studio arsitektur

02Dec09

Menghubungkan Studio dengan Praktik

Salah satu faktor utama yang membedakan arsitek dengan profesi yang lain adalah konsistensi dan kesinambungan konsep, produk rancangan, penyerahan (delivery) perancangan sampai pengawasan atas pelaksanaan konstruksi di lapangan.

Tujuan pendidikan arsitektur adalah menghasilkan arsitek yang kreatif, kompeten, kompetitive, kritis dan beretika. Kualitas ini diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa dekat mendatang, yaitu berarsitektur (architecture design) dengan peka terhadap lingkungan (ecologically sensitive) dan bertanggung jawab terhadap masyarakat (socially responsible).

Kenyataan bahwa praktik arsitektur adalah komposit dan harus dilihat secara holistik. Menganalisa dan membuat prioritas dalam mengusulkan solusi. Proses merancang juga bukan proses linier. Ada program, fungsi dan strategi perancangan, sirkulasi, etika, tahapan pekerjaan, denah-tampak-potongan, tapak dan orientasi, jadwal, pertimbangan politis, rancangan anggaran biaya, spesifikasi teknis, detail .. dan lain-lain. Kelas studio merupakan replika kecil dari proyek.

Catatan 1. Perlu diingat bahwa materi yang diajarkan melalui kuliah dan studio kerap kali merupakan materi pilihan yang terseleksi baik, tetapi secara keseluruhan, belum tentu menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Kerap kali berlawanan dengan apa yang terjadi sehari-hari. Knowledge-Attitude-Practice gap. Kerap kali pula berujung pada pelanggaran etika.

Catatan 2. Harus siap bersikap all-out setiap saat. Rebut setiap kesempatan yang muncul, sekecil apapun. Studio sebaiknya membuka pintu selebar-lebarnya dan memberikan cukup keluwesan bagi mahasiswa memupuk gairahnya berarsitektur.

Studio dan Praktik barangkali belum bisa sepenuhnya disebut siap berhubungan. Kenyataan saat ini, sarjana baru arsitektur berada dalam lapis bawah pada sebuah biro arsitek. Pemagangan bisa diharapkan mengisi kekurangan yang diperoleh di studio. Selain-hal-hal teknis, magang dan praktik kerja memberikan kesempatan antara lain mengetahui kolaborasi dan bekerja penuh dalam sebuah tim proyek atau mengetahui benar konsekuensi dari sebuah garis yang ditariknya dalam gambar.

Asosiasi arsitek membuat kesepakatan tentang kesetaraan kemampuan arsitek. Melalui perjanjian UIA-UNESCO, kesepakatan tersebut dimulai sejak pendidikan arsitektur di sekolah, melalui pedoman tentang kemampuan dasar sarjana arsitektur.

UIA-UNESCO menggariskan bahwa pada program studi-nya mahasiswa diharuskan mempunyai kapabilitas sekurang-kurangnya meliputi antara lain:

A. Design
–    Ability to engage imagination, think creatively, innovate, and provide design leadership.
–    Ability to gather information, define problems, apply analyses and critical judgement, and formulate strategies for action.
–    Ability to think three dimensionally in the exploration of design.
–    Ability to reconcile divergent factors, integrate knowledge, and apply skills in the creation of a design solution.

B. Knowledge

B1. Cultural and Artistic Studies
–    Ability to act with knowledge of historical and cultural precedents in local and world architecture.
–    Ability to act with knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design.
–    Understanding of heritage issues in the built environment.
–    Awareness of the links between architecture and other creative disciplines.

B2. Social Studies
–    Ability to act with knowledge of society, clients, and users.
–    Ability to develop a project brief through definition of the needs of society, users and clients, and to research and define contextual and functional requirements for different types of built environments.
–    Understanding of the social context in which built environments are procured, of ergonomic and space requirements and, issues of equity and access.
–    Awareness of the relevant codes, regulations, and standards for planning, design, construction, health, safety, and use of built environments.
–    Awareness of philosophy, politics, and ethics as related to architecture.

B3. Environmental Studies
–    Ability to act with knowledge of natural systems and built environments.
–    Understanding of conservation and waste management issues.
–    Understanding of the life-cycle of materials, issues of ecological sustainability, environmental impact, design for reduced use of energy, as well as passive systems and their management.
–    Awareness of the history and practice of landscape architecture, urban design, as well as territorial and national planning and their relationship to local and global demography and resources.
–    Awareness of the management of natural systems taking into account natural disaster risks.

B4. Technical Studies
–    Technical knowledge of structure, materials, and construction.
–    Ability to act with innovative technical competence in the use of building techniques and the understanding of their evolution.
–    Understanding of the processes of technical design and the integration of structure, construction technologies, and services systems into a functionally effective whole.
–    Understanding of services systems as well as systems of transportation, communication, maintenance, and safety.
–    Awareness of the role of technical documentation and specifications in design realisation, and of the processes of construction cost planning and control.

B5. Design Studies
–    Knowledge of design theory and methods.
–    Understanding of design procedures and processes.
–    Knowledge of design precedents and architectural criticism.

B6. Professional Studies
–    Ability to act with knowledge of professional, business, financial, and legal contexts.
–    Ability to understand different forms of procurement of architectural services.
–    Awareness of the workings of the construction and development industries, financial dynamics, real estate investment, and facilities management.
–    Awareness of the potential roles of architects in conventional and new areas of activity and in an international context.
–    Understanding of business principles and their application to the development of built environments, project management, and the functioning of a professional consultancy.
–    Understanding of professional ethics and codes of conduct as they apply to the practice of architecture and of the architects’ legal responsibilities where registration, practice, and building contracts are concerned.

C. Skill
–    Ability to act and to communicate ideas through collaboration, speaking, numeracy, writing, drawing, modelling, and evaluation.
–    Ability to utilise manual, electronic, graphic and model making capabilities to explore, develop, define, and communicate a design proposal.
–    Understanding of systems of evaluation that use manual and/or electronic means for performance assessments of built environments.

Pendidikan profesi arsitek (PP-Ars) IAI berusaha mengisi dan memenuhi kesepakatan pendidikan arsitektur 5 tahun penuh. Pada sisi akademis, PP-Ars sesungguhnya meminta kesinambungan materi program pendidikan, sejak semester pertama sampai selesai.

Jalur utama (mainstream) pencapaian kualifikasi arsitek yang dijalankan oleh IAI adalah sejalan dengan UIA Accord, yaitu Pendidikan yang dilanjutkan dengan Pemagangan, dan ujian Sertifikat Keahlian. Dengan pola serupa demikian maka, melalui persyaratan yang sama, arsitek Indonesia akan mempunyai kesempatan yang setara untuk diakui keahliannya dan bekerja lintas batas.

Sosok Arsitek, Praktik Arsitektur and Etika Profesi

Lulus sekolah dan kemudian kelak berpraktik arsitektur artinya mampu menyediakan keahlian secara profesional berkaitan dengan pekerjaan perencanaan (planning) dan perancangan (design).

Beberapa pemahaman dan pengertian dasar tentang sosok arsitek and praktik arsitektur telah disepakati secara internasional. Antara lain melalui kesepakatan UIA di Beijing tahun 1999, dan pada tahun 2007 melalui ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Architectural Services.

Union of International Architects – U I A

The designation “architect” is generally reserved by law or custom to a person who is professionally and academically qualified and generally registered/ licensed/certified to practice architecture in the jurisdiction in which he or she practices and is responsible for advocating the fair and sustainable development, welfare, and the cultural expression of society’s habitat in terms of space, forms, and historical context.

ASEAN MRA on Architectural Services

Architect refers to a natural person who holds the nationality of an ASEAN Member Country and is assessed by a Professional Regulatory Authority (PRA) of any participating ASEAN Member Country as being technically, morally, and legally qualified to undertake professional practice of architectural and is registered and licensed for such practice by the Professional Regulatory Authority (PRA).

Ikatan Arsitek Indonesia – I A I

Arsitek adalah sebutan ahli yang mampu melakukan peran dalam proses kreatif menuju terwujudnya tata-ruang dan tata-masa guna memenuhi tata kehidupan masyarakat dan lingkungannya, yang mempunyai latar belakang atau dasar pendidikan tinggi arsitektur dan atau yang setara, mempunyai kompetensi yang diakui dan sesuai dengan ketetapan organisasi, serta melakukan praktik profesi arsitek.

Praktik arsitektur dipahami sebagai provision of architectural services in connection with urban planning and the design, construction, conservation, restoration or alteration of a building or group of buildings. Subject to the host country’s domestic regulations, these professional services include, but are not limited to, planning and land-use planning, urban design, provision of preliminary studies, designs, models, drawings, specifications and technical documentation, coordination of technical documentation prepared by others (consulting engineers, urban planners, landscape architects and other specialist consultants) as appropriate and without limitation, construction economics, contract administration, monitoring and supervision of construction and project management.

Arsitek bekerja melalui tahapan-tahapan pekerjaan perancangan yang lazim, sejak konsep perancangan sampai pengawasan berkala. Dalam domain yang lebih besar, jasa konstruksi, sejak perancangan sampai renovasi atau pembongkaran.

Pada setiap tahap pekerjaan arsitek memberi perhatian tentang apa yang harus dilakukan, mana yang lebih baik, apa manfaatnya bagi pemberi tugas, bagaimana dampaknya bagi lingkungan. Arsitek harus memutuskan pilihan-pilihan, bagaimana memberikan pilihan solusi dengan baik, bagaimana mengkomunikasikan pilihan-pilihan secara adil dan terbuka.

Karya arsitektur adalah proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak dengan banyak kepentingan. Dapat dipahami bahwa dalam praktik arsitektur banyak mengandung potensi konflik kepentingan.

Berpraktik dengan baik sebagai arsitek sudah tentu membutuhkan kerendahan hati dan ketegasan untuk menjunjung tinggi etika. Apakah sebaiknya kelas studio sudah memperkenalkan mahasiswa kepada etika profesi arsitek?

Setelah Arsitektur

Studio menyediakan kesempatan berlatih, eksperimen dan menjadi sebuah tempat serius untuk bermain dan mengintegrasikan berbagai disiplin keahlian menjadi sebuah solusi arsitektur.

Tantangan-tantangan besar pada masa dekat mendatang seharusnya layak untuk dikenalkan dan dipermasalahkan dalam studio. Pada banyak masalah, ini sudah melewati batas arsitektur. Beyond architecture.

Dalam dunia yang sudah mengglobal terdapat tantangan perubahan iklim yang dramatis dan habisnya sumber daya alam. Hal ini perlu dihadapi dan diatasi bersama dengan mencari solusi. Arsitek punya tanggung jawab besar dan memiliki kesempatan dalam mencari solusi tersebut. Perannya dapat diujudkan antara lain dalam menghasilkan karya yang ramah lingkungan, mengurangi konsumsi energi bangunan, dan meningkatkan kualitas ruang-ruang publik yang hijau. Ini tidak bisa dipecahkan sendiri oleh arsitek. Tetapi pengenalan dini melalui studio akan bermanfaat dan mempercepat pengenalan ramah lingkungan berkaitan dengan rancangan arsitektur bangunan, metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air dan life cycle ecological living.

Sejarah perkembangan globalisasi dalam bidang arsitektur berkaitan erat dengan kekuatan gerakan Arsitektur Modern, yang tampaknya memang mempunyai ambisi global. Walter Groupius, tahun 1919 mengatakan, ‘.. one day there will be a world-view, and then there will also be its sign, its crystal-architecture’, yang kemudian sekitar 20 tahun kemudian tercerminkan melalui Contemporary Style yang inklusif dan nyaris seragam.

Perkembangan profesi arsitek kemudian ikut mengglobal. Data-data internasional menunjukkan pertumbuhan kantor-kantor arsitek pada akhir tahun 90-an meningkat lebih dari 10 kali lipat dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Pengaruhnya kemudian terlihat pada arsitektur bangunan-bangunan penting diberbagai kota dunia seperti hotel-hotel, bandar udara, shopping mall dan gedung kantor multi-nasional dengan curtain wall kaca. Wajah kota menuju keseragaman arsitektur.

Bisa jadi globalisasi mengarah menuju internasionalisme dimana arsitektur mengujud pada keseragaman, atau eksplorasi desain demikian rupa agar mampu menjadi icon yang, bersama dengan iconic buildings lainnya, justru menjadi membosankan. Contoh nyata bisa kita lihat di Dubai dan Shanghai. Karya-karya arsitektur disana saling berlomba untuk diperhatikan. Ujud akhirnya menyerupai taman hiburan yang bagus tetapi, barangkali, kurang mengesankan integritas intelektual arsitek.

Kemudian, belakangan, kondisi seperti itu menyebabkan banyak ketidakpuasan. Muncul semangat berarsitektur yang merancang ruang dan bangunan dengan kontekstual dan mencari kekuatan dari karakter dan pusaka lokal.

Ini adalah tantangan lain yang harus dihadapi arsitek Indonesia. Pada sisi lain dari keseragaman terhampar keragaman. Ini potensi yang harus digali dan dimanfaatkan menjadi pengkayaan arsitektur. Kebiasaan, langgam gaya, ujud fisik yang mengglobal bercampur dengan budaya lokal menghasilkan sesuatu yang baru. Kerap kali hasilnya tidak terduga. Kadang-kadang juga aneh dan dianggap merusak, tetapi bisa menghasilkan kebaruan, bahkan dengan ciri identitas lokal.

Kualitas arsitektur yang berjiwa lokal hasil menekuni jalinan kebudayaan lokal dan pengaruh dari luar. Ruh lokal yang muncul begitu saja karena arsiteknya menghirup udara lokal.

Pembelajaran di Studio Arsitektur seyogyanya mampu membuat mahasiswa senang mempelajari dan mengembangkan arsitektur berdasarkan kearifan lokal.



No Responses Yet to “studio arsitektur”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: