trotoar?

01Dec09

posting ini ingin saya lihat sebagai cerita tentang bagian kota dan kesiapan penduduk kota hidup bersama dalam sebuah sistem besar. arsitek, dengan hanya mengandalkan kemampuan merancang, akankah bisa mengendalikan kearah yg lebih baik? artikel lama, ditulis sejawat saya ferry wardiman, tetap gayut dan menarik untuk dibaca ..

.
TROTOAR KOTA
Ferry Wardiman
Jakarta, September 2004

Dulu, disebuah fakultas Arsitektur ada seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi dosen pengajar. Sejak mahasiswa tingkat tiga dia sudah memantapkan cita-citanya itu. Ia tak sangat pintar, tetapi ia sangat idealis dan sangat tulus hati.

Setelah lulus melamarlah ia jadi dosen dan jadilah ia seorang dosen di fakultasnya itu. Ketika teman-teman seangkatannya sibuk mengejar pengalaman kerja, ia sibuk mengajar sambil menimang-nimang idealismenya.

Ketika saya kebetulan bertemu dengannya saya tanyai dia, idealisme macam apa yang ia punya sehingga akhirnya menjadi dosen. Jawabnya, lihatlah trotoar!.
Trotoar?, tanyaku. Ya, trotoar, katanya lagi.
“Bila trotoar-trotoar kota tempat pejalan tak berkendaraan ini belum lebih lebar daripada jalan kendaraan, tandanya kota ini masih bagaikan sebuah mesin belaka yang menderam berknalpot muntahkan karbon monoksida. Belum menjadi kota tempatnya manusia, yang berhati dan berkata-kata. Maka masih perlu arsitek yang lebih mementingkan kemanusiaan daripada mesin uang”.

Saya tersedak. Hebat sekali kata katanya itu.
Rupanya itu yang dia cita-citakan, menciptakan arsitek-arsitek sebagai anak negeri yang berintegritas tinggi terhadap bidangnya.

Lalu saya tanya lagi:, Ok, taruhlah sudah dibuat trotoar yang selebar – bahkan lebih lebar dari jalan. Lalu apa?”

Ia berkata lagi: “Lihatlah lagi trotoar!.
“Bila lebar bagian trotoar yang dipakai oleh pedagang kaki lima lebih lebar dari bagian yang dipakai oleh pejalan yang berlalu-lalang, itu tandanya masih perlu arsitek yang mementingkan kemanusiaan daripada mementingkan kerapihan semu yang diperoleh dengan penggusuran sewaktu-waktu.
Kemerdekaan itu, adalah hak segala bangsa maka dari itu, penjajahan atas para kakilima harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Penjajahan itu sering terjadi di trotoar”.

“Baik, katakanlah itupun sudah bisa dicapai. Ada bagian penjaja rapih berderet disisi dan ada begian longgar untuk pejalan yang berlenggang di trotoar. Tak ada lagi petugas berseragam mengejar orang lapar yang terpaksa berdagang. Lalu apa?. Itukah tujuanmu menjadi dosen untuk para calon arsitek?”, tanya saya lagi.
Ia berhenti sejenak. Mengangguk-angguk. “Bila begitu berarti sudah ada indikasi baik dari perkembangan idealisme arsitek di negeri ini”.

“Jadi idealisme arsitek suatu negeri bisa dilihat dari trotoar kotanya?”, tanya saya.
“Ya, trotoar adalah tempat yang paling menguji idealisme. Bagian sekitar trotoar adalah bagian arsitektur kota yang berkonotasi pertentangan kepentingan antara yang sosial dan yang bersifat niaga.
Disitu ada etalase ada iklan ada billboard ada pedagang ada pengamen ada pengemis ada tukang copet ada orang antri ada wartawan ada pemabok ada pelacur dan . ada polisi.
Bahkan dimasa pemilihan presiden lima tahun sekali bisa ada terjadi calon presiden merangkul-rangkul orang orang gembel disitu.
Penampilan sebuah kota mencerminkan isinya. Dari bagaimana trotoar sebuah kota tampil, kita bisa menduga sebagian besar dari keseluruhan kotanya”, katanya.

Saya berpikir, mungkin ia agak berlebihan. Maka saya tanya lagi, “Apakah trotoar yang bersolek cantik di sepanjang jalan Thamrin-Sudirman dengan lampu warna warni dan bis meluncur tenang di busway dari halte demi halte itu telah mewakili jalan jalan dan pelosok kampung kampung di Jakarta seperti teori yang anda katakan?.
Ia menukas dengan tangkas: ” Ya, justru kalau di pelosok jalan-kecil itu tak ada trotoar yang sedang bersolek seperti di Thamrin – Sudirman, itu makin menunjukkan APA permasalahan sebenarnya di negeri ini”.

“Masalah keterwakilan? “, tanya saya (tapi seperti tidak bertanya juga).
“Ya”, jawabnya.

Saya menyalaminya sambil berkata basa-basi, semoga ia ditawari menjadi menteri dalam kabinet presiden yang terpilih mendatang.
Ia tak sangat pintar memang. Tapi bukan yang terlalu pintar yang dibutuhkan untuk memimpin rezim nanti, melainkan yang sangat IDEALIS dan sangat TULUS HATI.
Makin langka orang seperti itu sekarang. Bahkan saya sendiripun sering terjerumus menyamakannya dengan orang bodoh.

Ia seperti tahu apa isi hati saya. Ia menyalami saya kembali: “Hanya orang PINTAR yang bisa menjadi menteri di negeri ini”.

Sekali lagi saya tersedak.

tulisan diatas di-posting lagi oleh ferry di milis iai-architect baru-baru ini, dan mendapat tanggapan dari saptono yang menyebutkan setidaknya sudah ada kemajuan yang tercapai. berikut adalah tanggapan ferry atas tanggapan saptono.

Ya, ada beberapa kemajuan dengan dibuatnya dan diperbaikinya beberapa trotoar. Sementara itu juga ada BANYAK kemunduran dibagian bagian lain. Trotoar sekarang bukan lagi menyempit tetapi malah menjadi jalan sepeda motor. Sepeda motor merasa bersimaharaja- lela menggagahi sarana pejalan kaki setelah jalannya digagahi pula oleh mobil-mobil. Mobil bukan juga raja-diraja, karena ia harus mengalah pada kepentingan yang “konon” lebih merakyat yaitu BUSWAY. Tapi jangan lupa, Busway tidak selalu berupa kendaraan merakyat yang penuh orang yang mendapatkan manfaat. Acapkali busway adalah “way” nya saja tanpa “bus”nya terlihat lewat. Adapun, itu langka.

Maka “anarchy yang dibiarkan” terjadi. Mobil-mobil mengambil alih jalan “merakyat” itu dengan alasan daripada kosong. Bahkan motor juga.
Secara lebih menyeluruh tampaklah kini, jalur-jalur tak lagi menertibkan lagi.
Ketidak-disiplinan sudah nyata sekali. Motor lewat dikanan jalan, motor lewat di trotoar, motor masuk dari arah berlawanan padahal jalan satu arah dan polisi mengibaskan tangan malah, tanda mempersilakan.

Polisi-polisi itu…
Coba lihat, pasca jaman Soe, perlahan tapi pasti garis putih sebelum “zebra cross” di setiap lampu merah kehilangan arti. Di setiap perempatan motor-motor dan mobil juga, maju, sampai nyaris ditengah perempatan, padahal lampu lalu lintas sedang menyala merah. Konsep “yellow junction” memang tak ada di negeri ini. Ketidak disiplinan mendapatkan ruang dan makin menjadi-jadi karena dibiarkan.
Maka trotoar yang menyempit atau menghilang fungsinya berjalan seiring dengan “zebra cross” yang memudar catnya, APALAGI fungsinya.

Belum lagi portal dimana mana disetiap belokan perumahan. Sebagian besar tanpa gardu penjaga. Seorang rekan datang dari luar negeri dan mengatakan tentang portal itu: Don’t worry, I live with those things as well. Saya tanya, ha, apa betul?,.. Ah,.. ternyata karena ia tinggal dekat barak yang banyak portal semacam di dekat rumahnya. Pintu perumahan jadi semacam dengan pintu kompleks barak.

Inilah wajah kota kita kini, yang tak begitu jelas lagi apakah ini bisa dibilang “kemajuan”.

Trotoar adalah etalase kota, wajah kota. Tapi bukan arsitek yang paling berkuasa menentukan wajah kita, melainkan PENGUASA.
Arsitek hanya mengangankan lebar trotoar, mengukur-ukur perbandingan idealnya dengan jalan, membayangkan rakyat berlalu-lalang secara teratur disana, memimpikan pepohonan bahkan kanopi-kanopi mengayomi pejalan kaki. Tapi ketika HUKUM atau paling tidak, ATURAN tidak tegak, semua juga terpaksa membungkuk lelah – setelah serak meneriakkannya.
Polisi penegak peraturan sedang pusing memikirkan macam macam, termasuk menepis kecurigaan adanya Anggodo-Gate. Mana sempat memikirkan wajah kota yang namanya trotoar ini….
Masyarakat yang mengambang sedang antusias menyimak para pentolan dan pengulas politik mengharu-biru, mempersiapkan demo tanpa sadar bahwa jarak kepada anarkhi makin mendekat. Mana sempat juga memperhatikan trotoar ini….

Para arsitek (yang tidak berpolitik), yang masih terobsesi pada ide, merenung mencangkau dagu, enaknya diapakan ya trotoar-trotoar ini….

Saya juga tak mau ketinggalan ingin berpikir “setia pada profesionalisme” , istilah kerennya, tapi mentog disitu-situ juga. Mengenang Lee Kuan Yeuw, dia bilang: Bangsa Asia, khususnya Asia Tenggara, TIDAK BUTUH demokrasi. Yang dibutuhkan adalah DISIPLIN. Menurut saya, bandul reformasi telah berayun MELAMPAUI titik tengahnya. Perlu kesadaran untuk membiarkan “demokrasi” kembali berimpit dengan garis putih “disiplin”, agar “pejalan kaki bisa lewat”.

Trotoar-trotoar tidak berjalan sendiri. Ia adalah produk dari – bukan cuma kotanya – terutama adalah negerinya.



One Response to “trotoar?”

  1. belajar banyak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: