robi sularto | pakar tradisi

02Apr11

Robi Sularto Sastrowardoyo

Di masyarakat umum, mungkin cuma beberapa arsitek besar Indonesia yang dikenal karena karya, pemikiran dan tindakan arsitekturalnya. Almarhum Freidrich Silaban, lewat karya-karyanya yang sangat teknis dalam menyiasati kondisi tropis, seperti yang diperlihatkan di Gedung Bank Indonesia Thamrin Jakarta dan juga karya agungnya, Masjid Istiqlal. Selain itu, alm. Romo Mangun lewat pembelaan terhadap warga Kedung Ombo, dan juga lewat karya-karya arsitektur yang cermat lingkungan, cermat sumberdaya dan sensitif terhadap keseharian manusia seperti yang diperlihatkan pada rancangan kompleks ziarah Sendang-Sono dan pada pemukiman para rohaniawan Tapis, di Salatiga. Di luar nama itu, masyarakat kita rasanya lebih banyak mengenal nama-nama besar arsitek luar negeri yang karyanya juga banyak ditiru disini. Padahal, banyak arsitek Indonesia dengan prestasi luar biasa di dalam dan di luar negeri yang seharusnya dikenal, hal mana tidak terjadi karena pembahasan tentang arsitek dan arsitektur belum banyak dilakukan di media-media umum. Publik Indonesia lebih banyak mengenal “gaya” arsitektur daripada arsitek-arsitek penggagas gaya-gaya itu.
Hari Minggu, 30 Juli 2000, Indonesia kehilangan satu lagi tokoh yang sebenarnya menduduki posisi yang sangat penting dalam wacana Arsitektur Indonesia: Robi Sularto Sastrowardoyo. Alm. Robi Sularto adalah salah satu arsitek lulusan pertama pendidikan arsitektur Indonesia, ITB. Beliau seperti juga banyak “lulusan” baru saat itu tercatat sebagai salah satu arsitek proyek CONEFO (gedung MPR, DPR) dibawah pimpinan alm. Suyudi, satu nama yang mungkin juga tidak begitu dikenal masyarakat.

Jati diri Robi Sularto sebagai seorang arsitek mulai terbentuk ketika beliau mulai terlibat sebagai arsitek utama proyek Expo Jepang 1970 dimana rancangannya untuk paviliun Indonesia memperoleh tanggapan yang sangat baik dari publik Expo disana. Untuk itu Robi Sularto menengok tradisi arsitektur lokal Indonesia, pada Bali dengan segala ujud arsitekturnya, suatu hal yang tidak lumrah mengingat saat itu adalah saat puncak bagi gerakan arsitektur Modern dan munculnya “International Style” yang diklaim sebagai ekspresi jaman baru. Modernisme masuk ke dalam arsitektur dan menjadi arus utama abad ke-20 dengan beberapa ciri. Ciri utama adalah efisiensi produksi arsitektur seperti pada industri, hal mana membuat arsitektur menjadi sangat tergantung pada modus dan bahan industrial yang serba presisi, berulang untuk mengejar efektifitas produksi dan murah karena sifatnya yang repetitif. Kerajinan tangan, keahlian tukang yang spesifik dalam menghasilkan ornamen, menjadi hal yang dihindari karena ketidak presisian ujud yang dihasilkan. Dalam paradigma semacam itu, arsitektur akhirnya betul-betul muncul “seragam” sebagai hasil industri konstruksi, bukan rancangan unik seperti yang ditemui pada berbagai masyarakat non industrial.

Pada usia begitu muda, ketika orang cenderung ikut arus besar dunia, Robi Sularto justru memperlihatkan jiwa visioner, menentang arus dan berusaha membuktikan bahwa tradisi lokal, apalagi tradisi yang masih hidup, tidak mungkin dihapus oleh sebuah arus yang ingin menyeragamkan ujud arsitektur (dan ujud budaya lainnya) secara universal. Terjunnya Robi Sularto ke Bali, adalah dalam rangka menjalankan “program” untuk mengangkat tradisi lokal dan meletakkannya secara terhormat di kancah pergaulan budaya internasional. Bali dengan tradisinya yang hidup, memperoleh manfaat cukup besar dengan kehadiran beliau, seorang insinyur teknik yang punya kepekaan terhadap hal-hal yang tidak semata-mata rasional.

Robi Sularto juga memulai sebuah tradisi berarsitektur “baru” di Bali, dengan membuka wacana secara luas, melakukan pertukaran ide, perdebatan terbuka lewat sebuah kelompok diskusi internasional yang dinamakan “Tjampuhan Society”. Di kelompok ini berkumpul berbagai pakar dari berbagai bangsa, berbagai bidang, arsitek, ahli konstruksi, antropolog, arkeolog, ahli fisika dsb. Mereka berkumpul setahun sekali di Tjampuhan, Ubud, sebuah strategi canggih untuk memperkenalkan Bali dan tradisinya ke dunia intelektual dunia. Pada setiap pertemuan, para “anggota” diminta untuk menyajikan satu ide dengan berbagai dalih, untuk didiskusikan, didebat dan dikembangkan bersama. Tidak ada isu menang atau kalah, tujuan akhirnya agaknya lebih diarahkan untuk memberikan sumbangan bagi manusia dan kemanusiaan yang universal, lewat pendalaman atas penguasaan ilmu dan pengetahuan masing-masing yang sangat spesifik. Sebuah komunitas yang terbuka, demokratis dan berorientasi pada sikap “think locally, act globally”.

Beberapa riset dan pemikiran Robi Sularto tentang tradisi Bali sempat dituangkan, dan kemudian menjadi semacam panduan bagi mereka yang ingin mendalami arsitektur Bali secara serius. Kesadaran untuk mengkonservasi budaya dan arsitektur Bali saat ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran beliau. Sehingga Bali, dengan pertumbuhan fisik yang begitu pesatnya, tidak mendadak berubah menjadi seperti Miami atau Hawaii misalnya, dengan bangunan tinggi yang menjulang tanpa batas. Posisi beliau sebagai orang penting di departement PU dan juga sebagai akademikus di universitas terkemuka di Denpasar, memudahkan komunikasi ide-ide ke masyarakat yang lebih luas.

Robi Sularto dengan beberapa rekannya juga menjalankan profesi arsitek, lewat sebuah biro arsitek, Atelier Enam, yang pernah menjadi legenda lewat karya-karya mereka yang pro’ “genius loci”, pro pada jiwa tempat karya-karya itu dibangun. Beberapa karya unggulan mereka mendapat berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, seperti kompleks executive Club Senayan, yang sangat “modern” untuk saat itu karena berada di tengah-tengah kota Jakarta, namun memperlihatkan sensitifitas terhadap klimat dan terhadap kesibukan kota Jakarta yang diperlihatkan lewat kehadiran selasar-selasar, skala bangunan yang tidak terlalu besar dan berjarak cukup jauh dari jalan utama dan kombinasi bahan beton dan lempeng terakota yang menampilkan struktur mirip-mirip candi. Selain itu juga hotel Nusa Dua pertama, sebuah hotel modern yang dirancang dengan idiom-idiom Bali. Hotel ini merupakan “kemenangan” ide Robi, dimana hotel yang dibangun sebagai monumen pariwisata Indonesia, dapat hadir dengan semangat lokal yang sangat kuat. Rancangan hotel ini menghasilkan sebuah Mahaputera bagi kelompok Robi Sularto yang diterima atas nama rekan sekantornya. Lebih penting lagi, karya tersebut menjadi semacam “trend” bagi pembangunan di berbagai daerah di Indonesia. Setiap proyek baru, terutama proyek pemerintah, tiba-tiba seperti “diharuskan” memiliki ciri lokal. Beberapa bahkan terjebak pada ekstrim yang menggemaskan, seperti “joglonisasi” Jateng misalnya.

Secara tidak langsung, Robi dkk mengangkat sebuah isu penting ke permukaan arsitektur di negeri ini, yaitu tentang jatidiri, tentang pencarian identitas arsitektur Indonesia. Sepanjang dekade 1970-1980 an, debat publik arsitektur (yang entah mengapa selalu menjadi debat tertutup), dipenuhi oleh isu tersebut. Dengan keanekaragaman tradisi dan ujud arsitekturnya, sampai saat itu Indonesia masih “belum” dianggap memiliki ciri khusus terutama pada karya-karya arsitek dan arsitektur kontemporernya. Mungkin hal tersebut juga berlaku sampai saat ini.

Robi Sularto sebagai “pakar” tradisi arsitektur, menjadi salah satu pusat terpenting perdebatan tentang identitas Indonesia dalam arsitektur kontemporer. Usaha beliau menterjemahkan tradisi sebagai sebuah telaah problematik yang terbuka, menghasilkan beberapa karya unggulan yang eklektik namun tetap bersumber pada pengertian arsitektur dan ruang buatan dalam tatanan kosmologi Indonesia, paling tidak kosmologi Timur dalam pengertian beliau.

Bangunan DPRD Flores misalnya yang menunjukkan karakter lokal yang kuat, namun dengan spekulasi teknik berkonstruksi modern yang penuh perhitungan rasional. Terlihat sebuah usaha untuk menggabungkan ujud hasil tradisi panjang berarsitektur dengan temuan mutakhir di bidang ini. Secara sadar Robi dkk berusaha untuk menghasilkan produk yang dapat menjadi wakil Indonesia di jamannya.

Demikian pula karya Robi dkk di komplek STEKPI di Jakarta yang kemudian dianggap sebagai salah satu tonggak penting eklektisisme arsitektur, bahkan sebagai tonggak arsitektur Post Modern di Indonesia. Di bangunan ini Robi Sularto dkk mendemonstrasikan teknik membuat detail arsitektur setara dengan teknik “membatik” yang sangat rumit, telaten dan tidak berdasarkan standar industrial. Warna warna yang dipilihpun cenderung mengikuti skema warna alami, yang berkonotasi “tradisional”.

Sebagai aktifis, Robi banyak melluangkan waktu sebagai pengurus Ikatan Arsitek Indonesia. Beliau bahkan memperoleh penghargaan khusus atas pengabdiannya terhadap lembaga profesi ini. Robi juga turut serta dalam pendirian Lembaga Sejarah Arsitektur Indoneisa, sebuah lembaga yang aktif mendiskusikan, melakukan penelitian dan menerbitkan tulisan tentang sejarah arsitektur Indonesia.

Pada tahun-tahun belakangan ini, ketika kesehatan beliau sudah mulai menurun akibat pengerasan hati yang bersifat degeneratif, Robi Sularto lebih banyak melakukan aktifitasnya sebagai pemikir dan pendidik. Ada beberapa tulisan yang dimuat di berbagai media tentang isu sejarah dan budaya.

Kedekatan beliau dengan dunia pendidikan, diperlihatkan lewat kehadirannya dalam berbagai penjurian karya dan skripsi mahasiswa/I di Indonesia. Sebagai seorang generalis sejati, Robi sering bicara tentang berbagai hal yang berbeda pada kesempatan yang berbeda. Pada satu saat ia bicara tentang teknologi, yang sangat rasional dan teknis, pada kesempatan lain ia bicara tentang dunia roh dan berusaha menjustifikasikannya dengan temuan teknologi mutakhir.

Setelah mengenal beliau cukup lama, saya sadar bahwa agenda utama di balik “plintat-plintut” pernyataannya, adalah untuk membuka mata kami murid-muridnya akan dunia kemungkinan yang begitu luas dan dalam. Agar kami dapat memilih sikap hidup sesudah mengetahui sebanyak mungkin.

Keakrabannya dengan berbagai kalangan, berbagai golongan, nyata pada malam sebelum beliau dimakamkan. Doa dipanjatkan dalam berbagai bahasa doa oleh wakil berbagai agama. Dan pemakamannya dihadiri begitu banyak rekan seprofesi, sahabat dan murid-muridnya. Pada saat seperti ini kita tiba-tiba sadar, memang seorang tokoh arsitektur telah meninggalkan kita dengan berbagai pencapaian yang luar biasa. Semoga saja masyarakat mengenal satu lagi nama penting dalam sejarah arsitektur Indonesia. Robi Sularto, memang telah membuat sejarah.

Sonny Sutanto
Dosen FTUI, Arsitek – 15 Agustus 2000



3 Responses to “robi sularto | pakar tradisi”

  1. terimakasih atas informasi ini, sangat berharga di tengah keringnya informasi arsitektur nusantara
    salam

  2. Rumah kami dan tempat latihan PGB Bangau Putih di Ubud, di rancang oleh almarhum ditahaun 1970 an. Terima kasih atas ulasannya. Andyan Rahardja

  3. 3 e

    gede, terima kasih sudah mampir kesini.
    andyan, terima kasih infonya. menarik. boleh tahu alamatnya, sehingga kalau main ke bali saya bisa mampir melihat karya beliau? boleh kan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: