ke-tidak-terjangkau-an arsitektur

23Nov09

hari minggu kemarin usai sudah perhelatan besar arsitektur di jakarta. dimulai sejak awal bulan, dan diakhiri dengan musyawarah daerah iai jakarta tanggal 22 november 2009. ini juga bagian dari peringatan 50 tahun ikatan arsitek indonesia. tulisan rekan sejawat mamo menjadi catatan terbuka sekaligus otokritik pada arsitek ..

Ke Mana Arsitektur Setelah Dibicarakan?

Harian Kompas, Minggu, 22 November 2009
Adi Purnomo – Arsitek praktisi, dewan juri IAI Jakarta Award pada JAT 2009; shorlisted entry untuk kategori cultural di WAF 2009; Kontributor untuk subtema Reciprocity pada RIAB 2009

Sebuah ruang yang sepi pengunjung di tengah keramaian West Mall Grand Indonesia, Jakarta, ketika 20 proyek nominasi IAI Jakarta Award dipamerkan dan diseleksi dalam rangkaian kegiatan Jakarta Architecture Triennale 2009.

Di sebelah pameran itu terpajang karya hasil workshop Arsitek Muda di Komunitas Salihara yang mengemukakan pemikiran-pemikiran tentang hunian kota.

Masih dalam kegiatan yang sama di sayap lain, East Mall, situasi di ruang-ruang pameran yang berisi karya-karya arsitek Indonesia, karya 20 tahun Arsitek Muda Indonesia, arsitek Turki, dan mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan tampak tidak jauh berbeda.

Tampaknya pameran semacam ini tidak cukup mengundang animo masyarakat jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung pada pameran-pameran properti. Apakah arsitektur masih terlalu jauh dari jangkauan masyarakat luas dan belum menjawab permasalahan aktual? Atau, karena tempat penyelenggaraan yang terlalu tersegmentasi? Sepertinya dengan judul ”Affording Architecture”, trienale ini sedang berusaha mendekatkan arsitektur ke dalam jangkauan masyarakat dengan caranya sendiri.

Upaya lain terlihat dari pemutaran film-film di Mega Blitz Cinema yang berkisar pada sosok dan karya arsitek dunia ternama untuk memperlihatkan suatu apresiasi terhadap arsitektur yang telah terjadi di belahan dunia lain. Pada akhir rangkaian kegiatan ada 12 kuliah umum selama tiga hari dari sembilan arsitek luar negeri yang sedang menarik perhatian dan tiga arsitek Indonesia.

Trienale yang baru pertama kali diselenggarakan ini tampak masih berkutat dengan permasalahan arsitektur yang belum bisa diapresiasi luas dan upaya keluar dari situasi ini. Ruang gerak yang terjadi menjadi terbatas pada aspek memopulerkan arsitektur ke dalam medium pasar. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa proyek-proyek yang dipamerkan secara keseluruhan tidak terlalu banyak menunjukkan persentuhan arsitektur dengan kebutuhan masyarakat yang lebih luas dan mendasar.

Melihat ke luar

Berbeda dengan Rotterdam International Architecture Biennale (RIAB) 2009 yang telah diselenggarakan keempat kalinya, perhatian terhadap kegiatan arsitektur seperti ini terlihat cukup besar. Arsitektur lebih terbaca sebagai alat untuk menyampaikan muatan kepentingan masyarakat yang lebih luas. Kota yang menjadi tempat hidup lebih banyak lagi orang di dunia pada masa mendatang menjadi krusial dipikirkan.

Dengan kurator utama Kees Christianse dan judul ”Open City: Designing Coexistence” bienale ini mendemonstrasikan suatu sikap atau strategi lingkungan binaan yang bisa dilakukan dalam iklim keberdampingan.

Beberapa kasus kota seperti Istanbul, Almere, Jakarta, Sao Paulo, dan New York terbagi ke dalam beberapa subtema, seperti Refuge, Reciprocity, Community, Squat, dan Collective, menunjukkan permasalahan kota yang berlainan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan.

Arsitektur memang berwajah banyak dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. World Architecture Festival (WAF) 2009 di Barcelona merupakan bentuk kegiatan arsitektur yang berlainan arah dari RIAB 2009. Festival ini lebih terfokus pada arsitektur sebagai obyek atau proyek. Dari keseluruhan karya yang masuk dan dipamerkan, memang tampak kecenderungan karya- karya yang ada mempunyai sifat eksklusif.
Festival ini mempertandingkan semua karya yang terbagi dalam 15 kategori bangunan, menyaringnya ke dalam suatu untuk dipresentasikan di hadapan juri. Pemenang tiap kategori lalu mempresentasikan kembali untuk dipilih satu yang dianggap terbaik. WAF 2009 memang bentuk kegiatan yang memperlihatkan arsitektur dipacu ke dalam industri kreatif dan iklim kompetisi yang cepat.

Bukan berarti bangunan gemerlap atau nama arsitek besar menjamin terpilih sebagai yang terbaik pada tahun ini. Sebuah proyek yang terlihat sederhana di Afrika Selatan, Mapungubwe Interpretation Centre karya arsitek Peter Rich, merupakan pilihan panel juri utama yang diketuai arsitek Rafael Vinolly. Proyek ini memang menunjukkan kualitas yang sudah melampaui isu di luar arsitektur itu sendiri. Situasi sosial, ekonomi, keterbatasan teknik konstruksi, dan pembelajaran tenaga kerja diselesaikan secara komprehensif dalam konsep dan cara mewujudkan.

Kebutuhan masyarakat

Ada satu sisa pertanyaan setelah melihat tiga perhelatan arsitektur di atas. Hendak ke mana arsitektur setelah dibicarakan, setelah dipertemukan dengan media massa? Popularitas mungkin menjadi perlu pada zaman serba cepat dan diwarnai kompetisi terbuka semacam ini. Tetapi, arsitektur yang dihasilkan Peter Rich mengingatkan lagi bahwa persaingan global bukanlah hal paling penting ketika kita bisa melakukan sesuatu yang mempunyai arti khusus di tempat kita sendiri.

Dua perhelatan arsitektur di Rotterdam dan Barcelona yang sama sekali berlainan barangkali bisa dipakai sebagai cermin penyelenggaraan JAT tiga tahun mendatang.
Keinginan memasyarakatkan arsitektur rasanya bisa dilakukan dengan tidak hanya memperlihatkan proyek-proyek yang mempunyai kualitas tertentu. Karya arsitektur yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat banyak, studi atau pemikiran tentang ruang-ruang kota, merupakan alat yang bisa mempertemukan arsitektur dengan masyarakat luas.



One Response to “ke-tidak-terjangkau-an arsitektur”

  1. 1 aryoko

    setuju


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: