urun rembug untuk iai

01Jan12

Rekan-rekan arsitek dan sejawat yang saya hormati,

Diskusi dan argumentasi tentang hak anggota seperti yang (sangat) ramai dituliskan dalam milis ini sepatutnya juga terjadi pada kerja Pokja AD/ART ya? Ada pendalaman. Mungkin ada baiknya mempelajari kembali visi para pendiri IAI 52 tahun yang lalu.

Saya ingin ikut urun rembug pendapat pribadi tentang hal ini. Menurut saya perlu juga kita ingat apa yang pernah diikrarkan pada pembentukan IAi dulu: “.. (saya kutip sebagian) pendaftaran semua arsitek murni di Indonesia adalah suatu sjarat mutlak jang diperlukan untuk memberikan djaminan kepada gelar arsitek murni ..” Ini jelas bahwa IAI memang persekutuan perorangan berdasarkan keahlian/profesi spesifik pada bidang arsitektur. Tidak salah kalau kemudian IAI berkembang maju dan dikenal sebagai asosiasi profesi. Pada pergaulan internasional bergabungnya juga ke asosiasi profesi UIA dan ARCASIA, tidak ke Kamar Dagang atau asosiasi tenaga kerja. Ini hal yang (sangat) penting dan menunjukkan tujuan serta cita-cita pendirian IAI.

Kata guru-guru saya, kata “profesi” tidak bisa dilepaskan dari ruh orang-peorangan. “Profesi” hanya dikaitkan dengan keahlian orang-perorangan, tidak kepada perusahaan, kantor, biro, firma atau perwakilan lainnya. Banyak sekali tulisan dan buku tentang hal ini. Salah satunya dari Barry Wasserman CS, tim yang dibiayai AIA menulis buku tentang Ethics and The Practice of Architecture. Guru-guru dan praktisi “lokal” juga banyak bisa kita temui melalui tulisan/buku, antara lain Suhartono Soesilo, Yuswadi, Sandi Siregar, Han Awal, Suwondo, Markus Aditjipto, Eko Budihardjo, Adhi Moersid .. Kalau kita sempat membaca beberapa saja diantaranya, tentu dapat memahami maksud saya diatas. UIA sebagai “induk” organisasi IAI juga menegaskan hal ini, bahwa praktik profesi sebagai arsitek menunjuk kepada orang-perorangan. Demikian pula ARCASIA dan skema ASEAN MRA.

Mudah-mudahan urun rembug ini bermanfaat untuk melihat bahwa IAI adalah asosiasi profesi .. asosiasi orang-perorangan. Dalam bahasa organisasi, asosiasi para anggotanya.

Secara jelas dituliskan pula di dalam peraturan paling mendasar yaitu Anggaran Dasar IAI, Pasal 11: Dasar keanggotaan IAI bersifat perorangan, aktif, dan khusus .., serta Pasal 14 (1): Setiap anggota berhak atas pelayanan, pembinaan, pembelaan, dan turut serta dalam setiap kegiatan IAI, dan Pasal 14 (2): Setiap anggota mempunyai hak bicara, hak suara, hak memilih, dan hak dipilih sebagai pengurus dalam musyawarah, di lingkup nasional/daeerah/cabang .

Dengan demikian, menurut saya, sangat kuat dan beralasan bagi setiap anggota IAI menggunakan hak-(suara)nya secara penuh. Tidak dapat dilihat dan dilakukan sebagian-sebagian, dan tidak dapat digantikan kecuali atas permintaan masing-masing anggota sendiri.

Lantas, mengapa ada pendapat yang ingin merubah sendi-sendi IAI dengan mengusulkan perwakilan suara anggota (“1 Daerah = 1 Suara”)? Saya tidak berpikir apa yang saya kemukakan diatas adalah yang paling benar, tetapi tolong secara terbuka berikan keyakinan pada kita semua, bahwa perwakilan suara anggota akan lebih baik bagi IAI dan seluruh anggotanya. Mari kita diskusikan bersama ..

Perkenankan saya menduga, apa yang sebenarnya diinginkan (baca: manfaat bagi IAI) dengan perubahan hak ini? Kesulitan melakukan pemilihan karena anggota tersebar luas seantero nusantara? Saya pikir untuk hal ini kita bisa memanfaatkan teknologi. Kehandalan dan kerahasiaan penggunaan hak melalui teknologi saat ini sudah dapat dipercaya. Teknik pemilihan dapat kita lakukan sesuai kebutuhan daerah kita masing-masing. Fully electronic atau gabungan dengan cara kertas suara. DIlakukan terpusat atau per daerah. Dilakukan sendiri atau dengan “saksi independen”. Pemilu paling besar, pemilihan Presiden RI, juga dilakukan orang perorangan. UIA juga melakukan pemilihan dengan cara wireless. Proposal dengan cara (memanfaatkan teknologi) ini sudah ada di IAI, tinggal kita uji-cobakan saja. Justru yang paling penting adalah bahwa (seluruh pengurus) IAI mempunyai data-base yang handal dan updated. Bukan ingin berlebih-lebihan, tetapi baru sekarang, setelah 52 tahun, IAI mempunyai daftar dan data seluruh anggota (13.875 orang, per 18 Nov 2011) terhimpun dalam sebuah data-base (yang masih) sederhana. Ayo kita sempurnakan bersama.

Dugaan lain, dengan anggapan sebagian besar anggota menggunakan hak pilihnya, apakah calon dari luar Jakarta bisa memenangkan pemilihan? Ini dugaan saya yang kampungan. Pertama, ini bukan soal menang-kalah! Kedua, tentu saja bisa. Kita pernah punya ketua dari luar Jakarta. Anggota IAI Jakarta 5.570 orang, 8.305 tersebar di luar Jakarta. Secara angka, luar Jakarta punya kesempatan yang setara, kalau tidak lebih besar. Yang perlu dilakukan adalah mempunyai kegiatan dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap calon Ketua Umum memperkenalkan diri dan programnya ke semua daerah dan cabang. Saya percaya banyak calon yang baik dan pantas akan datang dari luar Jakarta, seperti halnya tidak semua calon dari Jakarta mampu menjadi Ketua Umum IAI. Lagi pula, tanpa mengambil hak anggota, kita bisa membuat aturan bahwa wakil-wakil daerah (termasuk daerah Jakarta) akan menjadi bagian dari pengurus inti IAI. Hal ini mungkin juga menolong memberikan kepercayaan lebih banyak bahwa Pengurus Nasional tidak “melupakan” Pengurus Daerah. Heh? Padahal sama-sama pengurus, yang tidak boleh dilupakan adalah anggota IAI bukan?

Dugaan lain lagi, semangat berfederasi. Tetapi apa yang dimaksud dengan federasi? setiap daerah/cabang mengatur sendiri kepengurusannya? Bukankah sejak lama hal ini sudah berjalan? Walaupun demikian, menurut saya, ada hal-hal yang mau-tidak-mau memang harus kita miliki secara utuh bersama. Terpusat. Normatif. Etika profesi misalnya. Atau prosedur dan bakuan kompetensi arsitek. Arsitek Indonesia di setiap pojok nusantara harus sama dan setara. Yang datang dari Meulaboh, misalnya, tentu (harus) sederajat dengan sejawatnya dari Malang.

Dugaan-dugaan saya diatas belum tentu benar. Tetapi kalau tidak ada penjelasan dan argumentasi, yang muncul adalah kesangsian seperti ini. Tidak sehat. Tidak ada manfaatnya bagi IAI.

Mari kita akhiri perdebatan tentang hal “kecil” ini. Kita punya kerjaan jauh lebih besar. Salah satunya, setelah 52 tahun, apa visi dan misi IAi untuk 50 tahun ke depan? Bagaimana tanggung jawab (baca: keberpihakan) IAI dan arsitek kepada masyarakat luas? Kalau UU-Arsitek terbit, praktik profesi kita akan terpengaruh banyak. Apa yang harus kita siapkan? Asia (dan, sepatutnya, Indonesia) sejak beberapa tahun belakangan memberi pengaruh besar pada dunia, bagaimana kita bersikap dan memanfaatkannya? Pada saat audiensi dengan Presiden kemarin, saya sampaikan bahwa IAi perlu berjuang merubah persepsi luas yang melihat profesi arsitek hanyak sekitar bisnis, proyek dan teknik membangun. Beliau dengan jeli melihat bahwa profesi arsitek itu adalah profesi yang penuh dengan etika dan estetika. Wah, bagaimana kita bisa berkaca dan bekerja dengan dua “tika” itu?

Duh, mungkin sudah terlalu panjang. Mohon maaf bila tidak berkenan.

Mari kita awali 2012 dengan teduh, nyaman dan dalam semangat kesejawatan.

Salam hormat,

e.



No Responses Yet to “urun rembug untuk iai”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: