etika dan konsumerisme

30May12

Pada praktik arsitektur sehari-hari kita menemui kenyataan banyak hal yang terjadi bertentangan dengan kepatutan. Dalam satu tugas kecil mata kuliah etika profesi di sebuah universitas swasta besar di Jakarta, dengan cepat para mahasiswa dapat menemukan banyak kasus praktik yang tidak etis. Wilayah kasusnya sangat luas; sejak proses perancangan, pengurusan perijinan, sampai pelaksanaan pengawasan di lapangan. Dalam beberapa hal, mungkin sistem pengadaan jasa konstruksi perlu dikaji ulang dan disempurnakan. Pada beberapa aspek lain, tidak bisa disangkal bahwa subyektifitas pelaku, dalam hal ini termasuk para arsitek, sangat berpengaruh pada perjalanan praktik itu sendiri. Artikel berikut ini menerawang aspek etika secara umum, tetapi menurut hemat saya layak untuk dijadikan bacaan bagi para arsitek. Mengusik keprihatinan terhadap pelanggaran-pelanggaran etika, yang pada akhirnya mempertanyakan integritas manusia pada umumnya dan, tentu saja, juga, integritas arsitek. Artikel pendek ini tidak menawarkan solusi, melainkan mengembalikan pada kita dan mengajak untuk menyediakan waktu berdialog dengan diri sendiri.

Terima kasih kepada mbak Maria Hartiningsih, wartawati senior Kompas, yang sudah mengijinkan saya meletakkan artikelnya disini.

_______________________________________

Prinsip-prinsip Etik Tak Bisa Dikompromikan

Bagaimana hubungan antara dunia konsumsi dengan materi, pujian dan persetujuan, reputasi dan kenikmatan pada obyek (inderawi)? Apakah dunia konsumsi yang membuat manusia tak kenal kata ‘cukup’?

Oleh: Maria Hartiningsih (Sosok, Kompas, 16 Mei 2012)

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bahan perbincangan dengan Bhiksuni Thubten Chodron (61), suatu pagi, di Jakarta. Langit Jakarta dikepung mendung tebal, ditingkahi kilatan petir dan guntur menggelegar.

“Konsumerisme selalu terkait empat hal, yakni, kekayaan materi, pujian dan persetujuan, reputasi dan kenikmatan hidup,” ujar Bhiksuni dengan lembut. Empat hal itu berpasangan dengan empat hal lainnya, disebut sebagai ‘delapan kecemasan duniawi’ (eight worldly concerns). Pertama, kemelekatan pada uang dan materi dalam arti luas, dan galau kalau tidak memilikinya. Kedua, kemelekatan pada pujian dan persetujuan, dan terganggu kalau dikritik atau ada orang tak sependapat.

Ketiga, kemelekatan pada reputasi dan citra baik, dan sangat terusik kalau reputasi dan citra itu runtuh.  Keempat, kemelekatan pada kenikmatan inderawi, dan terganggu kalau menemui hal-hal tak menyenangkan.

Persoalan universal

Konsumerisme menjadi keprihatinan bhiksuni pendiri Biara Sravasti, wihara Buddha di dekat Newport, Washington State, AS, karena, “Dunia modern sangat terikat pada upaya menghasilkan uang. Hampir semua orang memuja uang dan materi.”

Bahkan banyak orang pergi ke rumah ibadat supaya dimurahkan rejekinya, dan mendapat yang terbaik dalam hidup. Padahal tujuan hakiki semua agama adalah mengajarkan kebaikan dan welas asih, nilai-nilai etik, memaafkan, dan hal baik lainnya.

“Saya kira saat ini semua agama menghadapi tantangan sama terkait masyarakat konsumsi dan pemuja materi,” ujarnya. Menurut Bhiksuni, dalam hidup, sensasi inderawi berpengaruh sangat kuat dan sangat reaktif terhadap obyek di luar diri yang ditangkap lima indera manusia. Oleh sebab itu, banyak orang, tak tergantung agama, bangsa dan kebudayaannya, mengejar yang serba indah dan mempertaruhkan segalanya demi materi.

“Kemelekatan itu memotivasi setiap reaksi,” ujarnya, “Ketika kekayaan hilang, ketika dikritik orang, ketika reputasi runtuh, dan ketika perasaan terganggu, kita akan sangat tersinggung dan marah. Itulah penyebab ketegangan, perang dan kekerasan yang merupakan persoalan universal saat ini.”

Ironisnya, orang modern berpikir, konsumerisme akan membawa kebahagiaan, pun dari perspektif ekonomi. Tingginya tingkat konsumsi diyakini akan memajukan ekonomi dalam negeri. Padahal sumberdaya alam terbatas, tidak terbarukan, dan belum berbuat banyak untuk melakukan daur ulang.

“Di Amerika sedang banyak diskusi tentang kemungkinan membangun pipa minyak dari Kanada ke Texas untuk diolah. Itu akan sangat merusak lingkungan, tetapi tampaknya yang dipikir hanya kenyamanan hidup saat ini. Mereka mengabaikan nasib generasi mendatang.”

Keserakahan yang membuat manusia tak kenal kata ‘cukup’, telah menjadi status mental di mana pun. Itulah yang memicu invasi militer, konflik dan perang, yang menuju pada kehancuran lingkungan dan kehidupan.

“Prinsip-prinsip etik dan agama  tak mungkin dikompromikan dengan dunia konsumsi, ” tegasnya, “Semua agama berbicara tentang kebaikan, tentang welas asih dan cinta. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan, berarti berlaku baik dan welas asih dalam praktik hidup sehari-hari….”

Dialog dengan diri

Konsumerisme seringkali terkait jalan pintas. “Itulah korupsi, itulah keserakahan,” sergah Bhiksuni, “Kita harus kembali kepada prinsip-prinsip etik dan menyadari bahwa keserakahan tak akan membuat orang menemukan makna hidup.”

Saat ini bahkan semakin banyak orang tak merasa bersalah telah menerjang prinsip-prinsip etik, karena, “Kepala sibuk dengan citra publik, dengan konsumerisme, tak punya waktu untuk berdialog dengan diri sendiri.”

Dialog diri hanya bisa dilakukan dengan sejenak meninggalkan kesibukan, diam, mempertanyakan; apakah saya sungguh menyukai diri saya, apakah saya merasa nyaman dengan kehidupan seperti ini, apakah saya merasa nyaman dengan cara saya memperlakukan orang, dan lain-lain. Kalau tidak, bagaimana saya mulai berubah. Itulah nilai dari meditasi.

Menurut Bhiksuni, satu hal penting dalam hidup adalah, merasa nyaman dengan diri sendiri, selalu berhubungan dan menghidupi kebersamaan dengan diri sendiri sepanjang hidup. Ia menekankan, tindak korupsi berarti mengorup diri sendiri. “Pada hari terakhir, kita harus berdamai dengan diri sendiri. Pada saat itu, materi, kekayaan, pujian, reputasi, kesenangan ragawi, semua ditinggalkan. Di ranjang kematian, orang hanya bisa menyesali perbuatannya, bukan menyesal karena tak punya berlian baru… ”

Mencari jawab

Bhiksuni Thubten Chodron dilahirkan dari keluarga Yahudi, dan tumbuh di lingkungan Kristiani di dekat Los Angeles, California, AS. Ia mendengarkan ceramah tentang ajaran Buddha pertama kali pada usia 24 tahun. Ia langsung tertarik, karena, “Guru mengatakan, Anda tak harus percaya pada yang saya katakan. Anda bisa mempertanyakan apa pun. Ini fantastik…”

Sarjana sejarah dari University of California di Los Angeles tahun 1971 yang sedang berusaha menemukan makna hidup itu lalu berpikir, bertanya dan mendengarkan suara hatinya. Ia merasa bahwa makna hidup selalu berkaitan dengan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain dan ikut menyumbang sesuatu agar dunia menjadi lebih baik.

“Dalam perspektif logic, ajaran itu masuk akal. Saya melihat banyak kebenaran di situ. Saya mulai belajar, mempraktikkan, dan merasakan banyak manfaatnya. Saya merasa, inilah jalan hidup saya. Saya harus membuat komitmen,” kenangnya.

Keinginan itu sempat ditentang orangtuanya, yang berharap sulung dari tiga bersaudara itu punya kehidupan yang baik menurut ukuran umum; punya karier, materi, reputasi, pujian dan lain-lain. “Tetapi setelah melihat saya bahagia, mereka melunak.”

Bhiksuni Chodron adalah murid langsung para guru terkemuka ajaran Buddha- tradisi Tibet, termasuk Dalai Lama. Ia belajar di wihara di Nepal pada tahun 1977, menjadi sramanerika (calon bhiksuni) dan menjadi bikhsuni penuh tahun 1986.

Lalu, apa arti nama Anda, Bhiksuni? “Thubten berarti doktrin Buddha, Chodron berarti lampu penerang Dharma…”

Biodata

Bhiksuni Thubten Chodron pernah menjadi direktur program spiritual di Lama Tzong Khapa Institute di Italia; guru tetap pada Amithaba Buddhis Center di Singapura dan Dharma Friendship Foundation di Seattle. Ia  membangun dialog berkesinambungan dengan masyarakat Yahudi-Buddhis dan biarawati Katolik. Di Jakarta ia merayakan Hari Trisuci Waisak di Ekayana Buddhis Centre dalam rangkaian kunjungan pertamanya ke Indonesia tanggal 5 Mei – 14 Mei 2012. Beberapa buku yang ditulis, di antaranya Open Heart, Clear Mind; Taming the Monkey Mind; Working with Anger.

.



No Responses Yet to “etika dan konsumerisme”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: