benteng. arsitek. arkeolog.

25Nov09

selasa 24 november 2009 kemarin ada workshop kedua oleh pusat dokumentasi arsitektur (pda) untuk proyek inventarisasi benteng-benteng di indonesia. bertempat di museum nasional di jalan merdeka barat, workshop ini mempunyai topik tentang pemanfaatan benteng, dan mengambil benteng vastenburg solo sebagai contoh kasus.

workshop kedua ini merupakan bagian dari tiga buah workshop yang direncanakan selama tiga tahun jadwal proyek inventarisasi tersebut. yang pertama sudah dilakukan pada tahun 2008 di galeri cemara jakarta. topik yang dibicarakan adalah tentang terminologi benteng, format inventarisasi dan potensi benteng bagi masyarakat masa mendatang. yang ketiga baru akan terjadi tahun 2010.

sesungguhnya, diantara yang pertama dan kedua ini, ada workshop lain yang diselenggarakan oleh depbudpar. topiknya juga berkait dan tidak terpisahkan, yaitu penetapan dan prioritas benteng untuk diberi perlindungan secara formal oleh negara melalui prosedur dan penerbitan surat keputusan pemerintah.

tahapan proses pemugaran menyeluruh secara sederhana adalah inventarisasi dan identifikasi, kemudian perlindungan dan pemugaran, setelah itu pengembangan dan pemanfaatan.

sebelum diskusi dalam dua kelompok, workshop didahului dengan tiga presentasi sebagai pengantar. secara berurutan presentasi memberikan pandangan tentang semangat etika dan budaya pada proyek-proyek sejarah, pendekatan ekonomiĀ  untukpemanfaatan benteng, dan positioning benteng dalam tatanan sejarah kota dulu, sekarang dan kelak.

ada guyon ditengah masyarakat pemerhati heritage buildings berkaitan dengan pemanfaatan bangunan bersejarah. seperti layaknya sebuah mobil, untuk berjalan dan berhenti diperlukan gas dan rem. gas menggambarkan kelompok arsitek yang mau bergerak maju, merancang tanpa batas pemanfaatan bangunan bersejarah, sementara kelompok arkeolog dianggap seperti rem yang menyetop segala gerak sebelum segala sesuatunya selesai diteliti.

workshop kemarin mempertemukan kedua kelompok itu.
benteng vastenburg menjadi kasus yang dibahas oleh kedua kelompok. apa dan bagaimana cara yang baik memanfaatkannya. dan karena kasus ini sesungguhnya memang merupakan kasus nyata di kota solo, hasil workshop mungkin dapat dijadikan masukan bagi penyelesaian sesungguhnya.

workshop juga menghasilkan catatan-catatan yang akan bermanfaat bagi proyek pemanfaatan bangunan bersejarah. mengenai hal ini akan dibuatkan catatan terpisah. yang menarik adalah, kelompok rem ternyata bisa belajar nge-gas dan kelompok gas tidak selalu menekan gas habis-habisan.



No Responses Yet to “benteng. arsitek. arkeolog.”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: