menteng

31Dec10

.. menutup tahun 2010 saya posting disini artikel tentang menteng, sebuah kawasan elit di pusat kota jakarta. ini memang cerita singkat tentang menteng, tetapi lebih melihat kepada area yang berubah sesuai tekanan jaman. sebuah gambaran yang mungkin akan lazim kita temui pada kota-kota kita yang lain, dimana bagiannya yang paling bersejarah pun juga dibiarkan musnah ..

Latar belakang.

Kalau kita mengikuti awal pertumbuhannya, maka Menteng, sejak dulu dikenal sebagai salah satu area perumahan elite, merupakan rangkaian perjalanan yang berhulu dari kota lama Belanda: the old city of Jakarta, yaitu kota di pesisir utara Jakarta yang dibangun Belanda sejak awal kehadiran mereka di Jakarta.

Pertumbuhan Menteng pada awal abad 20 kelak adalah akibat keterbatasan kota lama memenuhi dinamika masyarakatnya. Kota (sansekerta, dapat berarti fortified place) lama ini dibangun di dalam tembok keliling yang berfungsi sebagai benteng pertahanan. Dan sebagaimana layaknya sebuah kota, kota lama ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk perumahan. Hanya saja bentuk perumahannya tidak seperti yang kita lihat sekarang. Pejabat tinggi dan orang penting saja yang menempati rumah tunggal/detached house. Selebihnya tinggal dalam barak atau semacam bachelor’s house (saat itu ada larangan untuk membawa istri dan keluarga, atau ada kebiasaan pedagang yang tidak membawa keluarga selama berniaga). Orang-orang Cina juga banyak yang tinggal di dalam kota lama, bekerja untuk Belanda atau berdagang, sedangkan di luar tembok adalah pemukiman penduduk asli ditambah beberapa ras lain seperti Portugis dan Arab.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan Cina. Orang-orang Cina, yang sebelumnya diperbolehkan tinggal di dalam tembok, setelah pemberontakan dipadamkan, dipindahkan keluar tembok ke arah selatan (saat ini area Glodok Plaza terus ke selatan). Akses ke selatan kota makin ramai. Selain oleh perumahan dan pertokoan Cina, orang Belanda juga memperkuat pertahanannya sepanjang kanal Molenvliet (sekarang jalan Gadjah Mada) sampai Harmoni. Kanal ini sudah dibangun lebih dahulu sekitar tahun 1648 untuk jalur perdagangan kayu.

Keadaan berangsur aman kembali bagi orang Belanda dan mereka mulai melirik daerah selatan kota yang segar dan hijau sebagai tempat tinggal. Lagi pula kondisi hidup di kota lama semakin sesak dan tidak sehat. Sekitar tahun 1750 gubernur jenderal Mossel mengembangkan Weltevreden (lapangan Banteng) dan mendirikan kediamannya yang besar di tempat RS Gatot Subroto sekarang berada. Halamannya sangat luas sampai ke Senen, dilengkapi danau buatan, gerombolan kijang dan kebun buah-buahan. Puncak perkembangan Weltevreden terjadi pada masa pemerintahan gubernur jenderal Daendels. Sekitar tahun 1828 ia memerintahkan pemindahan besar-besaran gedung-gedung pemerintahan dari kota lama ke Weltevreden. Situasi ini menunjukkan bahwa daerah selatan, atau Jakarta pusat sekarang, dianggap aman. Gedung pemerintahan makin banyak dibangun di daerah ini dan mendorong tumbuhnya perumahan disekitarnya.

Tahun-tahun pertengahan abad 19 sampai awal abad 20 merupakan masa stabil pemerintahan Belanda di Jakarta. Pusat kota bergeser dari kota lama ke selatan. Weltevreden berkembang. Gambir menjadi taman hiburan yang terkenal dengan Pasar Gambir. Jaringan jalan dibuat dan vila-vila baru dibangun. Daerah selatan menjadi terbuka untuk pemukiman.

Dengan latar belakang tersebut maka dapat dipahami bahwa area perumahan Menteng baru berkembang pada awal abad 20, sejalan dengan stabilitas dan kebutuhan perumahan orang-orang Belanda pada saat itu. PAJ Moojen (1879-1955), arsitek Belanda yang belajar di Belgia, datang ke Indonesia pada tahun 1903, mendirikan Kunstkring dan kemudian menjadi anggota Dewan Kotapraja dan Kondangdia-commissie. Bersama komisi ini ia mulai merancang Menteng pada tahun 1911. Rancangan Moojen yang radial kemudian dianggap kurang praktis sehingga pada tahun 1918 Ir. FJ Kubatz mendapat tugas untuk menyempurnakannya. Arsitek lain, FJL Ghijsels, sejak tahun itu juga ikut merancang Menteng termasuk sejumlah besar rumah-rumahnya.

Menteng by PAJ Moojen, 1911                   Menteng by FJ Kubatz, 1918

.

Menteng menjadi kawasan terkemuka.

Menteng berkembang bersama Gondangdia. Keduanya memang dikembangkan untuk kalangan berada orang Belanda. Pemerintah kota membeli tanah dari tuan tanah kemudian merencanakan dan membangun jaringan jalan dan vila-vila. Untuk kepentingan ini dibentuk De Bouwploeg (“kelompok membangun”, sekarang disebut Boplo) dengan tujuan memberikan jasa bagi orang-orang kaya Belanda yang ingin memiliki rumah mewah di Menteng atau Gondangdia. De Bouwploeg mempunyai kantor sendiri yang sekarang menjadi masjid Cut Meutia. Saat itu kantor ini belum menggunakan atap kubah seperti sekarang. Orientasinya dulu menghadap ke arah Gondangdia (jalan Cut Meutia sekarang) yang lebar dengan vila-vila di kedua sisi jalan. Rancangan kawasan ini barangkali sesuai dengan aksesibiltas Menteng yang dulu datang dari Weltevreden dan Koningsplein (Medan Merdeka/Gambir). Di area ini selain gedung Bouwploeg berdiri juga Gedung Kunstkring (eks Gedung Imigrasi) yang dapat dianggap sebagai landmark dan tanda memasuki kawasan Menteng.

Agak sulit melihat Menteng saja tanpa mengkaitkan perencanaan kota secara menyeluruh serta kecenderungan perencanaan kota-kota lain di Indonesia. Tata kota Jakarta waktu itu dapat dilihat sebagai tahapan perkembangan antara kota lama Hindia Belanda dengan kota modern saat sekarang. Kawasan Menteng adalah contoh bagian kota pada era tahapan tersebut. Karena kawasan ini dilindungi maka jejaknya lebih mudah dilihat dan diikuti.

Ada beberapa ciri perencanaan Menteng yang dapat dikenali. Rencana kotanya dibuat senyaman mungkin bagi orang Belanda dengan mengambil standar Eropa serta usaha adaptasi terhadap iklim tropis. Kawasan ini tidak lain adalah kemiripan yang paling mencerminkan kota di Eropa, seperti halnya beberapa kawasan lain yang terdapat di Semarang, Malang dan Bandung, yang dibangun pada masa yang sama. Fasilitas kota, ukuran jalan dan penampang jalan merupakan tiruan bagian kota Den Haag atau Hilversum. Perbedaan menyolok adalah pada arsitektur bangunan yaitu atap miring yang besar dan keberadaan teras rumah.

Karena memang ditujukan untuk kelas berada maka bentuk rumah yang dibangun adalah rumah tunggal/detached house diatas bidang tanah yang besar. Jalan yang lebar-lebar karena sudah direncanakan untuk pemakaian mobil pribadi yang saat itu berjumlah sekitar lima-ribu mobil. Yang menarik adalah bahwa fasilitas umum diikutsertakan dalam perencanaan wajah kota. Bentuknya dirancang agar dapat serasi dengan lingkungannya. Contohnya antara lain jembatan, lampu jalan, patung kota dan pompa bensin. Walaupun demikian perencanaan infrastruktur dilakukan lebih konvensional. Jaringan distribusi listrik dan telepon dibangun diatas permukaan tanah. Jaringan saluran air tidak dibuat sebagai jaringan bawah tanah yang komprehensif lintas kawasan, seperti halnya kota-kota di eropa yang ditirunya. Mungkin karena memang belum seluruhnya selesai, atau karena terbatasnya biaya pembangunan.

Rancangan bangunan di kawasan Menteng memang ditujukan untuk perumahan orang Belanda. Tidak ada bangunan tradisional Indonesia, atau bangunan khas Cina atau Portugis yang dibangun di Menteng. Rancangannya berorientasi pada gaya bangunan di Eropa dan Belanda dengan usaha adaptasi iklim tropis, kebiasaan hidup di Jakarta dan gaya hidup masyarakat kolonial.

Arsitektur bangunannya dapat disebut berkarakter fungsionalis tahun duapuluhan dengan variasi tropis art-deco dengan jejak-jejak neo-klasik peninggalan abad 19. Adaptasi arsitektur lokal sangat dipengaruhi oleh iklim tropis. Hal ini tercerminkan melalui kecenderungan penggunaan ventilasi alamiah dan menghindari cahaya matahari langsung. Karena hal ini maka dapat dipahami adanya rancangan ruang dengan langit-langit sangat tinggi, volume para-para atap yang besar, lubang-lubang ventilasi serta pintu dan jendela ganda. Material tradisional dan keterampilan lokal juga memberi bekas melalui bentuk atap miring, konstruksi kayu dan ubin semen berwarna. Ditambah dengan material bangunan yang didatangkan dari luar negeri, ini menjadikannya khas arsitektur Hindia-Belanda, atau arsitektur kolonial, atau juga indische architectuur.

Kaum wanita juga diduga mempunyai peran dalam arsitektur kolonial. Wanita Belanda/Eropa, yang sebelumnya dilarang ikut, pada awal abad 20 mulai diterima secara luas di Jakarta. Mereka mungkin ikut berperan dalam menentukan ruang-ruang dalam rumah, seperti adanya susunan kamar berbanjar yang khas, hubungan antar kamar dengan pintu penghubung, dan kamar mandi sendiri. Demikian pula wanita pribumi. Peran mereka meningkat dari sekedar babu menjadi nyai, housekeeper, yang mengatur kehidupan rumah tangga sehari-hari. Ini sangat berarti dalam membentuk kebiasaan mempunyai servant quarter di belakang rumah  induk.

Menteng dengan arsitektur kolonialnya sudah merupakan bagian nyata sejarah kota. Rancangan kawasannya, bentuk bangunan dan gedung-gedung, elemen-elemen dekoratif, arsitekturnya, merupakan hal-hal yang dapat dilihat dan dinikmati. Tetapi ia juga menyimpan bagian-bagian yang tidak terlihat yang justru memberi jiwa pada kawasan ini. Bagian yang tersembunyi, tetapi membuat Menteng pernah mempunyai kehangatan, seperti sikapnya yang menghormati manusia, ide-ide yang akrab dengan iklim, dan warna lokal yang sangat dikenal oleh masyarakat.

Menteng yang berubah.

Pengaruh arsitektur Eropa yang adaptif dan muatan lokal yang signifikan selain memberikan nuansa arsitektur yang khas, juga memberikan contoh pilhan yang teruji pada detail-detail konstruksi. Menteng tidak membatasi pencarian obyek arsitektur saja tetapi juga mengundang kondisi-kondisi khas tropis menjadi bagian dari pengolahannya, dengan demikian selain untuk ilmu arsitektur ia juga memberi manfaat praktis bagi penghuninya.

Tetapi saat ini Menteng sudah berubah.

Saat ini, menjelang usia 100 tahun, secara keseluruhan Menteng tinggal sedikit mencuatkan warna tersendiri dalam pengapnya tata ruang kota Jakarta. Rancangan kawasan Menteng, yang saat ini sudah diiris-iris oleh arus padat lalu lintas, masih meninggalkan tata ruang dan pola orientasi lingkungan yang cukup jelas. Aksis utara-selatan melalui jalan Teuku Umar (Van Heutsz Boulevard) bertemu dengan aksis timur-barat -jalan Diponegoro (Oranje Boulevard) – jalan Imam Bonjol (Nassau Boulevard)- di area Taman Surapati (Burgemeester Bisschopplein) yang ramai dimanfaatkan masyarakat. Pada kedua aksis ini masih tersisa linkage yang nyaman menghubungkan bagian-bagian Menteng dengan berjalan kaki. Pedestrian yang lebar dan pohon-pohon besar yang rindang sejak bioskop Megaria (Metropole) sampai bundaran Hotel Indonesia (timur-barat), atau dari Taman Surapati sampai Boplo (selatan-utara).

Berbeda dengan rancangan kawasan Menteng yang masih bertahan seperti rancangan FJ Kubatz (1918) dulu, bangunan gedung dan rumah-rumah di Menteng sudah banyak berubah. Para pemilik lama, dengan berbagai alasan, menjual rumah-rumahnya kepada para pemilik baru yang kaya-raya tetapi tidak perduli dengan sejarah Menteng. Mereka membeli karena lokasi yang strategis dan karena brand image sebagai kawasan elite. Tidak ada kaitan emosi terhadap sejarah Menteng dan rumah yang dibeli, maka dengan alasan kebutuhan yang berubah, berubah pula rumah menjadi bangunan masa kini yang secara perlahan akan menutup buku sejarah arsitektur Menteng.

Walaupun diketahui secara luas ada peraturan yang melindungi rumah-rumah di Menteng, tetapi secara pasti, dengan berbagai cara, mereka dirubuhkan untuk kemudian dibangun kembali dengan arsitektur yang baru.

Pada perjalanannya selama ini, pembangunan rumah-rumah baru tersebut akhirnya juga tidak memperhatikan skala bangunan terhadap lebar jalan di lingkungannya. Beberapa contoh di jalan Sumatera dan jalan Sawo, yang semula memang dirancang sebagai jalan sempit dengan kapling kecil untuk rumah yang lebih sederhana, kini dua atau lebih kapling dijadikan satu untuk rumah berukuran besar. Beberapa bangunan baru seperti gedung kantor dan apartemen di jalan Gondangdia Lama (sekarang jalan RP Soeroso) dan jalan Teuku Cik Ditiro juga out of scale.

Kondisi fisik lingkungan dan lalu lintas terus berubah. Kawasan Menteng dulu tidak dirancang untuk hal seperti ini. Jadi, biarkan Menteng berubah. Atau, kalau masih ada niat untuk dipertahankan, maka mungkin usulan berikut bisa dipertimbangkan untuk melengkapi yang ada. Pertama, klasifikasi rumah tinggal yang sekarang tiga kelas (A, B, C), dirubah menjadi hanya dua kelas: Boleh atau Tidak Boleh dibongkar. Kedua, untuk rumah yang boleh dibongkar ada ketetapan bagian mana yang boleh dibangun kembali lebih besar daripada ukuran rumah yang digantikannya. Ketiga, menetapkan secara lebih jelas bagian Menteng, meliputi bagian jalan dan rumah-rumah, mana yang harus dipertahankan, mana yang boleh diperbaiki tanpa menghilangkan keasliannya, dan bagian mana yang dianggap tidak kritis dan boleh dirubah.

Tentu saja peraturan-peraturan harus dijalankan dengan konsisten, serta memberikan insentif yang signifikan bagi pemilik yang memelihara rumah tuanya.

.

* artikel ini dimuat dalam media Ruang, Desember 2010.



No Responses Yet to “menteng”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: