moonlighting

 

dari catatan januari 1995.

Bagas adalah seorang arsitek yang baru lulus. Tatalakunya santun, rambutnya agak panjang dan gagasan-gagasannya kreatif. Tidak heran ia disenangi teman-teman kerjanya disebuah biro arsitek besar. Hasil rancangan Bagas baik, walaupun sering membuat job captain merasa gerah karena detail-detailnya unik dan tidak standar. Maklum, baru lulus dua tahun dan semangat eksplorasinya menggebu.

Senior-seniornya di kantor lantas percaya pada Bagas. Pekerjaan-pekerjaan sampingan yang tidak bisa dikesampingkan, misalnya permintaan desain rumah seorang bowheer penting, diserahkan padanya untuk diselesaikan. Hitung-hitung, sekalian jadi access untuk menambah jam terbang sejaligus memelihara karyawan. Karena Bagas bekerja penuh waktu, tentu saja pekerjaan-pekerjaan ekstra tersebut dilakukan diluar jam kantor. Bagas bekerja di kantor pada malam hari. Moonlighting. Ia mengajak beberapa juru gambar untuk bekerjasama. Pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan dan diselesaikan Bagas dengan baik sehingga fee yang diterimanya juga baik.

Tetapi, dua tahun kemudian, Bagas tiba-tiba minta berhenti. Bukan karena ia tidak disenangi lagi di kantor itu, tetapi “saya menabung fee yang selama ini saya terima dan kini saya merasa cukup kuat untuk memulai usaha sendiri. Apalagi selama ini telah terbukti hasil pekerjaan saya memuaskan”, katanya.

Bagas memang entrepreneur tulen. Ia, selain arsitek yang baik, juga mempunyai standar kualitas SDM yang banyak dicari orang, hal yang kini menjadi perhatian pada setiap perusahaan sebagai alternatif utama terhadap tekanan persaingan. Tetapi, SDM yang tangguh juga bisa menjadi ancaman terhadap employment. Nyatanya, banyak biro arsitek kehilangan kader terbaiknya yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai usaha sendiri. Mereka tahu persis kemampuan pribadi dan sulit hidup terikat dalam suatu perusahaan besar dengan mekanisme yang kaku. Lalu, tentu harus ada akal agar perusahaan tidak kehilangan karyawannya, tanpa harus mengebiri SDM. Barangkali, salah satu akal adalah, diresmikan saja gaya kerja moonlighting itu. Istilah asingnya intra-corporate entrepreneur, atau kita sederhanakan menjadi intrapreneur agar mudah dibandingkan dengan entrepreneur. Yaitu, karyawan mempunyai hak untuk melakukan sesuatu untuk perusahaan dengan resiko yang sama seperti ia menjadi entrepreneur, walaupun tentu dengan mempertaruhkan resiko pribadi untuk mewujudkan gagasan-gagasan dalam perusahaan tempatnya bekerja.

Para ahli di Inggris 30 tahun lalu pernah mempunyai gagasan tentang sebuah perusahaan menjadi semacam kumpulan dari para entrepreneur. Mereka sendiri bertanya-tanya apakah sistem itu bisa berjalan? Soalnya kalau bisa menjadi preneur yang entre mengapa harus pilih intra? Tetapi, kan, untuk menjadi entrepreneur perlu modal untuk mewujudkan gagasan, sementara untuk seorang arsitek mencari modal usaha bukan sesuatu yang gampang. Dengan intrapreneur maka ada peluang dan ruang gerak, juga insentif, untuk karyawan merancang dan menjual gagasannya. Modal dan sarana disediakan oleh perusahaan, serta bersama-sama membuat kesepakatan bagaimana keuntungan akan dibagi.

Mekanisme semacam ini mungkin membuat arsitek-arsitek macam Bagas tidak perlu keluar dari perusahaannya manakala ia merasa mempunyai gagasan yang menguntungkan. Ia tidak perlu sibuk mencari modal usaha sendiri dan tetap bisa bernaung dibawah bendera besar perusahaan. Perusahaanpun tidak khawatir kehilangan anak-anak emasnya. Kelak, bentuk semacam moonlighting ini akan bermetamorfosis menjadi partnership. Lebih fit buat gaya kerja sesama arsitek yang lebih berat kekerabatan daripada PT yang dasar hitungannya dagang saja.


One Response to “moonlighting”

  1. 1 e

    sekitar awal tahun 2003 issue ini pernah dibicarakan melalui milis iai. ringkasannya saya letakkan disini, dengan sedikit editting disana-sini.

    ::endy subijono
    moonlighting sepertinya sudah tidak menjadi masalah lagi.
    benarkah?
    bawahan anda melakukan, rekan sekantor melakukan, anda sendiri -mungkin- melakukan juga. dengan berbagai alasan, moonlighting hidup subur. ada yang melakukan untuk alasan keuangan, ada yang beralasan melakukannya untuk mempertahankan idealisme, dan macam-macam alasan lainnya. padahal, moonlighting -kerja temporer non kerja perusahaan diluar jam kerja normal-, umumnya menggunakan fasilitas kantor. di satu sisi penggunaan fasilitas semacam ini tentu ‘merugikan’ perusahaan, tetapi di lain sisi bertambahnya pengalaman karena ber-moonlighting tentu akan memperkuat portfolio perusahaan secara keseluruhan.
    menurut saya moonlighting itu baik tetapi sangat potensial terjadi konflik kepentingan yang ujung-ujungnya bisa jadi tindakan tidak etis.

    ::Aditya
    ‘side-job’ adalah sesuatu yg tabu dibicarakan di kantor, tapi disatu sisi ketika penghargaan masyarakat [dan juga bos konsultan] belum tinggi terhadap ‘skill’ arsitek tentu saja hal ini akan berlangsung terus.
    Disisi lain, kita semua harus dapat membedakan mana yg pekerjaan kantor dan mana pekerjaan ‘SJ-moonlighting’, selama tidak memakai fasilitas kantor dan dilakukan diluar jam kerja serta tidak mengganggu tugas utama dari kantor saya pribadi berpendapat tidak apa-apa.
    Semua itu tergantung dari etika dan moral kita masing2, kalo kita mau jujur, seharusnya memakai telepon kantor utk menelepon keluarga pun seharusnya tidak boleh kan…[?]

    ::Sjahrazad
    Mungkin bisa dibudayakan dalam bentuk lain, seperti dokter [arsitek] dan rumahsakit [konsultan].
    Dari sisi ini seorang arsitek sah sah saja menjalankan profesinya secara pribadi diluar konsultan yang meng-hire dia sebagai professional.
    Hanya saja yang perlu dibudayakan adalah bekerja dalam hitungan man-hour atau jam kerja praktek🙂 secara pribadi atawa dikonsultan. Selain itu etika, tidak merebut client dari pihak lain..

    ::Djuhara
    ‘Moonlighting’ bagi saya memang masih di daerah ‘grey area’. Sewaktu saya masih bekerja di sebuah firma desain yang besar saya dihadapkan pada sekian banyak sudut pandang, dan juga dibenturkan pada visi saya sendiri tentang masa depan saya, posisi firma dan pemikiran saya tentang ‘moonlighting’ itu sendiri.
    Saya kira kita perlu melihat dari sekian banyak sudut pandang.
    Asumsi awal:
    Ada dua jenis ‘moonlighting’:
    1. Kompetisi
    ada 2 jenis lagi: dengan probem real dan fiktif, yang berarti juga 2 konsekuensi: tak akan dibangun dan akan dibangun. Kompetisi juga mengandung kemungkinan dipublikasikan secara luas di media cetak atau apapun.
    2. Kerja desain murni
    berarti sudah langsung punya klien jelas dan akan dibangn sampai selesai, memerlukan kerja pengawasan lapangan.

    Ilustrasi:
    1.Saya ikut kompetisi, saya menang, saya bilang ke prinsipal: ‘Saya menang!’, berharap akan ada satu pujian, sukur-sukur naik gaji🙂 Tapi reaksinya adalah: ‘Sudahkah kamu mendapat ijin untuk mengikuti itu dari kantor?’ (dalam kepala saya: ‘Emang kalau minta ijin, akan diijinkan?’)
    2. Saya mendapat projek real di luar kantor tapi saya kerjakan murni di luar jam kantor tanpa menggunakan fasilitas kantor: fax, telepon, kertas, printer, waktu, pikiran. Alhasil: tetap saja saya takut ketahuan. Takut dalam hal ini mengandung rasa bersalah atau takut disalahkan karena banyak asumsi tentang mana yang benar. Hal ini bisa terjadi karena memang belum dibuat jelas.
    Apa hak kita sebagai karyawan firma arsitektur? (dan kewajiban)
    Apa hak kita sebagai pemilik firma arsiktektur? (dan kewajiban)
    Ada hal yang spesifik dalam daerah kerja kita yang menyangkut keberadaan diri seseorang memposisikan dirinya sebagai arsitek. Ada hal yang menyangkut ‘pride’, jati diri, pembuktian diri. Itu penting sekali untuk kita menjual keahlian kita.

    Bagaimana pranata hukum arsitektur di Indonesia, saya kira memang belum disusun secara jelas. Beberapa dari kita menyesalinya sementara yang lain menikmatnya, biarkan saja lah…
    Pemerintah menyusunnya demikian:
    jam kerja 40 hari seminggu, ada lembur, hak cuti, dsb. tapi itu menyangkut sekian banyak jenis pekerjaan (arsitektur dan yang lain) dan tidak pernah menyebutkan hal apa yang kita bisa kerjakan di luar jam itu.
    Sebagai arsitek pekerja:
    Saya menyampaikan kewajiban saya untuk mendapatkan gaji bulanan dengan
    mendarmabaktikan waktu, pikiran saya 40 jam seminggu Senin – Jumat jam 8.30 – 5.30 dengan waktu istirahat 1 jam : 8 jam sehari. Selesai? belum! Ada tanggung jawab bahwa pekerjaan harus berhasil baik, dapat dibanggakan. Oleh siapa? Paling tidak oleh firma tentunya. Oleh arsitek yang mengerjakan? Selayaknya. Kalau dipublikasikan nama siapa yang dicantumkan? Nama firma. Nama pekerja? Belum tentu. Ada kewajiban? Tak ada hukumnya.
    Kita harus mengurutnya dari: bagaimana projek itu didapat firma, siapa yang mengasuhnya dari konsep hingga jadi dengan segala kelaikan detailnya. Hak cipta siapa hasil karya arsitektur itu?
    Sebagai arsitek pemilik firma:
    saya mendapatkan klien, datang ke firma saya karena saya, bukan karena orang lain. Nama saya menjadi jaminan untuk selesainya projek tersebut. Maka saya harus mempertanggung jawabkan desainnya sesuai dengan desain yang saya puya. Arsitek yang bekerja sebagai karyawan di firma hanya membantu untuk mewujudkannya terjadi, mengerjakan sekian banyak hal yang kurang penting yang sejujurnya tidak ingin saya kerjakan, tapi harus dikerjakan. Itu kan prinsip ‘distribusi pekerjaan’?

    Konon di Amerika ‘moonlighting’ dilarang karena beberapa sebab. Di antaranya yang paling penting alasannya adalah karena masalah ‘liability’. Bila seorang arsitek pekerja melakukan malpraktek maka tempat ia bekerja bisa terkena getahnya. Adakah hukumnya di Indonesia? Tidak ada?
    Maafkan tulisan saya yang terpotong-potong seperti ‘puzzle’…, semata
    karena tidak ingin terlewat hal-hal yang saya pikirkan.
    Bila saya magang, apakah saya karyawan tetap? ‘Full timer’? Bolehkah saya ‘moonlighting’?
    Bila saya karyawan kontrak, bolehkah saya ‘moonlighting’?
    Bila saya karyawan tetap, bolehkah saya ‘moonlighting’?
    Bila saya karyawan firma arsitektur, bolehkah saya ‘moonlighting’ sebagai asisten dosen atau dosen?
    Moonlighting itu apa saja ya?: mengerjakan projek, mengerjakan pekerjaan rumah, begadang nonton bola, bikin rak di rumah, atau mendesain rumah sendiri, diskusi desain sampai malam?
    Apakah firma mempunyai hak terhadap waktu saya di luar jam kantor?
    Apakah aktifitas saya di lauar kantor itu tidak punya dampak positif
    terhadap pekerjaan saya di kantor?
    Kalau saya bekerja mati-matian akankah saya mendapatkan imbalan di luar gaji?
    Kalau saya membaca buku arsitektur hebat apakah saya dihargai?
    Apakah ‘interest’ kantor itu?
    Kalau saya mau memulai sendiri nanti, saya bisa memakai karya-karya yang saya kerjakan sebagai portofolio saya?
    Disebut sebagai asisten arsitek? Atau arsitek? Padahal, misalnya, prinsipal saya cuma neken kontrak doang, yang kerja ya, saya dari nol sampai ujung? (ini bisa dilebarkan kepada kebanggaan seorang mengenai sebutan arsitek: adakah ia mendesain detail? atau ‘konsep besarnya, ya, saya…?)
    Agak mulai cape, saya, nulisnya…
    Pada intinya ada hal yang penting: Etis itu perlu diperhitungkan dari dua sisi: dari sudut pandang pemilik firma maupun kepentingan arsitek pekerja.
    Di sisi lain di sini firma arstektur itu lebih mirip ‘perusahaan keluarga’ dibanding sebuah perusahaan publik yang menganut suatu prinsip ‘corporate culture’. ‘Saya adalah pemilik firma ini, kalau tidak suka ya, silahkan keluar, cari tempat lain…’ Dilemanya kalau perusahaan arsitektur itu dikelola secara demokratis, maka firma itu akan sangat dekat dengan kehancuran…:)
    Saya dengar di Belanda ada firma arsitektur dikelola seperti sebuah koperasi! Kawan saya bekerja di perusahaan seperti itu. Mungkin di situ ‘moonlighting’ itu halal, ya, atau mungkin jadi wajib? hahaha…
    PS:
    bila sebuah firma mengharamkan ‘moonlighting’ dan bersistem tertutup dalam perjalanan karir, biasanya ia akan sekedar menjadi ‘sekolah’ saja, tempat magang. Sesuatu yang wajar-wajar saja. Selayaknya memang, seorang arsitek itu mempunyai firma arsitektur sendiri yang menyandang nama pribadinya sebagai jaminan profesional, bukan nama-nama Sansekerta yang tidak menandakan integritas apapun (seperti yang pernah diwajibkan oleh pemerintah).

    ::Zulherry Syarif
    Numpang nimbrung,cerita moonlighting umumnya bergeser dari tujuan utama perusahaan yang merekrut kita yang maksudnya adalah begini,sewaktu penerimaan dikatakan Job Description kita adalah Architectural Engineer tetapi seiring Load pekerjaan yang mengharuskan kita menjadi Civil Coordinator yang sama sekali tidak meng otak atik gambar /design maka timbulah dari dalam diri bahwa keahliaan, hobby dan pengetahuan harus tetap diasah dan di Update. Tempat saya bekerja sangat mendukung hal ini asalkan pekerjaan utama tetap dijadikan prioritas.
    Singkatnya, moonlighting sah-sah selama tujuan dan target perusahaan tidak menyimpang.

    ::Wahyoe
    Sebelumnya, moonlighting ini ada 2 arti untuk pekerja FULL-TIME:
    1. pekerjaan selain pekerjaan kantor, namun masih terkait dengan kepentingan kantor. (Kantor mendapat keuntungan finansial/ maupun brand awareness)
    2. pekerjaan selain pekerjaan kantor dan tidak memberi keuntungan apapun bagi kantor.

    Saya mau bahas nomor 2 dulu:
    Bila rekan-rekan pernah ikut training mengenai pemberdayaan Human
    Resource, memang pekerjaan ini BOLEH dengan ketentuan dasar:
    1. tidak menggunakan fasilitas kantor,
    2. pada jam kantor,
    3. dan mengganggu kegiatan kantor.
    Namun kita ngga boleh keblinger bahwa kita BISA melakukannya. Karena pada kenyataan umum, apakah benar kalian tidak berpikir mengenai proyek (baik fiktif/ nyata) tersebut di kantor? (Itu sudah melanggar ketentuan nomor 2 dan 3). Memang kita memakai HP pribadi, kertas sendiri, fax sendiri, dll, tapi apakah owner harus selalu menelepon malam hari? rasanya mustahil… (Melanggar ketentuan nomor 2 dan 3). Untuk yang bekerja di kantor arsitek, saya yakin kantor menyuplai buku-buku desain yang pada akhirnya kita berpikir “eh, bagus juga buat ide proyek (moonlighting)…” (Ini sudah melanggar ketentuan nomor 1, 2 dan 3)
    Jadi ngga heran kalo rekan-rekan tetap merasa feel guilty kalau menerima proyek diluar kerjaan kantor tersebut….. Kalau sudah tidak terbendung, sudah saatnya resign dari kantor.
    Saya pikir sah-sah saja moonlighting dilakukan untuk arti nomor 1, yaitu (juga) memberi keuntungan bagi kantor. Caranya? dengan mendiskusikan dengan atasan/ Principal. Saya pikir pengalaman Pak Djuhara ketika mengikuti kompetisi sangat egois dan tidak terbuka. Saya rasa kalau Pak Djuhara mau diskusi dengan atasannya, siapa bilang pasti ditolak? Kalaupun ditolak, mungkin Principal anda menilai kurang terhadap pekerjaan anda di kantor, dan tidak layak ikut kompetisi he.. he.. he..🙂 (silahkan marah-marah…) atau masalah lain yang tidak bisa digeneralisasi sama di semua kantor..
    Karena pada dasarnya, bila kita sudah komitmen untuk bekerja di kantor tersebut, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencurahkan segala daya upaya memajukan kantor tersebut, dan jangan berpikir selalu mengenai penghargaan/ hak yang kurang. Jangan lupa, penghargaan berbanding dengan KSA (Knowledge, Skill, Attitude). Siapa tahu KSA kita yang kurang (tapi kita tidak sadar????).
    Kewajiban perusahaan adalah memberi proyek untuk kita, resource seperti buku-buku, alat-alat dan tempat bekerja yang layak sesuai standar perusahaan. Sudah sepantasnya kita berterima kasih pada kantor tempat kita bekerja, karena mereka mau bersusah-susah mencarikan proyek, memberi makan dan bila kita bekerja di proyek tersebut maka otomatis menambah panjang portofolio KITA sendiri (sekaligus Firma), dan nambah ilmu dengan buku-buku, record/ file proyek-proyek, dan sistem kerja.
    Mereka keluar uang banyak untuk memberi hak kita supaya kita bisa bekerja baik untuk mereka dan kantor bisa bergerak. Simbiosis mutualisma.. kata guru biologi..

    ::Sonny Sutanto
    Fakta tentang moonlight:
    1. Ada tiga macam tipe kantor arsitek, berorientasi pada desain, produksi atau delivery. Ketiganya punya natur berbeda dalam segala hal. Lihat : Managing design Consultancy Practise (kalo tidak salah), Nina Hartung.
    2. Di biro dengan orientasi desain, biasanya dipimpin oleh desainer kelas superstar, dengan ego super pula. Contoh ekstrim mis: Frank Gehry. Dalam kantor tipe ini, moonlight adalah usaha untuk keluar dari rutinitas hidup di bawah jagal. Tujuan akhir, adalah menjadi desainer tipe lain, tidak setipe boss-nya. Jangan harap misalnya sekeluarnya anda dari kantor Gehry, orang akan nyari anda untuk arsitektur Tipe Gehry, karena hasilnya pasti KW3. Kecuali klien kagak ngerti yang cuma ingin punya karya “mirip” Gehry dengan fee yang lebih murah. Gehry sangat aware ttg situasi ini. Pada satu kuliah di kelas saya tahun 90an, Gehry bahkan pernah menyatakan agar perusahaannya bubar segera setelah ia tidak aktif lagi. Moonlight juga menjadi ajang mencari uang lebih karena perusahaan super macam ini biasanya tidak membayar staffnya dengan “baik”, dibandingkan dengan perusahaan tipe berikutnya.
    3. Tipe berikutnya, perusahaan dengan orientasi produksi dan delivery, yang banyak menghasilkan karya “sedang2” saja, namun … betul menguntungkan dari segi finansial. Biasanya susah moonlight karena pasti banyak lemburan dlsb. Motivasi positif adalah untuk menghasilkan karya unggulan, yang biasanya tidak mudah dihasilkan di kantor dengan omset milyaran, desakan skedul superpadat dlsb. Dengan modal skill produksi dokumen yang pasti canggih, mantan kantor semacam punya kemungkinan memulai sebuah kantor sendiri dengan keunggulan kualitatif dan berkembang menjadi design-oriented-company. Sukur jika tidak terjebak berkembang menjadi biro supersibuk, superbesar dan terpaksa mengorbankan eksplorasi desain karena desakan ini itu.
    4. Saya sangat menghormati para “moonlighter” karena beberapa alasan:
    a. Mereka pasti orang superenergetik, bisa bekerja begitu banyak. Hebatnya, jika karya moonlightnya juga bisa berkualitas. Latihan latihan ekstra di luar kantor juga membuat mereka jadi lebih kuat, kecuali fisiknya……
    b. Moonlight tidak selalu di bidang yang persis sama, ini namanya mengembangkan minat. Saya misalnya menikmati sekali moonlight sebagai dosen. Sedemikian sehingga saya pernah berpikir untuk fulltime jadi dosen, dan moonlight sebagai arsitek.
    c. Moonlighter juga sebuah kegiatan ekonomi ekstra legal, karena menyangkut lapisan moonlighter tingkat yang berbeda, drafter moonlight, engineer moonlight, tukang sate dlsb………
    5. Mengapa dilarang:
    a. Kantor takut karya moonlighter lebih bagus dari karya kantor.
    b. Bikin ngantuk, memakai sumberdaya dan waktu kantor. (kayak gua gini nulis e-mail sore sore di kantor…hehe). Ini sih alasan mengada ada, karena tidak ada satu badanpun yang pernah menghitung efisiensi kerja desainer. Kalau sembari boker sembari mikir, apa kantor mau bayar…? Kalau sket sket tiga hari tidak keluar ide yang bisa dipakai, apa dianggap pemborosan…? Memang nasib arsitek di negeri ini, terutama pada tingkat bukan pemilik kantor, lebih mirip buruh harian. Dibayar berdasarkan prestasi harian, mirip buruh linting rokok ….hehe…. Ini akibat belum dihargainya profesi kita secara wajar, sehingga kitapun sering tidak bisa menghargai para staf kita…… bertobatlah korps arsitek…ihik…
    c. Takut suatu saat nanti proyeknya dibawa kabur; bagi saya ini masalah etika yang paling serius. Adalah sangat baik jika profesional yang meninggalkan kantor, dapat “pergi” dengan baik, dengan tetap menjaga hubungan baik. Begitu juga dari pihak kantor yang ditinggalkan, tidak perlu menyebar berita buruk tentang mantan staffnya. Saya mendengar terlalu banyak caci maki dari kedua pihak di publik arsitektur kita, seharusnya hal itu tidak terjadi.
    6. Moonlighting adalah kawah chandradimuka tempat berlatihnya para calon arsitek tahap berikutnya. Berilah kesempatan pada mereka yang datang sesudah kita, asah intan dalam diri mereka. Jika suatu saat nanti mereka sudah merasa dewasa, hargai kedewasaan, juga jika mereka mengartikannya sebagai keinginan untuk lepas dari bayang bayang kita. Dunia arsitektur akan lebih bergetar dengan enersi kreatif dari sebanyak mungkin insan kreatif di dalamnya, persaingan adalah motivasi terbaik untuk menghasilkan yang terbaik dari diri kita semua.

    ::Krisen S. Emha
    Sedikit berbagi, yang paling nikmat adalah menjadi diri sendiri diantaranya memiliki konsultan sendiri. Jadi nggak perlu pusing dengan Moonlighting2x-an.
    Pengalaman saya setelah tamat sekolah arsitektur, langsung bekerja pada developer berbekal sedikit pengalaman kerja dikonsultan arsitektur selama 1,5 th. waktu masih mahasiswa.
    Selama di Developer, selain sebagai arsitek (Chief architect) juga kebagian tugas tambahan mengurus perizinan a.l. dengan pihak Pemda DKI dan Jabar, juga mengurus periklanan. Karena bekerja melebihi Job Description yang disepakati bersama, saya waktu itu merasa sah-sah saja mengambil kerjaan tambahan sebagai arsitek diluar jam kantor.
    Ternyata hasil moonlighting ini lebih besar dari penghasilan yang didapat di kantor. Dan akhirnya saya tidak punya waktu lagi untuk kerja dikantor, pilihannya adalah mendirikan konsultan sendiri tapi alasan utamanya adalah saya tidak akan bisa kaya dan kerja sesuai keinginan saya selama masih jadi anak buah orang lain.
    Dikantor saya saat ini tidak ada larangan untuk moonlighting yang dilarang adalah chatting dan pacaran ditelepon kantor. Harapan saya semoga monnlighter yang bekerja pada saya suatu saat juga bisa mandiri dan buka lapangan kerja.

    ::Han Awal
    Saya setuju bahwasanya “moonlighting” tentu tidak boleh mengganggu pekerjaan pokok sebagai komitmen utama. Sedikit pengalaman, dimana selama sekitar 40 tahun praktik, banyak anak buah melakukan moonlighting untuk nambah penghasilan. Seringkali dengan persetujuan atau sedikit-dikitnya dengan sepengetahuan.
    Ada beberapa kategori yang positip maupun yang negatip.
    Negatipnya:
    ada konflik of interest.
    Seumpama ybs. diberi iming-iming melakukan pekerjaan ,yang tadinya pekerjaan biro, dengan imbalan cukup tinggi, tapi jauh dibawah tarip .. menyerobot tugas berikutnya dari boss (?), kasarnya. Ini tentu tidak dapat dibenarkan sama sekali.
    Pernah zaman proposal Kita malah diadu dengan anakbuah sendiri ….. Dapat dimengerti bahwa pemberi tugas melakukan hal tersebut dengan maksud menekan harga. Kontan sikap kami perlu agak tegas. Ironi yang menyakitkan benar, tapi kadang merupakan kenyataan.
    Ada beberapa kemungkinan, besar kemungkinan ybs. perlu penghasilan tambahan, perlu namanya juga mencuat dimana mungkin, demi reputasi, bisnis. dsb. dsbnya.
    Positipnya:
    Ybs. bila melakukan dengan baik: sepengetahuan atasannya, atau lebih baik lagi membawa proyek ke biro dengan deal tertentu (bagi hasil yang fair) dengan backup biro, fasilitas biro dll.
    Seringkali dijumpai” biro dalam biro”, menggunakan fasilitas tenaga maupun alat kerja dari biro sebagai sarana “moonlighting” atau dikerjakan sewaktu jam kerja karena kelengahan atasan semata-mata. Ini sudah merupakan hal yang tidak dapat ditolerir. jelas merugikan biro.

    Sistim yang mungkin agak “workable”, selama ini ybs. dapat deal baik, biro memberikan back-up yang baik, bukan biro tapi nama arsitek selalu perlu dicantumkan. Kita perlu bantu sama-sama rekan untuk selalu dapat maju dalam kariernya. Perlu pengaturan dengan sistim performance related pay (PRP) pinjam istillah Reinald Kasali.
    Pengalaman pahit FLWright, yang pernah dipecat Louis Sullivan karena
    moonlighting, dapat dimanfaatkan secara gemilang dan ia meloloskan diri dari belenggu yang ia rasakan dibironya, walaupun tindakan an-sich tak dapat dibenarkan.
    Para rekan di Pendidikan juga seringkali dipanggil selaku konsultan karena keahlian dan menambah reputasi. Inipun sebaiknya perlu sepengetahuan atasannya, karena memberi timbal baik reputasi institusi. Kamipun sebagai samben ikut mengajar, menimba challenge pengetahuan dan tantangan para mahasiswa sebagai hikmah. Untuk biro menguntungkan karena reputasi ikut naik atau turun bila tidak bijak dan hati-hati. Demikian pula dengan bidang-bidang lainnya yang tidak perlu kami sebut satu per satu.

    Kesimpulannya: bila moonlighting, berilah kesempatan dengan sopan santun yang baik, proporsional mengukur dirinya dengan baik, dan bila sudah waktunya: mengundurkan diri dari bironya dengan baik-baik. Conflict of interest selalu perlu dihindari disegala bidang. Majikan perlu cari modus yang baik, format yang dapat dilandasi oleh kenyataan tanpa kehilangan grip yang baik. Menyelesaikan seadil-adilnya dan beri kesempatan berkembang utk. yang bersangkutan, walaupun terkadang hal yang disayangkan sekalipun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: