green building

Pada dekade terakhir ini, kesadaran global tentang lingkungan hidup, khususnya dalam bidang arsitektur, meningkat dengan tajam. Gerakan hijau berkembang pesat tidak hanya sekedar melindungi sumber daya alam, tetapi juga pada implementasinya dalam rangka efisiensi penggunaan energi dan meminimalisir kerusakan lingkungan. Perancangan arsitektur sedikit banyak telah berubah, merefleksikan sikap masyarakat yang makin peduli terhadap lingkungan hidup. Demikian pula ketersediaan produk ramah lingkungan yang makin mudah diperoleh di pasar.

Secara umum dapat disampaikan bahwa menuju bangunan yang ramah lingkungan adalah mengukur dampak pada lingkungan luar (bangunan) dan membantu memperbaiki lingkungan dalam (bangunan). Biasanya beberapa aspek yang diperiksa adalah antara lain: rancangan arsitektur bangunan, metodologi membangun, material bangunan, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air dan life cycle ecological living.

Apa yang membuat bangunan yang bagus dapat dikatakan ramah lingkungan?
Apa yang membuat bangunan yang ramah lingkungan dapat dikatakan bagus?

Rasanya tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan tersebut. Definisi tentang bangunan ramah lingkungan tidak dapat dijawab hanya dengan satu definisi. Sebuah bangunan di gunung tentu mempunyai efisiensi yang berbeda dengan perhitungan terhadap bangunan di pesisir pantai. Tinggal di lantai atas sebuah apartment tower berbeda dengan tinggal di sebuah landed house. Masing-masing bangunan dapat mempunyai jawaban sendiri karena merupakan rancangan yang dibangun terhadap kondisi yang berbeda-beda. Walaupun demikian, ada sebuah pendekatan umum untuk merancang bangunan yang ramah lingkungan, yaitu sebagai berikut:

Langkah pertama adalah mengenali lokasi anda tinggal. To Know Where You Are.
Langkah ini mempertanyakan bagaimana kualitas lingkungan hidup di sekitar dan bagaimana kemungkinan tingkat kualitas hidup yang akan dapat dicapai. Kesadaran tentang kondisi lokasi akan sangat penting dalam usaha memperoleh bangunan yang ramah lingkungan, baik dalam rangka renovasi bangunan, membeli rumah baru ataupun membangun rumah dari awal.

Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan ukuran bangunan. Size Does Matter.
Berlawanan dengan pandangan umum bahwa makin besar ruangan maka makin baik bagi penggunanya, terutama pada bangunan rumah tinggal, pada pendekatan bangunan ramah lingkungan tidak selalu demikian. Lebih besar tidak lebih baik, karena makin kecil (baca: sederhana) bangunan maka akan makin lebih baik kontrol aspek lingkungan terhadap bangunan tersebut.

Langkah ketiga adalah, menyadari bahwa kita harus menetapkan sendiri bahwa kita memang ingin membangun bangunan yang ramah lingkungan. Kesadaran ini menjadi faktor penting karena akan membantu kita fokus pada usaha perancangan yang realistis: penghematan energi dan perlindungan terhadap berbagai sumber alam yang akan dipakai.

Langkah keempat lebih banyak bersifat teknis, yaitu mempelajari alternatif metode membangun (alternatives to conventional construction methods) dan menggunakan material yang tepat guna (encourage wise uses of materials).


33 Responses to “green building”

  1. 1 e

    Bagi arsitek, merancang bangunan ramah lingkungan sesungguhnya adalah sebuah proses. Tujuannya bukan membuat bangunan yang sempurna, melainkan menciptakan bangunan yang lebih baik. Pendekatan umum yang digambarkan melalui beberapa langkah tersebut diatas, oleh Prof. Jong-jin Kim cs dari College of Architecture and Urban Planning University of Michigan, dikemas menjadi prinsip-prinsip perancangan bersinambungan (sustainable design) dalam konteks rancangan arsitektur yang ramah lingkungan. Prinsip-prinsip ini meliputi:

    – Penghematan sumber daya alam (economy of resources), yang memperhatikan aspek pengurangan, pemakaian kembali dan pemakaian ulang berbagai bahan alam yang digunakan pada bangunan. Beberapa masalah utama yang diperhatikan disini meliputi antara lain masalah penghematan penggunaan energi, konservasi air dan penggunaan material bangunan. Dengan melakukan penghematan ini arsitek akan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarukan (non renewable resources) baik pada masa pembangunan maupun selama bangunan beroperasi.

    – Daur hidup (life cycle design), yaitu metodologi untuk menganalisa proses membangun dan dampaknya terhadap lingkungan. Proses membangun yang dimaksud meliputi seluruh tahapan sejak tahap sebelum membangun (pre-building phase), selama membangun (building phase) sampai bangunan difungsikan (post building phase). Model konvensional dari sebuah daur hidup bangunan adalah design – construction – operation – demolition. Pada prinsip ini dimasukkan pendekatan yang mengenali adanya konsekuensi/dampak terhadap lingkungan pada setiap proses dalam model daur hidup itu. Pendekatan ini pada dasarnya adalah untuk mengurangi dampak negatif dan menambah umur hidup material bangunan. Sebuah material bangunan yang habis masa pakainya akan dapat berubah bentuk sebagai material baru, dan dengan demikian akan selalu dapat dipakai ulang.

    – Rancangan yang manusiawi (humane design), yaitu prinsip yang fokus terhadap interaksi antara manusia dengan lingkungan. Prinsip ini berkaitan dengan adaptasi rancangan terhadap kondisi alam, urban design dan perencanaan tapak, serta tingkat kenyamanan bangunan yang akan dicapai. Dua prinsip pertama berkaitan dengan hal efisiensi dan konservasi, sementara prinsip yang ketiga ini berkaitan dengan keharmonisan hidup semua konstituen ekosistem: elemen non organik, organisme hidup dan manusia. Prinsip ini tampaknya tumbuh dari filosofi pemikiran untuk menghargai keberadaan seluruh benda dan mahluk hidup di muka bumi.

    Akhirnya, untuk dapat merancang bangunan yang ramah lingkungan, arsitek harus belajar tentang masalah lingkungan hidup. Pendidikan arsitektur harus dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan memperkenalkan mahasiswa kepada etika lingkungan, serta mengembangkan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan (knowledge base in sustainable design).

    Saat ini mungkin status rancangan arsitektur ramah lingkungan masih berada dalam tataran etika daripada dalam tataran ilmu pengetahuan. Perubahan gaya hidup dan sikap terhadap lingkungan adalah penting, tetapi pengembangan keahlian berdasarkan ilmu pengetahuan tidak kalah pentingnya. Pengembangan keahlian ini pada saatnya akan menghasilkan ketrampilan, teknik dan metode dalam praktek perancangan bangunan yang ramah lingkungan.

  2. 2 adjie

    blog nya keren, banyak ilmu yang bisa sy dapatkan.
    ijin copy buat nambah2 pengetahuan pribadi…
    salam kenal
    adjie

  3. 3 e

    terima kasih adjie, sudah mampir .. silakan copy. senang sekali kalau ada yang bermanfaat.
    salam kenal, e.

  4. 4 christoporus hwj

    Good Article….
    2 Thumbs up!!!
    Kembali kepada prinsip dasar arsitektur; membuat sesuatunya menjadi lebih baik.
    Untuk yang menggunakan atau yang tidak menggunakan….

    Regards,
    Christoporus HWJ

  5. 5 e

    @christoporus: terima kasih sudah mampir .. seperti yang anda bilang, kembali kepada prinsip dasar arsitektur.
    .. therefore, let us build houses that restore to man the life-giving, life-enhancing elements of nature. this means an architecture that begins with the nature of site. which means taking the first great step toward assuring a worthy architecture, for in the rightness of a house on the land we sense a fitness call beauty. (frank lloyd wright)

  6. 6 adit

    Salam kenal..!! Adit
    kalo boleh tau, 3 prinsip sustainable design di atas menurut Prof. Jong-jin Kim cs tu dipublish lewat apa y? ada buku atao websitenya?
    minta ijin buat nyadur beberapa point buat penulisan karya tulis……..
    thank’s……
    moga content’nya makin berkembang, tmbah ilmu buat mhasiswa & arsitek2 muda….

  7. 7 e

    @adit: salam kenal kembali .. dan silakan menyadur sesuai keperluan. ttg prof jong-jin kim silakan googling saja, keywords: jong jin kim michigan .. tentu banyak publikasinya, saya sendiri tidak tahu persis karena ketemu dia melalui presentasi dan seminar .. salam, e.

  8. 8 GreenMonster

    ikut sharing ya. 2 contoh dari kota metropolitan dunia. yang pertama masih angan-angan, yang kedua sudah jadi proyek.

    [1]

    Tahun 2010, Pengelola Gedung Tinggi di Jakarta Wajib Terapkan “Green Building”
    Kamis, 10 September 2009
    Laporan wartawan KOMPAS Emilius Caesar Alexey

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan semua pengembang dan pengelola gedung tinggi untuk menerapkan prinsip bangunan hijau atau green building yang ramah lingkungan. Sebanyak 30 perusahaan properti besar di Jakarta, seperti Agung Podomoro, Ciputra, dan Sinar Mas, menyanggupi kewajiban yang akan diberlakukan  tahun 2010 itu.

    Tahun depan, seluruh gedung tinggi di Jakarta harus menerapkan konsep green building untuk mengurangi pemanasan bumi. Kewajban itu akan ditetapkan dalam bentuk peraturan gubernur, kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis (10/9) di Jakarta Pusat.

    Konsep green building adalah konsep penghematan energi listrik dan air. Penghematan dapat dilakukan dengan mengatur arsitektur bangunan maupun dengan pemasangan peralatan elektronik yang hemat listrik. Salah satunya adalah penggunaan lampu LED (Light Emitting Diode) dan pembangkit listrik tenaga surya.

    Penghematan air juga dilakukan dengan sistem penggunaan kembali, pendaur-ulangan, dan pengurangan pemakaian. Pembuatan biopori dan sumur resapan juga harus dilakukan untuk memperbesar daya serap air oleh tanah.

    Konsep ini dapat menghemat listrik 30 persen sampai 50 persen, menghemat air 50 persen sampai 90 persen, dan mengurangi emisi karbon sampai 35 persen.

    Selain menggandeng perusahaan properti, kata Fauzi, Pemprov DKI juga menggandeng lembaga keuangan untuk membiayai penerapan konsep itu. Penerapan konsep green building membutuhkan investasi yang lebih mahal daripada dengan sistem konvensional. Namun, biaya operasional setiap bulan jauh lebih rendah.

    Kepala Dinas Penertiban dan Pengawasan Bangunan (P2B) DKI Jakarta Hari Sasongko Kushadi mengatakan, pihaknya sedang menyusun konsep detail green building untuk diterapkan di Jakarta. Setelah selesai, konsep itu akan diuji coba di gedung-gedung milik pemerintah.

    Pada awal tahun 2010, konsep green building akan diterapkan di kawasan Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Pemilik gedung lama akan diminta mengubah instalasi jaringan listrik agar lebih hemat. Sistem penggunaan air juga akan dievaluasi agar lebih hemat.
    Sedangkan bagi gedung baru, konsep itu harus langsung diterapkan. Kewajiban penerapan akan menjadi bagian dalam izin mendirikan bangunan.

    Untuk pengawasan dan pemeriksaan penerapan konsep itu, Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) yang telah menyusun rating standar green building. Jika konsep ini sudah diterima secara luas,Pemprov DKI Jakarta akan memberikan insentif bagi pengelola yang menerapkannya. 

    [2]

    Empire State Building getting green facelift
    Its 6,500 windows will be replaced with insulated glass

    NEW YORK – The Empire State Building has loomed more than a quarter-mile high over the city for decades, and now it will stand for something new as it gets a green makeover intended to serve as an example to the world.

    The $20 million project is expected to save the building’s owners $4.4 million annually in energy costs, and will reduce its carbon dioxide emissions by 105,000 metric tons during the next 15 years, equal to the annual emissions of 17,500 cars.

    Former President Bill Clinton and New York Mayor Michael Bloomberg both attended the announcement Monday on the Empire State Building’s 80th floor and said they hope the environmental changes at the iconic skyscraper will serve as a model for buildings around the world.

    Clinton, whose foundation is helping with the environmental upgrades, said the only way to get property owners worldwide to make over their buildings is by setting an attention-getting example.

    “We have to prove it’s good economics, and we have to prove we know how to do it,” he said. “Every person on Earth who cares about this knows about the Empire State Building.”
    Experts say retrofitting old buildings to be more environmentally friendly is an important step in reducing levels of heat-trapping greenhouse gases. In New York City, emissions generated by the operation of the more than 900,000 buildings citywide contribute 79 percent of the city’s total.

    The upgrades planned for the Empire State Building include replacing all of the skyscraper’s 6,500 windows with a type of insulated glass that reduces summer heat load and winter heat loss.

    Extra insulation will be installed behind radiators to save heat. Other changes are planned for the building’s ventilation, chilled water and lighting systems.

    Work already has begun, with the upgrades to the building systems expected to be completed by the end of 2010 – longer than it took to build the skyscraper, which opened in 1931 after a year and 45 days of work.

    All of the building’s green projects are expected to be finished by the end of 2013.
    Bloomberg, who has set a goal to reduce the city’s carbon footprint by 30 percent by 2030, said the famous landmark shows “the rest of the city that existing buildings, no matter how tall they are, no matter how old they are, can take steps to reduce their energy consumption.”

    The Clinton Climate Initiative and Mayor Michael Bloomberg are joining forces to make the Empire State Building more efficient. The initiative is funding a $20 million reftrofit project for the building that should be completed by the end of 2010.

    The project will reportedly produce energy savings of $4.4 million per year and cut energy demand by 38 percent and should enable the building to be LEED Gold certified. Johnson Controls, the company in charge of upgrading the efficiency of the skyscraper, chose eight projects out of 60 possibilities based on which would save both energy and money. Here’s the list of changes that will be made from the company’s website:

    1/ Window Light Retrofit: Refurbishment of approximately 6,500 thermopane glass windows, using existing glass and sashes to create triple-glazed insulated panels with new components that dramatically reduce both summer heat load and winter heat loss.

    2/ Radiator Insulation Retrofit: Added insulation behind radiators to reduce heat loss and more efficiently heat the building perimeter.

    3/ Tenant Lighting, Daylighting and Plug Upgrades: Introduction of improved lighting designs, daylighting controls, and plug load occupancy sensors in common areas and tenant spaces to reduce electricity costs and cooling loads.

    4/ Air Handler Replacements: Replacement of air handling units with variable frequency drive fans to allow increased energy efficiency in operation while improving comfort for individual tenants.

    5/ Chiller Plant Retrofit: Reuse of existing chiller shells while removing and replacing “guts” to improve chiller efficiency and controllability, including the introduction of variable frequency drives.

    6/ Whole-Building Control System Upgrade: Upgrade of existing building control system to optimize HVAC operation as well as provide more detailed sub-metering information.

    7/ Ventilation Control Upgrade: Introduction of demand control ventilation in occupied spaces to improve air quality and reduce energy required to condition outside air.

    8/ Tenant Energy Management Systems: Introduction of individualized, web-based power usage systems for each tenant to allow more efficient management of power usage.

    When the project is completed, the Empire State Building will serve as the model for other building upgrades throughout the city under PlaNYC 2007 and for retrofit projects in other major cities.

  9. 9 adha montpelierina

    terimakasih atas tulisan2nya. mohon izin untuk disadur dalam tugas.🙂

  10. @adha: silakan .. dan terima kasih sudah mampir ke warung saya😉

  11. 11 jonathan

    memang bagus penerapan green building terutama untuk di jakarta tapi saat ini apakah sudah ada bangunan di jakarta yang menerapkan metode tersebut? ada pertanyaan yang muncul berkaitan dengan rencana Pemerintah DKI Jakarta khususnya pihak DPRD DKI Jakarta yang akan membangun gedung kantor DPRD DKI Jakarta yang baru dengan konsep Green Building, yang informasinya memerlukan anggaran -/+ Rp. 450 milyard. bagaimana tanggapan atau komentar dari para pemerhati Green Building…

  12. pada perkembangan perancangan dan pembangunan mendatang, green building sudah menjadi keharusan, bukan lagi sekedar pilihan. keharusan ini merupakan tanggung jawab (arsitek) dalam memegang perannya dalam masyarakat.
    kalau benar gedung dprd jakarta dan gedung menteri p.u akan dirancanga sebagai gedung yang hijau, tentu saja sangat baik. berapa besar anggaran pembangunannya harus diadu dengan berapa besar penghematan (energi, air, dst) yang dihasilkan ..

  13. 13 Sam

    Premise dari gerakan green adalah pemanasan global yang disebabkan oleh carbon emisi (di sebarkan sebagai “science” oleh IPCC padahal hanyalah sebagai theory).
    Akhir2 ini semua premise tsb. benar2 dipertanyakan dan menjadi bahan tertawaan dari ilmuwan yang tidak menjadi anggota IPCC dan mempunyai bukti2 yang menyanggah teori tsb. Apalagi dg terbongkarnya skandal terbesar dlm dunia Science:

    http://www.telegraph.co.uk/comment/columnists/christopherbooker/6679082/Climate-change-this-is-the-worst-scientific-scandal-of-our-generation.html
    http://www.timesonline.co.uk/tol/news/environment/article6994774.ece
    http://www.timesonline.co.uk/tol/news/environment/article6999051.ece
    http://www.vancouversun.com/technology/Scientists+using+selective+temperature+data+skeptics/2468634/story.html
    http://www.dailymail.co.uk/news/article-1245636/Glacier-scientists-says-knew-data-verified.html
    http://blogs.telegraph.co.uk/news/geoffreylean/100023489/pachauri-must-quit-as-head-of-official-science-panel/
    http://beta.thehindu.com/news/national/article93870.ece?homepage=true
    http://www.dailymail.co.uk/news/article-1246661/New-scandal-Climate-Gate-scientists-accused-hiding-data-global-warming-sceptics.html
    http://www.telegraph.co.uk/earth/environment/climatechange/7111525/UN-climate-change-panel-based-claims-on-student-dissertation-and-magazine-article.html
    http://www.guardian.co.uk/environment/2010/feb/01/dispute-weather-fraud
    http://www.guardian.co.uk/environment/2010/feb/01/leaked-emails-climate-jones-chinese
    http://www.theglobeandmail.com/news/opinions/the-great-global-warming-collapse/article1458206/
    http://online.wsj.com/article/SB10001424052748703630404575053781465774008.html?mod=WSJ_hp_mostpop_read
    http://online.wsj.com/article/SB10001424052748704804204575069440096420212.html
    http://www.dailymail.co.uk/news/article-1250872/Climategate-U-turn-Astonishment-scientist-centre-global-warming-email-row-admits-data-organised.html
    http://www.guardian.co.uk/environment/2010/feb/21/sea-level-geoscience-retract-siddall
    http://epw.senate.gov/public/index.cfm?FuseAction=Minority.PressReleases&ContentRecord_id=fb6d4083-802a-23ad-46e8-c5c098e22aa1&Region_id=&Issue_id=0f038c02-802a-23ad-4fec-b8bc71f1a6f8
    http://www.dailymail.co.uk/news/article-1254660/Climategate-expert-tells-MPs.html

    Semua ini menjadi pelajaran buat kita yang sering menjadi “pengikut” dan banyak melakukan penerapan2 yang pada akhirnya merugikan kita terutama buat negara2 sedang berkembang yang ingin meniru gerakan hijau ini.
    Ada studi kasus yang mungkin bisa dipelajari dari satu kota di negara maju spt Boulder, Colorado USA tidak sanggup menjamin keberhasilan gerakan ini:

    http://online.wsj.com/article/SB10001424052748704320104575015920992845334.html?KEYWORDS=boulder

    Semoga berguna,
    Sam Wonohadidjojo
    California

  14. 14 e

    kemarin, pada diskusi tentang sustainable urban development, juga muncul issue bisnis vs hijau. banyak argumentasi menarik seputar issue ini, tetapi menurut saya gerakan hijau memang sudah harus dikerjakan. bukankah hemat air dan bijak energi merupakan hal yang baik? habisnya kayu dan minyak bumi kan tidak bisa di trade-off dengan apapun ..
    @sam: terima kasih info dan link-nya.

  15. arsitektur ramah lingkungan itu sebenarnya pendekatannya lebih ke bentuk bangunan atau penghematan SDA ????
    apakah suatu bangunan tanpa adanya ruang terbuka hijau termasuk dalam arsitektur ramah lingkungan ?????
    mohon iizin untuk disadur dalam tugas

  16. 16 e

    @denny: silakan .. tentang bentuk bangunan atau bukan, baca juga sharing-nya greenmonster .. jelas kan? ini juga bisa menjadi diskusi apakah bangunan tanpa ruang terbuka tetap bisa dibilang ramah lingkungan .. pendapat denny sendiri gimana?

    • 17 denny

      klo menurut saya, ada istilah bentuk bangunan yang namanya “solid-void” yang memicu terjadinya pergerakan udara ke dalam bangunan…
      menurut anda gmn.???
      setahu saya , untuk bangunan bertingkat tinggi itu akan memakan energi listrik untuk AC, lift dan eskalator…
      bagaimana konsep green itu bisa dilakukan oleh para pengembang yang ingin propertinya laku terjual apabila sarana dan prasarana seperti itu tidak terdapat pada propertinya..???
      rasanya sulit sekali untuk menerapkan konsep green pada bangunan bertingkat tinggi, karena pada beberapa pengembang hal tsb tidak komersil…
      pada kenyataannya banyak pengembang yang gencar menerapkan konsep “green” pada properti2nya, padahal kenyataannya tidak seperti itu….
      benar pendapat sam, indonesia merupakan negara nerkembang…
      berkembang untuk mencari jati diri yang sesungguhnya tentang arsitektur di negerinya sendiri….
      apalagi indonesia merupakan negara majemuk yang mempunyai pola pikir beragam..

  17. 18 e

    solid-void tidak memicu pergerakan udara, tetapi menjadi wadah yang memungkinkan terjadinya pergerakan udara, baik melalui ventilasi alamiah maupun mekanis. dengan demikian green building tidak berarti tidak boleh menggunakan ac, lift dan eskalator, melainkan seberapa hemat penggunaannya? bagaimana kaitannya dengan kebutuhan (atau produksi) listrik bangunan itu sendiri? pada masa penggunaan bangunan, apakah kebutuhan listrik (dan air, dan total energi, misalnya) bisa lebih rendah (dan kelak terus lebih rendah) dari kelaziman dan standar penggunaan energi? point-nya buat arsitek adalah: men-design dengan lebih baik pada sebanyak mungkin aspek. bukan sekedar ikut-ikutan “green” tetapi justru bergantung pada impor teknologi .. hehehe, pada aspek ini “local wisdom” layaknya berbunyi kebih keras bukan?

  18. 19 feri

    oh iya,mana juga gambar desan rumahnya……………………………..saya ada tugas ni………………………….tentang green building………………

  19. 20 e

    @feri: baca saja diskusi diatas, dari situ akan ditemui beberapa pedoman .. lantas gunakan itu dan silakan berarsitektur dengan kreatifitas anda sendiri .. saya kira hal ini kemudian yang akan menjadikan anda arsitek yang baik. kalau perlu lihat contoh nyata, banyak sekali design (dan kritik) dgn mudah diperoleh melalui internet ..
    selamat merancang dan salam, e.

  20. wahh.. bener2 ok nih.
    Pak/Bu E, boleh saya kutip tulisan anda untuk bahan kuliah saya?
    oia, kalau boleh, saya mau menyertakan nama anda dalam daftar referensi materi nya.
    boleh? kalau boleh bisa tolong di email ke saya pak/bu?
    terima kasih banyak..

    *B.

  21. 22 e

    @budi: silakan pak budi .. insyaAllah dapat memberi manfaat bagi mahaiswa anda. salam, e (endy subijono).

  22. 23 Thompson

    Numpang tanya ke forum, material apa yang dapat mendukung green building, terutama untuk efisiensi energi dan efisiensi air waktu pengerjaan suatu bangunan…

  23. 24 yulia

    nice artikel,,trimakasih karena telah menambah wawasan saya… ^o^

  24. 26 dwiaryo d

    Mantap dan mari kita mulai gerakan hijau ini dari lingkungan terkecil disekitar kita, yaitu rumah kita dan keluarga kita, saya tunggu artikel yang lainnya>>>>>>>>>>>>>>

  25. 27 e

    ..berbagi sedikit hasil diskusi (keywords) tentang green building:
    Business Forum: Invasion to Green Territory – War Room Strategy
    Hotel Dharmawangsa, 2 Juli 2012

    Sesi 1 : Jenderal Naning Adiwoso (GBC Indonesia) & Jenderal Endy Subijono (IAI)

    Kata kunci Arsitek Indonesia (green character)

    – Tingkat kedewasaan tinggi
    o Awareness
    o Understanding
    o ability

    – Memahami green is investment
    o Long term investment (is not about the money) sudah dapat dibuktikan dengan hasil penelitian RoI (Return of Investment)
    o Makin banyak menggunakan energy, makin effisien bangunan kita (paradox approach)
    o Perubahan permintaan

    – Integrated approach
    o Kolaborasi dari semua stake holder
    o Integrasi adalah masa depan

    – Hijau adalah tantangan skaligus peluang jika kita siap.
    o Bisa diibaratkan dengan perencanaan memiliki keturunan (intangible benefit)
    o Pertimbangan jangka panjang, investasi dan bukan tantangan

    Kata Kunci dari Green Building Council:

    – Healthy planet (beyond green)

    – Keterbatasan sumber daya alam, meningkatnya populasi penduduk (product cycle)
    o Combine material & marketing (holistic thinking)
    o Biodegradable(cradle to cradle)

    – Green School
    o Pemikiran baru untuk generasi muda & masa depan (Agent of Change)

    Pandangan sisi Profesional (perancang, produsen, manufactur) Bangunan Hijau
    1. Pemikiran awal yang one step ahead, untuk effisiensi dan juga pola pikir hijau
    2. Kesadaran bahwa hal baru terjadi (kreatifitas dibutuhkan utk bangunan lebih baik)
    3. Keterampilan berbagi

    Kurikulum Green School :
    1. Perubahan mindset (hemat, sehat)
    2. Pemahaman untuk konsep 3R
    3. Penghargaan terhadap gerakan hijau
    4. Green Schooling, membuat arus hijau dengan mengajak semua pihak untuk ikut dalam gerakan hijau (Green Tsunami) – sekolah berpikir (school of thought)

    Sesi 2 : Jenderal Yennel S. Suzia (PU) & Jenderal Noer Adi Wardojo (KLH)

    Gerakan Hijau di Kementerian PU

    – Pembuatan Gedung Hijau Kementerian PU
    o Penghematan listrik 44%
    o Penghematan air

    – Tahun 2014 PU akan menjadi contoh kawasan hijau

    – Car Free Day di komplek PU

    – Masukan untuk professional, konsultan diharapkan sebagai professional bukan perusahaan.

    Kementerian Lingkungan Hidup (Road Map)

    – Green territory adalah suatu kawasan yang harus dimenangkan cepat atau lambat, dicapai melalui :
    o Kesediaan/kesiapan pasar
    o Kebijakan pemerintah
    o Pola pikir dan tekad hati

    – Diseminasi gerakan hijau
    o Pertama melalui semangat (hati dan pemikiran)
    o Kedua masuk cara teknis

    – Setiap manusia mau tidak mau harus bergabung
    o IN (aktif dan menerapkan gerakan hijau sebagai role model)
    o in (ikut dalam arus hijau)

    Pembekalan terhadap pejuang hijau/pelaksana di lapangan :
    – pembuatan (proses) peraturan terkait dengan kenyamanan (difable & non difable) serta terkait dengan kesetaraan gender
    – Penghematan ruangan dibuat KepPres
    – Size does the matter (semakin sederhana, kecil ukurannya semakin mudah dikendalikan)
    – Mencapai pemahaman bahwa sesuatu yang sederhana dan mungil tidak selalu buruk.
    – Waktu menjadi tolak ukur, semakin cepat semakin baik
    – Semua bisa menggunakan cara dan keahlian masing-masing dalam mencapai tujuan hijau
    – Penyesuaian target pasar, KLH mempersilahkan kalangan industri mengembangkan business plan disesuaikan dengan pangsa pasar masing2.
    – KLH berkolaborasi dengan kementerian lain, untuk mengembangkan terwujudnya program berkelanjutan.
    – Penggunaan peraturan pemerintah bisa digunakan untuk acuan sehingga mempercepat terjadinya gerakan hijau
    – Eco Label
    – Penerapan Green Building di komplek pemerintah.

    Sesi 3 : Ir. R. Isnudwatmono Soetikno (ESDM) & Sudaryatmo (YLKI)

    Tantangan untuk Green Product:
    1. Agar konsumen tidak hanya mencari harga murah tetapi juga ramah lingkungan
    2. Konsumsi Berkelanjutan & Produksi Berkelanjutan harus berjalan beriringan.

    Tantangan dari sisi Energi:
    1. Pengurangan karbon sebanyak-banyaknya dengan menggunakan produk yang ramah lingkungan
    2. Bagaimana meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan energy yang terbarukan

    Jika masyarakat tidak berubah, apa yang akan terjadi :
    1. Produk yang tidak mengikuti standart internasional (yang sudah memiliki green mindset) maka pangsa pasar mereka akan turun.
    2. Biaya produksi akan semakin meningkat karena harga produk non green akan kalah dengan produk green
    3. Perubahan pola konsumsi, sebagai contoh saat ini uang yang dibelanjakan konsumsi makanan menjadi lebih rendah dibanding konsumsi kesehatan.
    4. Permasalahan kesehatan terjadi

    Cara mempercepat pergerakan hijau :
    – Dengan merubah pola konsumsi. konsumen yang telah tereformasi akan memiliki kemampuan untuk mengkritisi produk yang digunakan
    – Ketersediaan informasi akan product-product hijau
    o Proses produksi
    o Keuntungan yang didapatkan
    o Dampak yang diperoleh dari menggunakan produk tersebut
    – Kejelasan proses produk, dari produksi hingga sampai ditangan konsumen

    Saat ini sudah muncul suatu profesi baru, yaitu Hygine Doctor untuk melakukan pengecekan terhadap higenitas bangunan (dampak terhadap kesehatan) Mendorong konsumen untuk membudidayakan kebiasaan membaca dan mencari informasi berkenaan dengan green product.

    Closing : Negeri hijau adalah suatu negeri dengan teritori tak terbatas. Bagaimana kita mengembangkan teritori hijau ini seluas-luasnya sehingga target pasar hijau akan semakin berkembang.

  26. 28 Puji

    salam kenal…..Artikelnya sangata bagus….saya sudah membacanya….ijin copi untuk saya taruh di blog saya. untuk membagi informasi yang menarik ini

    Terims
    Puji R

  27. 30 arnold315

    apakah di jakarta sudah ada bangunan yang berkonsep green arsitektur/green building? dan sudah terujikah bangunan tersebut?

    • 31 e

      sejauh yang saya ketahui, setidaknya ada 3 gedung yang menerapkan arsitektur hijau di jakarta: gedung kementerian p.u. yang baru, menara bca di sekitar bundaran h.i. dan talavera tower di jalan simatupang. ketiganya relatif baru sehingga saat ini masih dalam proses pembuktian sejauh mana penghematan tercapai dan sesuai dengan sertifikat hijau yang dimiliki.
      salam, e.

  28. Sangat menarik blognya pak esubijono…pola hidup “green living” sudah ada di berbagai tempat di Nusantara ini sebelum “trends” dunia saat ini dan satu hal lagi yang di miliki bangsa ini yaitu semangat gotong royong yang menurut arsitek Adi Purnomo “Green bukan hanya “menghijaukan” bangunan individual,
    tetapi juga berpotensi menjadi gerakan perbaikan bersama seluruh warga kita, bahkan warga negeri. Itulah “Gotong royong” yang merupakan jiwa kehidupan bersama Nusantara yang perlu diwujudkan di masa kontemporer,
    atau di masa kini dan yang akan datang…” salam kenal dan terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: