sekali lagi tentang sertifikat dan lisensi.

masyarakat pada umumnya membaca dua istilah ini sebagai hal yang sama. padahal, kalau didalami lebih jauh, keduanya berbeda. walaupun demikian keduanya memang memberikan hal yang sama untuk masyarakat, yaitu mereka akan mendapat “jaminan” bahwa pemilik sertifikat dan atau pemegang lisensi merupakan orang-orang yang bisa diyakini keahliannya dalam memberikan jasanya.

sejauh pemahaman saya, sertifikat adalah tanda bukti bahwa seseorang telah memenuhi syarat keahlian untuk berpraktik dalam bidang tertentu. sertifikat arsitek, dibaca sebagai pemegangnya adalah arsitek yang telah melalui assessment (pemeriksaan-pengujian) oleh para arsitek lainnya (peer review – review oleh sesama ahli), dinyatakan memenuhi syarat keahlian yang dituntut, dan dengan demikian dinilai mampu berpraktik sebagai arsitek. sertifikat adalah tanda bukti keahlian.

kita melihat contoh pada surat ijin mengemudi (sim). walaupun seseorang sudah bisa mengemudi, dan dinyatakan pandai mengemudi oleh, misalnya, lembaga kursus mengemudi, tetapi yang bersangkutan belum boleh membawa kendaraannya di jalan raya. ia harus memiliki sim terlebih dahulu. ini lisensi. karena seseorang sudah dinyatakan ahli, maka kepadanya bisa diberikan kewenangan untuk membawa kendaraan di area publik. lisensi arsitek serupa dengan pemahaman ini. karena ia sudah dinilai ahli dan cakap untuk berpraktik arsitektur, maka kepadanya bisa diberikan kewenangan untuk melakukan hal tersebut. kewenangan ini diperlukan karena akan bekerja di, dan untuk, ranah publik, maka akan muncul pertanggungjawaban kepada publik berikut konsekuensi hukumnya. jadi lisensi adalah tanda bukti kewenangan.

dengan demikian menjadi jelas bahwa sertifikat dikeluarkan oleh asosiasi profesinya, dan lisensi diterbitkan oleh, dalam hal praktik arsitektur, pemerintah.

dalam hal sistem kepemerintahan belum mempunyai mekanisme lisensi, maka pada waktu terbatas dapat saja, misalnya, sertifikat juga dianggap sekaligus sebagai lisensi.

Advertisements

sesekali, arsitek menerima pekerjaan dengan jadwal yang tidak masuk akal. dengan latar belakang dan situasi berbeda-beda, pilihan yang dianggap lebih baik adalah menerima pekerjaan itu, dan kemudian membuat jadwal proyek dengan produk yang sesuai seperti yang diminta pemberi tugas.

prioritas pertama yang mungkin akan dilakukan adalah pengurangan layanan jasa arsitek, tetapi dengan usaha tetap mempertahankan kualitas pekerjaan pada layanan-layanan yang tidak dikurangi. walaupun demikian kerap kali hal ini juga tidak menolong kenyataan bahwa jadwal yang diberikan memang tidak masuk akal. hampir mustahil untuk dikerjakan.

pertanyaan etika-nya adalah bagaimana menyikapi kondisi demikian?


awal tahun, saya ingin berbagi cerita tentang sikap 2 arsitek muda, sama-sama populer , tetapi, menurut saya, sama-sama tidak peduli pada etika arsitek.

yang pertama adalah dua arsitek muda yang bekerja dalam studio yang sama, dan melakukan kesalahan etika yang sama pula, yaitu melakukan pemalsuan sertifkat keahliannya. bukan mereka sendiri yang melakukan pemalsuan itu, tetapi saya berpandangan karena sertifikat itu dibuat untuk dan atas nama mereka, sudah sepatutnya mereka bertanggung-jawab pada tindakan yang dilakukan.

yang kedua melakukan kesalahan etika karena membuat interpretasi sendiri pada peraturan bangunan. sederhana; tidak ada struktur bangunan apapun yang boleh dibangun di luar garis sempadan. tetapi dengan menganggap peraturan di kompleks perumahan itu “tidak jelas” dan “developernya” juga membolehkan, maka dengan kreatif ditambahkanlah ruang baru di luar garis sempadan.

saya selaku sejawat arsitek, mempunyai kewajiban untuk mengingatkan mereka tentang kesalahan (=pelanggaran) etika yang mereka lakukan. mudah-mudahan mereka memahami hal ini. menurut saya etika itu “dalem banget” dan pilihan nurani sendiri. dengan bersikap menjunjung tinggi etika, maka kita, mereka, punya integritas dan bisa dipercaya orang banyak.

btw, kalau bicara peraturan perundang-undangan, selain etika, mereka juga melakukan pelanggaran hukum.

nah!


Happy2016s


2015 in review

30Dec15

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 21,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 8 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.


Hari-hari atau minggu-minggu belakangan ini kita disesaki oleh berita dan informasi yang memuakkan. Tukang catut, pemugaran bangunan cagar budaya yang dinilai melanggar undang-undang, ritual melawan arus  yang tanpa putus .. belum lagi sayembara design yang penuh pertanyaan, atau kisah klasik tentang pelanggaran aturan membangun.

Etika itu, kan, pilihan pribadi. Kita memilih untuk bersikap dan berbuat yang sepatutnya diterima untuk kenyamanan hidup orang banyak. tanpa paksaan. Jadi, artinya, “dalem banget” etika ini. Kewajiban moral untuk berbuat baik. Kepada sesama manusia, kepada masyarakat .. kepada apa saja. Integritas profesi -profesi apa saja, apalagi arsitek- ada di sisi yang etis ini bukan?

Kalau ada anggota orang banyak, atau anggota profesi, yang melanggar pilihan hatinya sendiri, dan menyebabkan hiruk pikuk yang menghancurkan tatanan kehidupan -langsung atau tidak, perlahan atau secepat kilat- maka terpaksa sistem sosial lain yang harus bertindak. Sistem hukum. Memaksa pelanggaran etika menjadi pelanggaran hukum dan dikenai sanksi. Supaya situasi kembali nyaman dan produktif supaya orang banyak dapat bekerja kembali untuk kehidupannya.

Dimana -dan kapan- elan ini dipelajari?


kalau didalami, etika profesi arsitek bukan hanya yang tertulis di dalam buku kode etik dan kaidah tata laku arsitek saja. bukan hanya yang tersurat.

etika arsitek, kan, pilihan kita sendiri. tidak ada “paksaan” untuk menerima. nurani arsitek sendiri yang melihat, mengamati, mendalami, dan akhirnya memutuskan bahwa hal itu adalah hal yang baik-baik. kemudian menjalaninya. dengan rela dan suka hati. menjalani panggilan nurani.

dengan demikian maka tersirat didalamnya bahwa kita, selaku arsitek, untuk berpraktik dengan baik-baik, laras dengan etikanya, mengerti betul tugas, kewajiban dan hak-haknya. apa yang menjadi kewajibannya dalam memberikan jasa arsitektur kepada pemberi tugas, sembari mengingat terus bahwa ultimate client-nya adalah masyarakat luas. apa yang diberikan kepada pemberi tugas sepatutnya adalah solusi yang estetik, baik dalam menjawab kebutuhan pemberi tugas, maupun keamanan keselamatan masyarakat, dan kenyamanan untuk orang banyak.

untuk jasa yang diberikan itu maka arsitek mendapatkan kehormatan sebagai ahli. honor. respek. oleh karena itu pula sepatutnya bayaran yang diterima disebut honorarium. bukan “sekedar” fee atau imbalan jasa.

salam dan selamat berakhir minggu.


logo - how to make

logo iai, dirancang oleh yuswadi saliya, agustus 1976.

konsep:

  • lingkaran: environment
  • terpancung: tumbuh, sesuatu yang baru, yaitu man made environment
  • huruf iai yang tersamar: lebih mengutamakan konfigurasi stuktural (stonehenge), bahwa perjuangan arsitektur (fisik) hanyalah melawan gravitasi
  • takikan-takikan: mendramatisasikan ketegangan, yaitu perpindahan gaya horisontal ke vertikal
  • runcing-miring: penuh idealisme yang dinamis