sebab, hanya kekuatan dan kualitas kebudayaan yang bisa menentukan tinggi-rendahnya harkat dan martabat sebuah bangsa.



3 Responses to “agenda kebudayaan”

  1. 1 diankusumaningtyas

    Artikelnya sangat menarik. Ada beberapa kata/kalimat yang sangat menarik perhatian saya; yaitu: Inventarisasi, Publikasi. Warisan Besar Budaya Indonesia dan Lembaga Pewaris Budaya Bangsa.
    Saya pikir2 beberapa hari ini… saya jadi sedih dengan 4 kata/kalimat itu.
    Inventarisasi dulu dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Jaman sekarang kita kalau kebingungan mencari referensi; perginya ke Belanda.
    Publikasi; artinya harus ada yang ditulis berdasarkan riset. Budaya baca kita masih baru; perpustakaan masih sepi pengunjung. Apalagi budaya tulis makalah riset dan dipublikasikan…. lebih jarang lagi.
    Yang ke 3 dan ke 4; harus dimulai dari mana ya? Sudah banyak yang menulis; sudah banyak yang bicara. belum ada yang berhasil nyata. Yang sudah nyata hasilnya adalah budaya kita diriset oleh lembaga2 pendidikan asing atau lembaga budaya asing. Mereka tidak meng’klaim’ budaya itu; tapi mereka menyimpan data (inventarisasi) dan mem publikasikan data tersebut di perpustakaan mereka.
    Yang menyedihkan adalah; apakah 50 tahun yang akan datang; bangsa Indonesia yang ingin mempelajari budaya Indonesia harus mempelajarinya di luar negeri?
    Dulu tanpa bantuan dari masyarakat International; Indonesia tidak bisa mencegah pencurian kepala2 budha di Borobudur; sampai saat UN turun tangan. Lalu Batik selalu diributkan dan diperebutkan oleh banyak pihak. Sekarang ini UNESCO akan mengukuhkan Batik sebagai warisan budaya dunia atas nama Indonesia.
    Apakah bangsa kita ini memang cuma bisa bicara? Orang2 Belanda mengatakan: ‘Orang Indonesia itu berfikir dengan hati; bekerja dengan mulut’. Saya selalu tersinggung dengan kata2 itu. Tapi mereka mempunyai catatan inventarisasi perilaku sosial Indonesia selama 350 tahun. Sementara saya belum dan tidak akan berumur sebanyak itu. Jadi bagaimana ya?

  2. Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

  3. 3 e

    @all: terima kasih sudah mampir dan kasih tanggapan. mari kita bekerja dengan baik, dan menularkan kerja yang baik kepada orang lain .. dengan demikian makin banyak orang yang akan bekerja dengan baik, menempatkan diri sesuai peran dan posisi masing-masing .. at the end of the day, hal-hal yang semestinya terjadi dengan baik, akan benar terjadi dengan baik .. salam, e.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: