mendengar dengan mata

19Oct12

Ulasan singkat buku Mata Yang Mendengar.

Kalau ada dua orang tunarungu ‘ngobrol’ maka arsitektur menjadi orang ke tiga.

Maksudnya adalah, andaikata ada dua tunarungu saling berbicara, tentunya dengan bahasa isyarat, maka konsentrasi mereka adalah pada pembacaan isyarat-isyarat, dan dengan demikian mungkin lalai terhadap kondisi disekitarnya. Disini arsitektur kemudian berperan membantu dengan desain ruang dan penanda yang menjaga. Contohnya ngobrol di pedestrian. Keluasan pandangan dan desain penempatan tanda-tanda tertentu di persimpangan jalan akan membantu mereka dari bahaya tersambar kendaraan bermotor. Sebuah contoh lain yang dituliskan pada buku ini adalah takete dan maluma. Takete merupakan susunan kursi menghadap satu arah seperti di dalam kelas sekolah, sedangkan maluma ialah susunan kursi yang dibuat melingkar dengan satu pusat di tengah. Bagi penyandang tunarungu, maluma adalah susunan yang dikehendaki karena punya pandangan visual jauh lebih merata, dan lebih memungkinkan membaca bahasa isyarat dari yang lain, dibandingkan dengan takete.

Mata Yang Mendengar pada bentuk aslinya adalah sebuah karya tugas akhir Meutia Rin Diani, mahasiswi arsitektur Universitas Indonesia, yang kemudian mendapat pujian dan banyak dukungan untuk diterbitkan. Ia sendiri seorang tunarungu yang tidak menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Materi tugas akhir tersebut kemudian disusun ulang dan disiapkan untuk menjadi sebuah buku. Oleh karena itu dapat dipahami kalau struktur dan substansi buku ini cenderung lebih berat ke pembahasan akademis ketimbang pembahasan yang lebih ringan dan populer. Walaupun demikian buku ini tetap mudah diikuti dan enak dibaca. Ia patut mendapat perhatian karena mengingatkan kita bahwa ‘dunia sepi’ itu, walaupun mengisyaratkan kebutuhan desain agak khusus, tetapi sekaligus juga bermanfaat untuk orang-orang ‘normal’. Ada contoh keseharian yang selama ini mungkin terabaikan oleh kita ternyata merupakan hal penting bagi para tunarungu. Masalah akses visual dan privasi ruang bukan hanya dibutuhkan oleh para penyandang tunarungu bukan? Meutia menuliskan bahwa ia, dan para tunarungu lainnya, memerlukan ruang-ruang yang mempunyai sudut pandang luas untuk dilihat. Ada kenyamanan tinggi yang didapat dengan ‘menguasai’ ruang. Dinding tembus pandang dan sudut bangunan yang melengkung tidak tajam dapat menambah luas pandangan dan dengan demikian menambah tinggi faktor keselamatan dan kenyamanan. Karena tidak dapat mendengar maka akses visual menjadi pemandu utama. Di sisi lain, sebagaimana orang lain yang mempunyai pendengaran yang sempurna, ada kebutuhan untuk menjaga privasi. Maka menjadi menarik manakala kita harus menemukan keseimbangan keduanya, yaitu mempunyai akses visual yang tinggi tetapi tetap diharapkan terjaga privasinya. Dari uraian pada contoh kasusnya dapat dibaca kemudian bahwa keseimbangan ini bersifat individual, tidak sama untuk setiap penyandang tunarungu. Seorang kepala rumah tangga membutuhkan akses visual seluas-luasnya terhadap ruang di dalam rumah, sementara seorang anak tunarungu mungkin cukup terbatas dalam ruang kamar tidurnya saja.

Tentu saja, menurut buku ini, menjadi ideal apabila akses visual dikombinasikan dengan desain untuk panca indera yang lain. Getaran, misalnya. Penggunaan lantai papan kayu bisa menimbulkan getaran tertentu yang dapat dirasakan, dan getaran ini membantu para tunarungu mengetahui apabila ada orang lain berjalan di balik dinding. Penggunaan alat bantu dengar tidak selalu membantu karena, antara lain, sulit menyaring suara-suara yang masuk, terutama di ruang publik, yang akhirnya malah mengganggu kenyamanan dan menimbulkan kebingungan.

Buku ini ditulis dalam 167 halaman yang dipisahkan dalam 6 bagian. 3 bagian pertama berisikan pendekatan teori dan peraturan berkaitan dengan ketuna-runguan. Keutamaan pada akses visual disebutkan sebagai visu-centric, yaitu menggunakan mata sebagai alat utama untuk orientasi ruang. Secara khusus pada halaman 54 disebutkan hal ini sebagai kebebasan dan kejelasan untuk melihat, yang menjadi amat penting, selain untuk komunikasi, untuk proteksi diri dan navigasi (way finding).

2 bagian berikutnya mengupas studi kasus dan diskusinya. Bagian ini sangat menarik karena Meutia menuliskan peneltian atas dirinya sendiri dan sebuah keluarga tunarungu lain. Secara detail dapat diikuti berbagai kendala yang dihadapi oleh penyandang tunarungu, dan bagaimana dengan bersemangat dan kegembiraan  mereka mengatasi kendala tersebut. Pada bagian terakhir buku diungkapkan kenyataan kurangnya perhatian pada para penyandang tunarungu di Indonesia. Peraturan bangunan yang ada, yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 30/2006, dianggap belum memadai karena hanya mengatur soal signage dan alarm kebakaran. Ada ajakan untuk mengkaji kembali pentingnya kebutuhan ruang bagi tunarungu dan direalisasikan melalui universal design dan dukungan peraturan bangunan yang lebih komprehensif.

Satu aspek lain yang dirasakan belum dibahas lebih dalam adalah keberadaan ruang-ruang luar atau ruang-ruang publik untuk para tunarungu. Sebagai contoh, pedestrian untuk tunarungu mungkin diperlukan lebih lebar daripada biasanya, supaya mereka mempunyai jarak yang cukup untuk membaca bahasa isyarat dengan jelas. Contoh lain adalah mall yang kerap kali dirancang sedemikian rupa sehingga pengunjung berputar-putar lebih lama di hamparan pertokoan, dibandingkan dengan terminal bandar udara yang lebih jelas signage dan orientasi sirkulasinya.

Pada akhirnya penulis buku berharap karyanya dapat menjadi pemicu bagi arsitek untuk lebih lengkap memenuhi persyaratan ruang dan visual bagi tunarungu. Sebagai penutup dapat diinformasikan bahwa Meutia Rin Diani sudah lulus dan saat ini menjadi praktisi arsitek di Jakarta. Akan menarik untuk mengetahui bagaimana ia membangun komunikasi dan memelihara network dengan para pengguna jasanya.

.



5 Responses to “mendengar dengan mata”

  1. wah artikelnya bisa aja. lumayan menggelitik.

    • 2 e

      terima kasih. mudah-mudahan masih tergelitik untuk lebih memperhatikan aspek ini dalam kehidupan sehari-hari ..

  2. Universal design untuk tunarungu dan lainnya… wow.. menarik sekali ulasannya. Dengan bahasa yang ringan dan ngajak ngobrol banget dari artikel ini, saya sangat tergugah untuk membaca sampai selesai… sesaat tadi saya sempat takjub atas ide dan gagasan yang sudah dialami penulis dari arsitektur Universitas Indonesia tersebut. Arsitektur untuk kaum disable berkursi roda saya masih familiar bahananya, tapi dengan tunarungu saya masih terkagum kagum membayangkan upaya dan solusinya.
    salam karya dan arsitektur.
    Widya @wiedesignarch

    • 4 e

      terima kasih sudah mampir .. mudah-mudahan sempat terinspirasi untuk lebih memperhatikan aspek ini dalam karya-karya anda ya ..😉

      • terimakasih banyak dan saya akan sangat menunggu postingan menarik lainnya dari di blog arsitektur Anda ini.
        Selamat berkarya dan sukses selalu ^_^d


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: