konservasi dan etika profesi arsitek

19Oct11

Pemahaman tentang arti konservasi pada tulisan ini adalah pekerjaan melestarikan bangunan tua, yaitu sebagai usaha mencegah kerusakan bangunan dan sekaligus memperpanjang usia pakainya. Dengan demikian pekerjaan yang dilakukan tidak boleh menyebabkan kerusakan baru, harus tetap terpelihara dengan baik serta disiapkan untuk hidup dan tumbuh bersama masyarakat ke masa depan.

Karena menyangkut pekerjaan pada bangunan maka tentu saja akan sangat terkait pada profesi arsitek. Pekerjaan konservasi tidak melulu hanya merupakan pekerjaan di lapangan, tetapi sudah dirancang jauh sebelumnya, yaitu bagaimana konservasi akan dilakukan untuk mencapai kriteria dan tujuan yang sudah ditetapkan terlebih dahulu. Secara umum kalau dikaitkan dengan tahapan pekerjaan arsitek, maka konservasi menjadi bagian yang paling akhir, yaitu saat bangunan akan dibongkar (demolish), atau menjadi awal dari seluruh pekerjaan pada saat bangunan tua akan dikonservasi. Tetapi di bagian manapun konservasi didalam kaitan pekerjaan arsitek, tidak mengurangi kewajiban profesinya untuk bekerja all-out. Bahkan, dengan statusnya sebagai pekerjaan konservasi, memerlukan perhatian lebih banyak karena berhubungan dengan bangunan yang sudah berumur.

Pada setiap kegiatan melibatkan banyak pihak dengan banyak kepentingan. Pada setiap tahapan ada keputusan-keputusan yang harus diambil secara mandiri, obyektif, adil dan tidak menyebabkan pertentangan kepentingan. Ini sikap etis yang menjadi bagian jiwa profesi arsitek.

Apapun obyek pekerjaannya, etika arsitek akan menjadi pedoman bekerja. Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa kalau arsitek bekerja dengan baik sesuai hak dan kewajibannya, maka ia sudah bekerja dengan etis.

Arsitek sudah melakukan praktik dan berkarya sejak jaman dahulu kala. Bahkan profesi arsitek pernah dikenal sebagai master builder. Semua keputusan dalam hal perancangan dan pembangunan ditentukan olehnya.

Saat ini, seperti yang kita ketahui, profesi arsitek sudah berkembang dan berubah dalam pertumbuhannya. Pekerjaan yang dilakukan oleh arsitek sudah jauh lebih rumit, kebutuhan pemilik pekerjaan makin banyak, dan perkembangan teknologi berkembang dengan pesat. Tekanan sosial dan tantangan ekologis juga terus bertambah berat. Perubahan-perubahan ini berpengaruh pada lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh arsitek dan para ahli bangunan lain yang terlibat pada proses perancangan dan konstruksi.

Secara internasional pemahaman mengenai lingkup kerja arsitek, termasuk keterkaitan langsung arsitek dengan pekerjaan konservasi, dicerminkan melalui pendefinisian lingkup kerja arsitek sebagai berikut:

The practice of architecture consists of the provision of professional services in connection with town planning and the design, construction, enlargement, conservation, restoration, or alteration of a building or group of buildings. These professional services include, but are not limited to, planning and land-use planning, urban design, provision of preliminary studies, designs, models, drawings, specifications and technical documentation, coordination of technical documentation prepared by others (consulting engineers, urban planners, landscape architects and other specialist consultants) as appropriate and without limitation, construction economics, contract administration, monitoring of construction (referred to as “supervision” in some countries), and project management. (UIA Accord 1999)

Pengertian serupa juga diujudkan dalam pemahaman tentang lingkup praktik arsitek dalam skema ASEAN Mutual Recognition Arrangement on Architectural Services. Skema ini adalah usaha mewadahi praktik kerja lintas batas arsitek di lingkungan negara-negara ASEAN.

Practice of Architecture refers to the provision of architectural services in connection with urban planning and the design, construction, conservation, restoration or alteration of a building or group of buildings. Subject to the Host Country’s domestic regulations, these professional services include, but are not limited to, planning and land-use planning, urban design, provision of preliminary studies, designs, models, drawings, specifications and technical documentation, coordination of technical documentation prepared by others (consulting engineers, urban planners, landscape architects and other specialist consultants) as appropriate and without limitation, construction economics, contract administration, monitoring and supervision of construction and project management. (ASEAN MRA on Architectural Services)

Dari pemahaman tentang lingkup pekerjaan arsitek diatas maka dapat dipahami bahwa pekerjaan konservasi secara praktis memang sudah menjadi bagian pekerjaan arsitek. Tetapi tidak seperti perancangan bangunan baru, konservasi bukan pekerjaan yang dianggap mudah karena kerap kali berhubungan dengan bangunan tua yang tidak mempunyai dokumen dan gambar yang lengkap.

Bangunan-bangunan tua dalam proyek konservasi sering kali pula merupakan bangunan yang dilindungi. Bangunan yang sudah menjadi pusaka (heritage building), dan demikian memerlukan perhatian dan cara kerja yang lebih hatri-hati. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) memberi aturan khusus pada kode etik dan kaidah tata laku arsitek tentang lingkup pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan konservasi.

Kaidah Dasar 1, Kewajiban Umum, Paragraf 3:

Secara umum, para arsitek memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk selalu menjunjung tinggi dan meningkatkan nilai-nilai budaya dan arsitektur, serta menghargai dan ikut berperan serta dalam mempertimbangkan segala aspek sosial dan lingkungan untuk setiap kegiatan profesionalnya, dan menolak hal-hal yang tidak profesional.

Kaidah Dasar merupakan kaidah pengarahan secara luas sikap beretika seorang arsitek. Pengarahan umum ini kemudian diturunkan dan diuraikan menjadi Standar Etika, yaitu tujuan yang lebih spesifik dan baku yang harus ditaati dan diterapkan oleh anggota dalam bertindak dan berprofesi, dan diatur lebih lanjut sebagai Kaidah Tata Laku yang bersifat wajib untuk ditaati, pelanggaran terhadap kaidah tata laku akan dikenakan tindakan, sanksi organisasi. Adapun tata laku ini, dalam beberapa kondisi/situasi merupakan penerapan akan satu atau lebih kaidah maupun standar etika. Kode etik dan kaidah tata laku ini menjadi tulang punggung profesi arsitek dan menjadi pedoman utama dalam etika berpraktik.

Standar Etika 1.4

Warisan alam, Budaya dan Lingkungan

Arsitek sebagai budayawan selalu berupaya mengangkat nilai-nilai budaya melalui karya, serta wajib menghargai dan membantu pelestarian, juga berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidupnya yang tidak semata–mata menggunakan pendekatan teknis-ekonomis tetapi juga menyertakan asas pembangunan berkelanjutan.

Kaidah Tata Laku 1.401

Arsitek berkewajiban berperan aktif dalam pelestarian bangunan/arsitektur dan atau kawasan bersejarah yang bernilai tinggi.

Kaidah Tata Laku 1.402

Arsitek berkewajiban meneliti secara cermat sebelum melakukan rencana peremajaan, pembongkaran bangunan/kawasan yang dinilai memiliki potensi untuk dilestarikan sesuai dengan peraturan yang berlaku, baik sebagian maupun seluruhnya.

Kaidah Tata Laku 1.403

Arsitek berkewajiban memberitahukan dan memberikan saran–saran kepada Pengurus IAI Daerah/Cabang untuk diteruskan kepada yang berwenang, apabila mengetahui ada rencana perombakan, peremajaan, pembongkaran bangunan dan atau kawasan yang perlu dilestarikan di daerahnya.

Seperti pada awal tulisan ini mengenai pengertian konservasi, peran arsitek menjadi lebih menantang karena selain etika dan tanggung jawab profesi untuk berperan dalam konservasi, tetapi juga memberikan solusi supaya yang dikonservasikan tetap hidup dan tumbuh bersama masyarakat ke masa depan.

Pada pekerjaan konservasi, secara etika arsitek cenderung akan melihatnya sebagai bangunan tua atau bangunan bersejarah yang harus dapat bertahan dan berkembang ke masa depan. Bangunan tua adalah living monument, boleh “berubah” karena perkembangan jaman, memiliki fungsi-fungsi baru dan memberi manfaat bagi masyarakat. Dengan sudut pandang seperti ini maka diperlukan wawasan keahlian untuk me-manage perubahan itu, dan bagaimana memasukkan fungsi-fungsi baru kedalam bangunan tua.

Sudah banyak pedoman untuk melakukan konservasi dengan baik yang dihasilkan oleh badan-badan heritage lokal maupun asing. Seyogyanya secara profesional seorang arsitek mampu memenuhi berbagai persyaratan yang digariskan oleh pedoman konservasi. Walaupun demikian, ada sebuah pendekatan yang dianggap baik untuk diperhatikan, baik untuk pekerjaan skala kecil maupun untuk proyek konservasi besar. Pendekatan ini pada dasarnya adalah melindungi nilai sejarah dan arsitektur bangunan, sekaligus memberikan keleluasaan yang cukup untuk fungsi-fungsi baru (adaptive re-use). Caranya adalah dengan mendaftar elemen-elemen kunci, denah dan ruang pada bangunan dan diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kategori. Kategori ini diatur berdasarkan nilai arsitektur dan kandungan sejarah, serta seberapa penting peran elemen-elemen tersebut dalam pembentukan karakter dan integritas bangunan secara menyeluruh. Perubahan atau pembongkaran yang dibolehkan akan tergantung pada kategori mana elemen tersebut berada.

Kategori    Pedoman
Kritis    Wajib dipertahankan atau dikembalikan seperti semula
Penting    Boleh dimodifikasi tetapi harus mempertahankan kualitas kunci
Biasa    Diberikan fleksibilitas yang cukup

Tentu bukan hal yang sederhana untuk menyiapkan kategori tersebut dan mendata setiap elemen, denah dan ruang pada sebuah pekerjaan konservasi. Assessment dan dokumentasi yang baik akan banyak membantu, dan kalau hal tersebut dilakukan secara sistematis dan teratur maka kita akan mempunyai pedoman yang dapat membantu banyak pada pekerjaan konservasi. Pada akhirnya memang akan dibutuhkan kombinasi yang seimbang dari keduanya, etika dan kemampuan teknis.



2 Responses to “konservasi dan etika profesi arsitek”

  1. Benar pak, memang arsitek dalam berprofesi perlu etika arsitek dan sangat penting memerhatikan dampak lingkungan. Jangan arsitek hanya sekedar mendengarkan dan menuruti semua kemauan owner tanpa arsitek memikirkan hal yang lebih penting lagi, yakn dampak lingkungannya.

    Thanks,

  2. 2 e

    terima kasih pak juwono ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: