nexus arsitektur vs etika

31Mar11

Pengantar Sarasehan Etika Profesi

Kiprah atau praktik profesi arsitektur di mana-mana dewasa ini menghadapi berbagai perubahan seiring dengan perkembangan landasan/tatanan hubungan antar manusia. Jangkauan tantangannya mencakupi dari landasan legal-formal (positif) hingga ke pertimbangan pranata sosial (relatif). Tampaknya, untuk memahaminya tidak lagi cukup dengan, misalnya, sekedar mengurai hubungan antar-manusia itu sebagai dikotomi paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (gesselschaft) saja, atau tatanan mekanis dan organik, yang selama ini dipandang telah menurunkan perangkat hukum formal dan norma perilaku. Sekarang, tampak tidak lagi sesederhana itu. Pergeseran peran individu dan kelompok, batas-batas pribadi dan publik, di dalam kehidupan sehari-hari telah semakin sulit diikuti. Apalagi, perkembangan tafsir akan hak dan kewajiban, serta wewenang  dan tanggungjawabnya, yang sudah melebar dan meruyak memasuki ranah yang belum pernah terjamah. Semuanya malih (transform) tanpa padanan. Semuanya menuntut pembacaan-ulang, tinjauan-ulang, hingga akhirnya ke perumusan-ulang ang menghasilkan pemahaman-baru, yang -melihat gelagatnya- itu pun harus senantiasa siap untuk diperbaharui lagi terus menerus.

Kalau dunia dewasa ini ditandai dengan saling b(t)ergantung (interdependen), maka bagian kunci daripadanya adalah komunikasi, yakni dalam pertukaran informasi. Teknologi informasi telah membuka kemungkinan-kemungkinan yang menakjubkan dalam (multi-)media, dalam daya-muat dan kecepatan, dalam kemampuan menyimpan (save) dan kemudahan mengambil (retrieve) yang andal dan niscaya, juga dalam berbagai bentuk pencitraan dan tampilan (bahkan sekarang telah mencapai 3-D Printing!). Persebaran gagasan (atau cercaan) berlangsung lipat ganda mencengangkan, hingga kelembagaan sosial-budaya pun tunggang-langgang ketinggalan (sudah berlangsung sepanjang abad lalu). Teknologi energi dan material, biologi molekular dan pemahaman akan fenomena kesadaran, yang semuanya berdampak pada lingkungan kehidupan dan juga pada perilaku. Dan terselip di dalam semua hal itu berbagai nada dan moda transaksi ekonomi dan, tentu saja, juga jejaring kekuasaan. Dengan itu pemiliknya dapat memburu, memiliki, dan mendikte apa saja. Secara etis, gading gajah dan belang harimau telah lama dikenal sebagai amsal betapa kekuasaan, yang antara lain lahir dari teknologi semacam itu, akan berdampak pada kehidupan.

Jadi, karena itu, sungguh benarkah diperlukan etika baru?

Jelaslah, perubahan dan perkembangan itu memang tidak berdiri sendiri, tidak pula hanya menimpa bidang arsitektur saja. Namun, dunia arsitektur yang galib dikenal sebagai perdaban hilir itu -setidak-tidaknya kalau dilihat dari perspektif perkembangan sains dan teknologi, yakni ketika arsitek dipandang sebagai pengguna teknologi- kini telah menjadi tumpuan arus. Arsitektur menjadi muara tempat berkecamuknya masalah puncakdalam sarasehan ini: etika-kerja. Di situ, di kawah itu, nyaris pada setiap tahapan perancangan seorang arsitek -dari penerimaan tugas hingga ke penyelesaiannya- terkandung masalah etis. Belum lagi dalam hal upaya memperkenalkan dirinya sebagai seorang arsitek dan pengakuan masyarakat akan eksistensi profesinya. itulah sebabnya mengapa profesi seorang arsitek selalu berada di ujung tanduk-etika, sebutir telur yang selalu dirundung mala+karma (simalakama). Si/Apa sesungguhnya arsitek/tur itu?

Itulah kubangan dilema untuk suatu uneasy profession kiwari (kontemporer): nexus arsitektur >< etika; bagaimana menyikapinya?

.

Yuswadi Saliya

Bandung, Maret 2011

.

Catatan: Sarasehannya sendiri akan berlangsung di Bandung, Sabtu, 2 April 2011.



No Responses Yet to “nexus arsitektur vs etika”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: