ep01 – proyek akhir tahun

03Jan15

bulan-bulan menjelang akhir tahun, sejak sekitar oktober, banyak arsitek, konsultan dan kontraktor sibuk luar biasa. kejadian seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun, sesuai peraturan di indonesia dimana proyek wajib selesai pada bulan desember, kecuali mempunyai kekhususan tersendiri.

ini kan bukan sesuatu yang luar biasa .. seandainya semua memang direncanakan dengan baik. masalahnya, tidak semua proyek seperti itu. ada yang baru mulai bisa dikerjakan sejak bulan agustus. keterlambatan seperti ini kelihatannya menjadi hal yang menakutkan bagi pemberi tugas cq. pemegang mata anggaran atau pejabat pembuat komitmen. proyek yang telat dan tidak bisa menyerap anggaran seperti yanag direncanakan, akan mendapat angka merah dan (mungkin) mempengaruhi karir sang pejabat. pada sisi perencanaan dan perancangan, konsultan sibuk menyiapkan laporan-laporan beruntun mulai laporan pendahuluan, laporan antara, laporan draf akhir (saya tidak tahu bagaimana judul ini diperoleh, mengapa tidak draf laporan akhir?) dan laporan akhir. belum lagi diminta untuk melaksanakan survey lapangan, focus group discussion, kolokium, seminar, mungkin juga sayembara .. yang biasanya dikaitkan dengan tagihan termijn pekerjaan. materi laporan? bisa diperbaiki kemudian, tetapi secara administrasi harus masuk sesuai jadwal proyek.

demikian pula halnya di sisi pelaksanaan. kontraktor pontang-panting mengejar persentasi prestasi pekerjaan supaya dapat mengajukan tagihan proyek sesuai prestasi. kalau tidak maka, jelas, proyek akan tertunda, dan penyerapan anggaran tidak sesuai harapan. masalah besarnya adalah pekerjaan di lapangan berbentuk fisik. tangible. jadi masyarakat luas bisa langsung melihat, dan menilai, apa yang dikerjakan dan bagaimana ‘kualitas’ pekerjaannya. adalah hal yang meyedihkan bila, dan ini contoh nyata bertahun-tahun, kita melihat jalur pedestrian (trotoar) dan kanstin-nya yang baik-baik saja tiba-tiba dibongkar dan diganti dengan material baru. tidak bisa tidak, opini pertama yang muncul adalah itu proyek sekedar untuk menyerap anggaran, dan mengapa tidak dilakukan pada area yang benar-benar membutuhkan? (duh! apakah proyek tidak direncanakan berdasarkan data lapangan?)

kita bisa melihat dari banyak sisi pandang. saya ingin melihat dari sisi etika profesi, khususnya etika profesi arsitek pada issue tentang perencanaan dan perancangan proyek seperti tersebut di atas.

apakah ada potensi pelanggaran kode etik arsitek?

pertama, jadwal pekerjaan terlalu singkat. benar kah? dan apakah beban perancangan bisa diselesaikan lebih cepat dari kelaziman? apakah penambahan tenaga ahli bisa membantu percepatan kerja? menurut saya proses produksi bisa dipercepat, tetapi proses kreatif mungkin tidak. kematangan sebuah solusi perancangan mungkin belum tercapai walaupun bisa dihentikan dan dianggap cukup memenuhi standar keamanan dan keselamatan. btw, standar ini sudah membawa implikasi etika. jadi, jangan pula men-down grade standar ini kalau tidak ingin dinyatakan ethical violation.

hal kedua, dengan melakukan standar ganda (bekerja untuk megejar termijn, dan bekerja juga untuk memenuhi standar perancangan yang baik dan lazim) sudah memberi tanda adanya pelanggaran etika profesi. konsultan, arsitek, seperti bekerja dalam sebuah sistem yang korup dan taken for granted. tidak berdaya untuk merubah sistem tersebut, tetapi tetap mengerjakannya karena proyek tidak boleh ditolak serta banyak staf yang perlu di gaji dengan baik. seandainya bernyali untuk menolak mengerjakan proyek seperti ini, ada banyak konsultan, arsitek, lain yang akan mengerjakan dengan kualitas yang diragukan. hehe .. ini sudah conflict of interest, dan pertentangan interes merupakan hal yang sanat diatur pada kode etik arsitek.

yang ketiga adalah, bagaimana kemudian konsultan, arsitek, mempertanggungjawabkan hasil kerjanya? ini sungguh serius sebuah pertanyaan etika. mungkin tidak berupa satu jawaban tunggal, tetapi sebuah diskusi panjang, yang saya pikir amat penting, untuk menggugah kembali kesadaran akan pentingnya mempunyai dan memegang kode etik profesi.

etika memang bukan topik yang seksi dan sering dibicarakan. tetapi ia merupakan tulang punggung profesi. seandainya semua anggota masyarakat profesi, seperti misalnya semua arsitek di indonesia, berniat (karena etika berawal dari hati nurani) dan memegang teguh kode etik, maka mungkin kita semua lebih nyaman berpraktik dan menikmati apresiasi yang jauh lebih baik.

salam dan selamat tahun baru 2015.



No Responses Yet to “ep01 – proyek akhir tahun”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: