memugar ka’bah

27Mar11

Sudah beberapa lama saya baca buku tentang sejarah nabi Muhammad, belum juga selesai. Di hari minggu seperti ini adalah waktu yang baik untuk meneruskan membaca. Saya ingin berbagi sedikit dengan menuliskan satu bab disini. Tulisan dibawah ini diambil seutuhnya dari buku berjudul “Muhammad. Kisah hidup nabi berdasarkan sumber klasik”, ditulis oleh Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din) dan diterjemahkan oleh Qamaruddin SF. Buku ini diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta.

.

Pemugaran Ka’bah

Sebelum kejadian-kejadian yang disebut terakhir itu – kira-kira saat Ali ke dalam keluarga Muhammad, ketika Muhammad berusia sekitar 35 tahun – Quraisy memutuskan untuk membangun kembali Ka’bah. Hal itu dilakukan karena dinding-dinding yang ada saat itu hanya setinggi manusia dan tidak ada atapnya. Artinya, kalaupun pintu dikunci, mudah sekali untk dimasuki. Belakangan, ada pencurian terhadap sebagian barang berharga yang dipendam di baah tanah yang memang digali di dalam bangunan itu sebagai tempat penyimpanan. Mereka telah menyiapkan semua kayu yang dibutuhkan untuk atap: ada kapal seorang pedagang Yunani di pantai Jedah yang hancur dan tak bisa diperbaiki lagi, dan kayu kapal itulah yang mereka ambil untuk membuat atap. Pada saat itu, di Mekah kebetulan ada seorang Koptis yang ahli memahat kayu.

Namun demikian, karena sangat menghormati Ka’bah, mereka ragu-ragu melakukannya. Rencananya, dinding-dinding yang terdiri atas batu-batu lepas akan dipugar dan akan dibangun kembali secara utuh. Tetapi, mereka takut ditmpa bencana karena melanggar kesucian. Mereka semakin ragu setelah ada seekor ular besar yang setiap hari keluar dari bawah tanah dan berjemur di bawah terik matahari di sudut dinding ka’bah. Jika ada orang mendekat, ular itu mengangkat kepalanya dan mendesis dengan mulut terbuka, sehingga mereka ketakutan. Namun pada suatu hari, ketika ular itu tengah berjemur, Tuhan mengirim seekor burung elang untuk menerkam ular itu dan pergi membawanya. Karena itu, kaum Quraisy berkata di antara mereka sendiri, “Kini kita boleh berharap Tuhan merestui maksud kita. Kita mempunyai seorang pemahat yang sehati dengan kita; kita juga punya kayu dan Tuhan telah membebaskan kita dari ular itu.”

Orang pertama yang mengangkat batu dari atap salah satu dinding Ka’bah adalah Abu Wahb dari Bani Makhzum, saudara Fathimah, nenek Muhammad. Tetapi, begitu diangkat, batu itu terlepas dari tangannya dan kembali ke tempat semula. Mereka semua langsung menyingkir dari Ka’bah dan takut untuk meneruskan rencana mereka. Kemudian, pemimpin Makhzum, Walid, putra almarhum Mughirah, mengambil sebuah godam dan berkata, “Aku akan memulai meruntuhkannya untuk kalian.” Lalu ia menuju Ka’bah dan berkata, “Ya Tuhan, kami hanya menghendaki kebajikan.” Lantas, ia merobohkan bagian dinding di antara Hajar Aswad dan sudut Yamani, yaitu dinding sebelah tenggara. Orang-orang lainnya mundur. “Biarlah kita lihat dulu,” kata mereka. “Kalau Walid terbunuh, kita tidak akan meruntuhkan dinding Ka’bah, dan akan membenahinya lagi seperti semula. Akan tetapi, kalau ia selamat, berarti Tuhan merestui pekerjaan kita, dan kita akan terus meruntuhkan semuanya hingga rata dengan tanah.”

Malam berlalu tanpa ada peristiwa yang tidak diharapkan, Keesokan paginya, Walid kembali bekerja. Maka, orang-orang bergabung dengannya. Ketika semua dinding itu telah runtuh hingga tinggal fondasi yang dibuat oleh Ibrahim, mereka menemukan dua batu bundar kehijau-hijauan seperti punuk  unta yang terletak berdekatan. Seorang lelaku meletakkan pengungkit di antara dua batu itu dan menjungkal salah satunya. Namun, pada saat batu itu bergerak, gempa menggoncang seluruh Mekah. Mereka menganggap gempa itu sebagai pertanda bahwa mereka harus membiarkan fondasi tersebut.

Di pojok Hajar Aswad, mereka menemukan sebuah tulisan berbahasa Syria. Mereka menyimpannya tanpa mengetahui isinya. Ada seorang Yahudi membacakannya kepada mereka: “Aku adalah Tuhan, Pemilik Ka’bah. Aku ciptakan ia pada hari Kuciptakan langit dan bumi, ketika Kuciptakan matahari dan bulan, dan Kutempatkan di sekelilingnya tujuh malaikat yang suci. Ka’bah akan tetap berdiri selama dua bukit di sekitarnya berdiri, berkah bagi penduduknya dengan susu dan air.” Tulisan lainnya ditemukan di dalam maqam Ibrahim, sebuah batu kecil di dekat pintu Ka’bah yang secara ajaib terdapat cetakan bekas telapak kaki Ibrahim: “Mekah adalah Rumah Tuhan yang suci. Para peziarahnya datang dari tiga penjuru. Jangan biarkan kaumnya menjadi orang pertama yang mencemarinya.”

Kini, kaum Quraisy mengumpulkan batu lebih banyak lagi – sebagai tambahan dari yang telah ada – untuk mempertinggi bangunannya. Masing-masing kabilah bekerja sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan. Setelah dinding-dinding itu cukup tinggi, sampailah pada tahap peletakan kembali Hajar Aswad di pojoknya. Perdebatan pun merebak di antara mereka. Masing-masing kabilah ingin mendapat kehormatan mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada tempatnya semula. Perselisihan berlangsung selama empat atau lima hari. Ketegangan itu pun memuncak sampai muncul kubu-kubu dan nyaris terjadi pertumpahan darah. Salah seorang yang tertua usianya di antara orang Quraisy mengajukan solusi. Ia berkata, “Wahai kaum Quraisy, untuk mengakhiri pertengkaran yang terjadi di antara kalian, tunjuklah seorang penengah dari orang pertama yang memasuki gerbang masjid pada hari ini.” Wilayah di sekitar Ka’bah disebut masjid. Dalam bahasa Arab, masjid adalah tempat bersujud, karena ritual sujud kepada Tuhan menghadap ke Rumah Suci itu telah dilakukan di sana sejak jaman Ibrahim dan Ismail. Mereka setuju dengan usulan orang tua itu. Ternyata, orang yang pertama kali masuk ke masjid adalah Muhammad yang baru saja kembali ke Mekah. Melihat kehadirannya, mereka serentak dan spontan mengakui bahwa Muhammad adalah orang yang tepat untuk tugas itu. Kedatangannya disambut dengan ekspresi kepuasan. “Dialah al-Amin,” kata beberapa orang. “Kita rela menerima putusannya,” kata yang lainnya, “dia adalah Muhammad.” Ketika duduk persoalannya telah dijelaskan, beliau berkata, “Berikanlah kepadaku selembar selimut.” Setelah mereka memberikannya, beliau membentangkan selimut itu di tanah. Lalu beliau mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di tengah kain itu. “Silakan masing-masing kabilah memegang ujung selimut itu,” katanya. Kemudian, mereka secara serentak mengangkat batu itu. Setibanya di tempat penyimpanan Hajar Aswad, Muhammad mengambil batu itu, lalu meletakkannya di pojok. Pemugaran Ka’bah pun dilanjutkan hingga selesai.



No Responses Yet to “memugar ka’bah”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: